18. BERSEPEDA DAN SEBUAH KECUPAN

2.3K 196 48
                                        

Minggu terakhir di bulan kemarau dan memasuki awal bulan gugur. Sepasang ayah dan anak itu masih mengayuh sepeda masing-masing saling bersisihan,
"Masih kuat?" Tanya Xavi menoleh ke putrinya

"Heem huh" ucapnya terengah-engah.

Setelah dirasa cukup mereka berhenti di arena taman sungai, menetralisir pernafasan mereka sekalian memulihkan tenaga.
"Dad aku lapar" ujar Ara

"Kita makan dirumah heum, Daddy ke sana dulu membeli beberapa makanan untuk mengganjal perut" ujarnya sambil menunjuk sebuah mart.

Ara jadi  teringat dengan keluarganya,Zidan dan teman-temannya. Bagaimana kabar mereka?.
Hidup di negara orang dengan bahasa dan segalanya yang berbeda menjadi tekanan bagi dirinya tersendiri, ia tak ingin merepotkan keluarganya lebih lama, ia harus mandiri dan menikmati hidupnya yang ia jalani sendiri.

Saat asik bernostalgia kakinya ada yang menjilat sesekali sebuah bulu terasa berputar dikakinya.
Setelah ia lihat ternyata sebuah anjing putih berbulu lebat, senyumnya merekah lalu menggendongnya
"Lucunya. Dimana tuanmu?" Tanyanya pada aning tersebut. Dan hanya dibalas satu gonggongan.

"Aish kau disini ternyata anjing nakal" ujar seorang perempuan sambil menormalkan pernafasannya.
"Akh maaf nona itu anjing saya" ujarnya sambil menunjuk anjing yang ada di dekapanya.

"Ah iya silahkan, tadi saya menemukannya di bawah" ujarnya sambil menyerahkan anjing itu.

"Ah iya terimakasih, kalo begitu permisi nona sampai jumpa lagi" ujarnya sambil melambaikan tangan hanya dibalas anggukan oleh ara

"Maaf lama baby, Daddy harus mengantri" ujar Xavi saat tiba di depan Ara.

"Tak masalah dad, terimakasih daddyku sayang" ujar Ara sambil mengedipkan mata.

"Wow genit sekali putri Daddy ini" ucapnya pada sang Putri.

"Udah dad ayok balik" ajak Ara.

Keduanya kembali menuju kediaman diselingi canda tawa.
"Mandi dulu habis itu makan, Daddy tunggu di meja makan sayang" ujar Xavi lalu mencium kening Ara dan  menuju kamar masing-masing.

"Bagaimana sayang tadi bersepeda?" Tanya nyonya Alexander pada cucu perempuanya yang baru turun dari kamarnya dan langsung menuju grandmanya yang berada di ruang makan

"Menyenangkan grandma." Jawab Ara.

"Akh syukurlah. Ah iya Xavi adikmu- wah kau sudah sampai ternyata anak nakal" ujarnya terpotong saat melihat sang anak datang. Sedangkan Ara melihat sesosok lelaki yang langsung datang dan mencium grandmanya dengan tatapan polos

"Hais anak ini. Yakk kenapa sulit sekali kalau disuruh kerumah hah!" Omel nyonya Alexander pada anak-anaknya itu.

"Aku minta maaf eomma" ujarnya tulus. Lalu pandangannya beralih ke manik mata Aruna.
"Jadi dia keponakan ku?" Tanyanya

"Bukan. Dia anaku" ujar Xavi datar.

"Hais dasar pak tua" ujarnya pada Xavi.

"Sayang, dia pamanmu seung-hwan. Agak gila tapi tak masalah. Hehe" ujar grandma pada Ara sambil terkekeh di akhir.

"Aahh hello uncle" ujar Ara sambil memberi salam khas negri ginseng itu

Cantik- batinnya berujar saat menatap manik mata Ara. Bagaimana tidak terlahir dari visual yang menawan bercampur dengan darah 3 negara.

"Jangan panggil uncle, panggil oppa" ujarnya pada Ara.

"Eat this baby. Stop talking with he" ujarnya pada Ara sedangkan seung-hwan melirik sinis pada kakak tertuanya itu.

Malamnya mereka berkumpul di ruang keluarga dengan Ara yang bermain game bersama pamanya dan Xavi yang bermain dengan tab-nya sedangkan tuan besar dan nyonya sedang mengunjungi jamuan malam bersama rekanya.

"Hiss curang" ujar Ara pada lamanya saat ia mengalami kekalahan.

"Mana ada. Kamu kurang handal sayang" ujarnya pada Ara sambil mengusap kepalanya.

"Dad liat oppa mengejeku" adunya pada Xavi.

"Biar saja nanti dad hajar." Ujarnya pada Aruna sambil mengganti game yang dimainkan dengan sebuah film.

"Sini duduk sambil Daddy" perintahnya pada Ara dan langsung dilaksanakan oleh ara.

"Seung-hwan tolong ambilkan susu" pintanya pada adiknya. Sedangkan Ara sudah bersandar di lengan sang ayah.

"Minumlah" ujar Xavi pada Aruna

Tak lama kemudian Aruna tertidur di dekapan sang ayah.
"Jadi dia benar-benar anakmu hyung" tanyanya penasaran.

"Kenapa memangnya?" Tanya Xavi balik.

"Aneh saja bagaimana gadis selembut dia memiliki ayah yang seperti iblis" ujarnya lirih namun masih bisa didengar Xavi.

"Tapi bagaimana kau menemukannya. Dan bagaimana dia bisa bersamamu sekarang?. Tapi bagaimana jika ia meninggalkanmu jika dia tau kelakuanmu itu heh?" Tanya pada Xavi.

"Bagaimanapun itu kau tak perlu tau dan dia tidak akan pergi selamanya." Ujar Xavi.

"Baiklah baik terserah padamu." Ujar Seung-hwan kalah.

"Kau akan menginap berapa lama?" Tanyanya sambil menatap layar tv.

"Selamanya bersama Ara" ujarnya sambil menatap Ara.

"Cih, jangan harap" ujar Xavi sinis

"Hyung" panggil seung-hwan serius dan hanya dibalas gumaman oleh Xavi
"Selama ini aku tak pernah minta apapun darimu sebagai adik, bolehkan aku tidur dengan Ara" pintanya yang membuat Xavi menatapnya bertanya.

"Alasan" ujar Xavi singkat.

"Ayolah seumur hidupku mana pernah aku meminta sesuatu padamu. Biarkan aku tidur dengan ponakanku" pintanya sungguh-sungguh.

Xavipun menghela nafas, benar memang jika adiknya satu ini tak pernah meminta apapun darinya. Dengan berat hati ia pun mengizinkannya.

Dengan girang Seung-hwan memgendong Ara.
Ia menidurkan Ara di kamarnya lalu duduk disamping dan memandangnya tulus.
Ia melepas kaos dan hanya tersisa celana ditubuhnya, kebiasaan memang ia ketika tidur hanya bertelanjang dada.

Ia membawa Ara kedekapanya dan tersenyum tipis, tanganya terulur mengusap pipi dan beralih ke bibir ranum milik keponakannya.

"Sleep well baby" ujarnya lalu memberikan kecupan di bibir dan dahi Ara.

***


DANDELION - ARUNA ADHARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang