Suasana kafe yang tidak terlalu ramai. Gracia tengah terduduk dikursi kesukaannya, pojokkan dekat jendela. Menatap sendu kendaraan yang berlalu lalang dari segala arah. Ia sangat suka dengan situasi seperti itu. Hatinya seolah damai dibuatnya.
Ditengah Gracia yang tengah duduk manis dikursi kafe, Anin kemudian datang dengan nampan yang ia bawa. Serta, secangkir coffee latte kesukaan Gracia yang selalu ia pesan dikala mengunjungi kafe langganannya itu.
Gracia menengok ke arah Anin yang kini tepat berada didekatnya. Anin yang kemudian menyimpan pesanan Gracia itu di mejanya. Gracia tersenyum kepada Anin.
"Thanks, Nin?"
Anin membalas senyuman Gracia, "Dengan senang hati, Nona Gracia."
Gracia terkekeh mendengar perkataan Anin.
"Apaan sih, Nin. Gak usah pake nona juga, kali."
Anin tidak menanggapi ucapan Gracia. Situasi kafe yang sedang tidak terlalu ramai itu, hanya tampak beberapa pengunjung saja, membuat Anin mengambil kesempatan untuk duduk bersama Gracia.
"Gimana kabarmu, Gre?" Tanya Anin disela ia menarik kursi kafe depan Gracia.
"Aku baik, kalau kamu?"
"Aku baik, kalau kamu baik juga."
"Bisa aja kamu, Nin."
"Apa sih yang enggak buat kamu, Gre."
Gracia tertawa kecil mendengar penuturan Anin. Menurutnya, Anin tidak seperti biasanya. Ia yang terlihat seperti menggodanya.
"Anin, apa sih kamu kok jadi aneh gitu, deh."
Anin menggeleng pelan kepalanya, apa yang Gracia katakan itu, tidaklah benar.
"Aneh gimana sih, Gre? Kamu kali yang aneh."
"Dih, aku aneh gimana ya mohon maaf?"
"Kamu aneh kalau kamu tuh bawaannya sedih terus, Gre. Orang seperti kamu, harusnya selalu bisa ceria. Tanpa perlu bersedih terus karena seseorang."
Gracia mengehela nafasnya pelan. Sesaat, ingatan Gracia kepada Shani perlahan menghilang. Akan tetapi, ketika ia berada di kafe yang sering ia kunjungi saat ini, ingatan itu kembali hadir dalam memori otaknya. Cerita manis bersama Shani yang terjadi dikafe ini, menjadikan kenangan itu enggan untuk pergi darinya. Namun, Gracia buru-buru menepis tentang ingatan masa lalunya itu. Ia menggeleng pelan kepalanya seraya tersenyum dengan pandangannya ke arah luar jendela dengan wajah sendu.
Gracia yang terdiam sesaat dihadapan Anin. Anin yang melihat raut wajah Gracia yang terdiam itu, memahami betul perasaan Gracia saat ini. Ia tahu, bahwa pasti ingatan Gracia kepada Shani hadir kembali dalam ingatannya.
"Gre, kok diem?" Anin melambaikan tangannya dihadapan Gracia. Gracia mengerjap seketika.
"Eh, iya, Nin? Kenapa?"
"Gre!" Anin tampak menekan nada bicaranya.
"Maaf."
"Gapapa, kok. Ini?" Anin yang berinisiatif menarik selembar tisu dari kotak tisu yang berada diatas meja kafe, berniat memberikannya kepada Gracia. Ada dugaan darinya bahwa Gracia akan menangis kembali gara-gara ingatannya tersebut.
"Gak kok, Nin. Aku gapapa. Akhirnya, perlahan aku bisa gak terlalu sedih kalau aku inget, Shani."
"Iya kah?" Anin yang berusaha memastikan dengan ucapan Gracia. Gracia mengangguk pelan sebagai jawaban iya.
"Karena kamu, Nin." Jawabnya kembali seraya tersenyum.
Entah benar atau tidaknya dengan perkataan Gracia. Anin tersenyum mendengar ucapan Gracia. Apa yang selalu ia katakan kepada Gracia, dan selalu ia nasihati bahwa dirinya tidak harus terus menerus untuk menangisi sosok Shani, tampaknya bisa merasuki ke dalam hati kecil Gracia.
KAMU SEDANG MEMBACA
22.22 (END)
Romance"Waktu itu kamu pergi tanpa permisi, kenapa sekarang harus repot-repot kembali, Shani?" "Ada banyak hal yang gak kamu mengerti, Gracia." "Dan, ada banyak hal yang kamu gak mengerti tentang gimana perasaan aku selama 2 tahun lebih menahan sakitnya y...
