13 | Informasi dan Kecurigaan
Kringgg!!!
Suara alarm yang begitu keras membuat Ara terjaga. Begitu ia membuka mata, seberkas sinar langsung memasuki matanya. Teraduh pelan sambil beranjak duduk, ia menutup matanya dengan telapak tangan.
"Sorry, alarm gue terlalu keras." Clara tertawa kecil. Gadis itu mematikan alarm di nakas lalu meregangkan badannya. "Tidur lagi aja, sana."
Ara membuka matanya sedikit demi sedikit lalu mendecih, "Gue kalo udah bangun nggak bisa tidur lagi."
Clara tergelak.
"Ini jam berapa, sih?"
"Jam 7."
"Kalo Sabtu lo emang bangun sepagi ini?"
"Kan, gue rajin," jawab Clara sambil menjulurkan lidahnya. Gadis itu menyisir rambut pendeknya dengan jari.
Ara memeluk lututnya sambil mengamati ruangan yang sedang ditempatinya. Kamar tidur kecil dengan kasur 2 in 1 yang menempel pada salah satu sisi, dan lemari baju yang lumayan besar di sisi lain. Jendela dengan tirai terbuka sebagian, yang mengizinkan sinar mentari menyelinap masuk. Meja belajar tertata di sebelah lemari baju. Berbagai memo maupun kata-kata motivasi tertempel di atasnya, khas pelajar.
"Kalo lo nggak mau tidur lagi, kita turun aja, yok." Clara menepuk kasur dan melipat selimut. Tirai yang terbuka sebagian disingkapnya hingga terbuka lebar.
Ara ikut membereskan tempat tidurnya.
Clara membuka pintu kamar sambil menguap lebar. "Kamar mandi di sana," katanya sambil menunjuk ruangan yang dimaksud.
Keduanya berjalan menuruni tangga, bergegas menuju dapur.
"Kalo pagi gue emang biasa cepet-cepet turun. Biar bisa sarapan bareng Papa," jelas Clara tentang kebiasaan keluarganya.
"Sama mama lo juga?"
"Mama gue udah meninggal pas gue 3 tahun."
Ara mengatupkan mulutnya, merutuk diri karena kecerobohannya.
Bagai membaca pikirannya, Clara tertawa kecil sambil berkata, "Gapapa, woi. Lagian lo nggak tahu. Kan, gue belum pernah cerita."
Kedua gadis itu sampai di lantai dasar. Dapur rumah Clara tak tersekat dinding, sehingga menyatu dengan ruang tamu dan ruang makan. Rumah Clara memang tak besar, namun terasa lapang.
Wangi masakan memenuhi rumah. Ayah Clara memindahkan nasi goreng yang baru dibuatnya ke dua buah piring. Begitu mendengar suara langkah seseorang, ia berbalik.
"Pagi, Nak."
Ayah Clara telah terbalut seragam polisi yang dihiasi tiga bintang berwarna emas pada bagian bahunya. Lelaki berusia 40-an itu sedikit terkejut melihat keberadaan Ara di rumahnya.
"Pagi, Pa. Btw, ini Ara."
"Kamu yang kemarin diculik, kan? Kok, di sini?" bingung lelaki itu. Ia kemudian menatap dua piring sarapan yang baru dibuatnya. Dengan sigap ia mengambil sebuah piring lagi, membagi rata agar Ara juga mendapat porsi sarapan.
"Nggak tahu, nih, Pa. Tadi subuh dia dateng."
Papa Clara menaruh ketiga piring itu di atas meja makan. "Makan dulu, yuk."
Ara sungkan menerima sarapan itu.
"Makan aja, Ra," ucap Clara cepat. Ingin secepat mungkin mengusir rasa penasaran, Clara bertanya, "Lo beneran diusir dari rumah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
AraBella [END]
Teen FictionAra dan Bella, kembar identik yang diperlakuan berbeda oleh kedua orangtuanya. Seorang menjadi kambing hitam dalam keluarga, seorang lagi menjadi anak emas. Apa alasannya? Sampai sekarang pun kedua gadis itu masih bertanya-tanya. Cerita ini diikutse...
![AraBella [END]](https://img.wattpad.com/cover/265752996-64-k170716.jpg)