Sudah satu Minggu lebih sepasang ayah dan anak itu menjalani karantina mandiri. Jika ditanya mengapa hanya 9 hari jika biasanya 14 hari, tentunya karna ia menggunakan pesawat pribadi serta dokter profesional yang memantau selama karantina mandiri dan selama 9 hari itu tidak mengalami gangguan kesehatan.
Keduanya memasuki mobil yang sudah stay didepan hotel mereka.
"Selamat datang tuan dan nona" ucap sang sopir pribadi keluarga Park yang dibalas anggukan oleh nana
"Apa orang rumah tau saya keluar sekarang" tanya Xavi pada sopirnya.
"Tidak tuan sepertinya. Nyonya Park pergi ke kantor tuan besar sedangkan yang lain di kediaman masing-masing" ucapnya dan dibalas anggukan oleh Xavi.
"Apakah ada banyak orang dad?" Tanya Aruna pada ayahnya.
"Hanya nenek dan kakek. Uncle mu di apartemen meskipun terkadang berkunjung kalau luang, dan uncle yang lain ada di kediamanya sendiri" ucapnya pada Aruna
Tak lama mobil yang ditumpangi Aruna memasuki sebuah kediaman yang dibilangi cukup luas dan besar. Xavi menoleh kearah Aruna yang ternyata sudah terlelap menampilkan senyum haru di jawahnya, ia pikir ia akan seumur hidup tanpa keturunan namun Tuhan berkata lain, sungguh ia akan berusaha sekuat mungkin menjaga titipan-Nya.
Tanpa berniat membangunkannya, Xavi menggendong Aruna menuju ke rumah. Pelayan dan penjaga yang berpapasan denganya membungkuk memberi sapaan hormat.
"Ah iya bersihkan kamar disebelah kamar saya" ucap Xavi pada pelayan yang berpapasan denganya.
Ia membawa Aruna ke kamarnya,meletakan dengan pelan lalu mengecup keningnya. Xavi mengganti baju dengan pakaian yang lebih santai, kemudian ia melangkah turun menuju pantry untuk mengambil air dingin.
Tak lama terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa menuju kearahnya
"OMG Xavi, dimana cucu perempuan ku?, Dimana?" Tanyanya sambil menggoyangkan lengan sang anak yang sedang meminum air.
"Tenangkan dirimu." Ujar seorang lelaki pada istrinya,kemudian beralih menatap sang anak "Kau sudah pulang son?, bagaimana kabarmu?" Tanya seorang lelaki yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu.
"Yang seperti dad lihat" ujar Xavi membalas sapaan ayahnya.
"Jadi, dimana cucuku?" Tanyanya penasaran pada tentang cucu perempuan satu-satunya itu.
"Dia sedang tertidur mom dikamar ku, bi-" ucap Xavi terpotong saat sang ibu sudah tak ada dihadapannya. Sedangkan respon suaminya hanya menggeleng melihat istrinya begitu antusias melihat cucu perempuan satu-satunya itu.
"Biarkan anaku istirahat mom, dia baru saja selesai kelas saat pulang kemari" ujar Xavi yang berdiri di pintu kamarnya.
Sedangkan sang ibu duduk di pinggir tempat tidur menatap Aruna dan mengelus kepalanya pelan.
"Dia sungguh menggemaskan" ucapnya sambil mengelus kepala Aruna mengabaikan ucapan anaknya itu.
"Kau benar sayang" ucap sang suami membenarkan ucapan istrinya. "Bagaimana kalau kau memasakan makanan spesial untuk cucuku ini" tawar sang suami pada istrinya.
"Hey dia juga cucuku tau" ucapnya pada sang suami "baiklah tunggu sebentar aku akan memamerkan pada teman-teman ku" ujarnya lalu memotret Nana yang sedang tertidur pulas.
Sepasang suami-istri itu sudah keluar,hanya tersisa Xavi yang tersenyum memandang anak gadisnya
Berharap ia cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Sudah pukul 6 sore di Korea berarti di Indonesia pukul 4 sore. Aruna menetralkan cahaya yang memasuki retina matanya, ia terduduk mengamati ruangan disekitarnya
Ini kamar siapa, bukanya gue dimobil tadi. pelor banget gue jadi orang-batinya merekutuki kebodohannya
Pintu kamar terbuka, Xavi tersenyum dari pintu saat menampilkan muka bare face sang anak.
"Kau sudah bangun baby girl?" Tanyanya sambil mendekat.
"Hemm" balas Aruna sambil mengumpulkan nyawanya.
"Bersiaplah, setelah ini kita turun." Ucapnya dan diangguki Nana. "Sebentar daddy ambilkan baju dulu" ucapnya kemudian menuju kamar sebelah.
Aruna berdiri di depan kaca, ia mengenakan dress di bawah lutut dengan tali spageti yang menggantung di bahunya, riasan sederhana serta rambut hitam yang di gerai. Jika ditanya mengapa ia mengenakan dress seperti itu tentu jawabannya sedang musim panas disana, jika di Indonesia jam 6 sudah petang dan gelap, tetapi tidak di sana masih terlihat terang seperti jam 4 sore di Indonesia.
"How about it dad?" Tanya Aruna pada ayahnya.
"So pretty girl" ucapnya kemudian mencium kening Aruna.
Mereka turun bersama dan langsung disambut sepasang suami-istri paruh baya yang tak lain kakek neneknya.
"OMG his is so beautiful" ujar wanita tersebut menyeruakan kekagumannya.
"Hello my name Felix Alexander, your grandpa " ujar lelaki tersebut yang tak lain kakeknya itu. Tersenyum dan mengecup kening Nana, bagaimanapun ia begitu senang keturunannya ada yang bergander perempuan itu
"I'm park Cho-rim, your grandma. " ujar perempuan tersebut begitu antusias. Kemudian membawa Nana keruang keluarga. Sedangkan kedua lelaki itu mengikuti dari belakang.
Dan yeah, setelah perkenalan singkat mereka dengan Aruna, mereka semakin akrab meskipun masih dengan bahasa Inggris tapi untungnya itu tidak menjadi masalah.
Sekarang mereka sedang ada di ruang keluarga setelah menjalani makan malam bersama.
Felix dan Xavi yang berdiskusi tentang perusahaan dan bisnis sedangkan Aruna memperhatikan neneknya yang sedang memangku sebuah album foto.
"Ini nenek dan kakek daddymu. Sejak dulu ia tinggal bersama orang tua granpa tak heran jika sifatnya keras begitu hemm" ujarnya sambil mengelus kepala Aruna sambil foto Xavi bersama kakek neneknya.
"Kalo ini granma??" Tanya Aruna sambil menunjuk foto lainya.
"Yang ini adik Daddy dan yang bayi ini adalah anak bungsu granma." Ujarnya dan dibalas anggukan oleh Aruna.
KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION - ARUNA ADHARA
Diversos"gini nih gue jelasin sini,khusus buat yang diselingkuhin" ucap nana sambil maju menuju papan tulis "ibaratnya gue 80% dan si selingkuhan 20%. Cowok gue udah dapet 80% tapi dia nyari seseorang yang bisa melengkapi kekosongan itu" "berarti bener do...
