[Duka yang sesungguhnya]

532 82 1
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

"Kenapa lama banget sih kak hampir aja aku dibawa sama bapak-bapak tadi". Ucap Reina. Vita dan Reina baru saja sampai dirumahnya larut malam.

"Bisa gak diam sana kamu masuk mandi".

"Sinis amat jadi orang guekan cuma nanya".

"Kak tapi dari mana kakak dapat uang secepat itu atau jangan-jangan kakak ngejual diri".

"Enak aja kamu ngomong bukannya makasih sama kakak malah mikirin yang enggak-enggak".

"Kan itu cuma perkiraan gue, santai aja dong gak usah ngegas".

"Kakak gak ada waktu yah buat debat sama kamu sana cepat mandi terus bantuin kakak masak gak usah deh tolong liatin ayah didalam aja".

"Gik isih dih tiling liatin ayah aja didalam aja". Olok Reina saat kakaknya telah kedapur.

"Suka banget nyuruh-nyuruh". Reina mengetuk kamar Ayahnya itu.

"Ayah".

"Yah".

"Tidur kali yah, mending aku kekamar aja mandi entar aja bangunin ayah".

Reina masuk kamarnya ngambil handuk terus kedapur karena disana letak kamar mandinya.

"Kamu udah ngeliat Ayah". Ucap Vita yang melihat Reina membawa handuk bersiap untuk mandi.

"Belum, tadi aku ketuk pintunya gak ada sahutan mungkin Ayah tidur".

"Ih kamu yah disuruh ngeliat Ayah aja susuh banget". Vita langsung mematikan kompor rencananya mau ngegoreng telur tapi dia matikan sebentar terus pergi ngeliat Ayahnya.

"Dasar tukang ngomel".

Baru aja Reina masuk kekamar mandi dia dengar suara kakaknya teriak.

"Kenapa kak". Ucap Reina lari masuk kekamar Ayahnya.

"Ayah Na".

"Astaga Ayah kenapa bisa kaya gini sih".

Vita tadi masuk kekemarnya Ayahnya dan melihat Ayahnya terkapar lemas dengan darah yang mengalir keluar dari kepalanya.


























"Dok, gimana keadaan Ayah saya". Ucap Vita ia sedang berada dirumah sakit bersama Reina dan Julio.Bukan Vita yang menelpon Julio tapi Reina.

"Maaf Ayah anda tak bisa kami selamatkan beliau mengalami pendarahan dan rusak pada hatinya".

"Gak mungkin dok, Dokter bohong kan".Ucap Vita seketika kakinya melemah dengan segera Julio menahannya.

"Kak, Ayah gak mungkin gak mungkin". Tangis Reina ia terduduk. Vita yang melihatnya langsung melepas pegangan Julio dan mendekat kearah Reina dan langsung memeluknya.

"Kak, Ayah kak".

"Iya kakak tau kita harus sabar Reina". Vita memeluk hangat Reina mencoba menguatkannya padahal ia juga sangat terpuruk mendengar kabar Ayahnya meninggal.

Julio melihat kearah mereka berdua ia duduk disamping Vita mengusap pelan bahu Vita yang bergetar."Kalian yang sabar yah".

"Kak Makasih udah bantuin kita". Ucap Reina. Vita hanya diam seketika ia mengingat tentang surat perjanjiannya itu. Bagaimana hubungannya selanjutnya dengan Julio kalau ia menjadi istri kontrak Pak Dion.










































Pemakan hari ini telah selesai Julio masih setia menemani Vita dirumahnya sedangkan Reina sudah ada dikamarnya tertidur akibat kelelahan sejak malam tadi ia terus saja menangis.

"Vita kamu makan dulu". Ucap Julio yang baru aja sampai ia membelikan makanan untuk Vita dan Reina.

"Kamu taro aja nanti aku makan". Ucap Vita yang tak berminat dengan makanan yang dibawa Julio.

"Sayang, makan dulu yah dari tadi pagi loh kamu belum makan muka kamu pucat banget".

Julio menuntun Vita buat duduk dikursi meja makan. Dengan telaten Julio mengambil piring dan memindahkan makanan tadi ia beli.

"Nih makan". Vita hanya menatap makanan itu seketika air matanya mengalir dengan sendirinya.

"Kok nangis sih".

"Hei liat aku". Julio menangkup wajah Vita menghadap kearahnya.

"Udah jangan nangis ingat kamu masih ada aku sama Reina aku janji bakal ngebahagiain kalian". Ucap Julio sambil menghapus air mata Vita yang terus mengalir.

"Wo, ak..aku pengen peluk". Julio tersenyum dan langsung memeluk Vita dengan erat.

"Udah jangan nangis lagi yah kamu iklasin Ayah kamu supaya tenang dialam sana".

Vita ngangguk terus menghapus sisa air mata dipipinya. Sebenarnya bukan hanya itu alasan ia menangis tapi Vita rasanya tak sanggup untuk kehilangan sosok pria didepannya ini yang telah setahun menghiasi hari-harinya. Dengan terpaksa ia harus memutuskannya segera ini semua gara-gara surat perjanjian itu.

"Sayang jangan ngelamun terus buruan makan".

"Suapin". Vita senyum kearah Julio dan mengerjapkan sesekali matanya.

"Dasar manja". Julio mencubit pelan pipi Vita setelah itu ia langsung menyuapinya.

"Wo aku sayang banget sama kamu".

"Iya aku juga sayang sama kamu, nih makan lagi".




































"Aku pulang dulu besok kesini lagi".

"Iya kamu hati-hati yah. Wo sekali lagi makasih yah".

"Kamu gak perlu bilang makasih Ta, ini udah kewajiban aku, kan bentar lagi kamu bakal jadi istri aku".

Vita hanya diam dan tersenyum menanggapi ucapan Julio yang mustahil untuk terjadi karena perjanjian yang Vita buat dengan orang yang meminjamkannya uang. Bahkan orang itu sudah menchati dia besok untuk pergi kebutik karena minggu depan dia bakal menikah.

Sepulang Julio Vita langsung terduduk didepan pintu seketika kakinya melemah kenangan tentang ia dengan Julio terngiang-ngiang di ingatannya dan lagi-lagi air matanya keluar. Vita meraskan nyeri dihatinya. Rasanya ia tak sanggup untuk memutuskan hubungannya dengan Julio.
Kenapa ini harus terjadi sama dia.


































Kenapa ini harus terjadi sama dia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kamis.25.02.21

LOVE/HATECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang