[12] Dini Hari

54 4 15
                                        

12 | Dini Hari

Bunyi kunci diputar dari pintu utama dapat tertangkap telinga Ara. Dini hari memang sangat sunyi, sehingga suara sejauh apapun bisa terdengar olehnya. Ara duduk di salah satu anak tangga sambil mengusap lengannya kirinya lagi. Album foto yang dilihatnya bersama dengan Bella dan Rum membuat pikirannya teralih. Rasa sakit itu hilang sementara namun kembali lagi.

Sreeet.

Kotak besar yang menutupi pintu ke ruang bawah tanah digeser.

Ara dapat menerka siapa yang mendorongnya.

Benar seperti perkiraannya, wanita yang mengaku sebagai ibunya muncul membuka pintu yang tertanam di lantai dan menatap Ara di dalamnya. Wanita itu berbalik setelah mengibaskan tangannya, menyuruh Ara keluar dari ruangan itu.

Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya. Tak biasanya dia langsung dikeluarkan. Biasanya ia akan dibiarkan terkurung sampai matahari terbit.

Tanpa mengeluarkan pertanyaannya, ia mengikuti sang ibu dan berdiri di hadapannya.

Mama melipat tangannya di depan dada, memasang wajah kesal. "Tadi saya sudah diskusi dengan papa Bella. Karena ini salah kamu, kamu harus tanggung jawab."

Hah, salah siapa? bingung Ara.

"Keluar sana."

Ara mengerutkan kening. "Sekarang? Ini baru jam 2 pagi."

Wanita itu melayangkan tamparan pada wajah Ara. "Keluar dari rumah ini! Masih tidak jelas?!" bentaknya.

Sambil memegangi pipinya yang ditampar tanpa alasan, ia menyengir. "Kenapa nggak dari dulu aja?"

Wanita itu mendengkus. "Kamu pikir sejak dulu kami tidak bisa usir kamu, hah? Kami tampung kamu di sini sampai sekarang gara-gara Bella. Untung aja sekarang dia tidak nempel lagi sama kamu."

Ara teringat kembali kejadian di umur 7 tahun, pada hari ulang tahunnya dan Bella. Sejak pagi hingga siang, kedua 'orangtuanya' membawa Bella jalan-jalan. Mungkin di saat itulah Bella mengajak mereka berfoto bersama di sebuah studio foto. Begitu mereka pulang, Bella mengajak mereka pergi ke sebuah taman bermain.

"Ma, Bella belum puas. Ayo, pergi lagi! Bella mau main komidi putar," ajak Bella.

Mama berjongkok di hadapan Bella kecil dan mengelus rambutnya. "Bella mau ke sana?"

Bella mengangguk cepat. Ia menoleh ke arah Ara yang sedang mengintip dari jauh. "Kak Ara, Mama Papa mau bawa kita ke taman bermain. Kakak juga harus ikut!"

Mata Ara berbinar-binar. "Boleh?"

Mama hendak melarang namun terpotong oleh Bella.

"Boleh! Ayo, kita pergi."

Ara menikmati wahana di taman bermain itu. Gadis kecil ini merasakan betapa bahagianya menghabiskan waktu ulang tahun bersama orangtua yang tak pernah memberikannya waktu.

"Ara, kamu duduk di sini dulu, ya. Bella sakit perut, jadi Papa dan Mama harus bawa dia ke toilet dulu."

Ara mengangguk, tanpa kecurigaan apapun.

Matahari yang awalnya masih tinggi lama-kelamaan menghilang. Langit mulai berwarna jingga kemerah-merahan. Ara kecil mulai merasa kalau orangtuanya tak akan kembali lagi.

Itulah ingatan yang ingin dibuangnya. Di hari bahagia, kali pertama ia menghabiskan waktu bersama keluarganya, ia ditelantarkan di taman bermain, menunggu orang yang tak pasti kapan datangnya.

AraBella [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang