Setelah beberapa lalu membahas perizinan tentang tempat les, Aruna akhirnya mengambil 2 les yaitu yang wajib les bahasa Korea dan les bela diri.
Hari ini ia telah melakukan rutinitas kurang lebih 1 Minggu sejak dimulai. Ia baru keluar dari tempat les-nya bersama murid² lainya, kelas yang berjejer selayaknya tempat sekolah namun ini hanya tempat les, sekali lagi tempat les.
"Aku duluan" ujar Ara pada kawannya. Ia juga sudah mempunyai beberapa teman, beruntungnya memiliki sifat extrovert.
"Mari nona" ujar sopir Aruna sambil membukakan pintu.
"Paman, hari ini kelas beladiri ku libur. Bagaimana jika kita berjalan kaki sambil mencari street food" tawar Aruna pada sopir sekaligus bodyguardnya.
"Tapi perintah tuan Xavi harus langung pulang nona" tolak halus sang bodyguard yang biasa dipanggil Ara paman itu.
"Ayolah paman. Jangan kasih tau Daddy, sekali saja. Hemm" ucapnya sambil mengeluarkan puppy eyesnya.
Dengan berat hati pun sang bodyguard mengangguk mengiyakan permintaan nona mudanya. Kemudian ia mengambil topi di mobil.
"Pakai ini" ujarnya sambil memakaikan topi putih polos pada kepala Aruna.
Keduanya menaiki bus lalu berhenti di salah satu halte dan melanjutkan perjalanan dengan dengan berjalan santai sesekali mencoba makanan di kedai pinggir jalan.
"Paman aku mau coba itu" ujar Ara sambil menunjuk makanan yang berkuah merah.
"Aish jadi kangen seblak sama pop ice" -batin Ara.
"Paman aku mau itu" tunjuk Aruna pada makanan yang menyerupai sate.
"Paman mau itu." Ucap Aruna sambil menyeret sopirnya itu
Beberapa makanan sudah ia lahap, bahkan bodyguard yang menyerempet sebagai sopir itu pun geleng-geleng melihat porsi makan Aruna.
Bagaimana bisa badan sekecil itu mempunyai porsi makan yang begitu besar, apalagi yang berlari kesana-kemari seperti anjing kecil saat menemukan hal-hal yang belum pernah ia temui sebelumnya, begitulah kira-kira pikir sang bodyguard.
Langit sudah menggelap namun tak diindahkan oleh Aruna, padahal sudah berulang kali sopirnya itu mengingatkan waktu pada nonanya.
"Baiklah paman, ini yang terakhir. Ayo mencoba itu" ujar Aruna sambil menunjuk kedai makanan yang dibilang cukup ramai.
Saat menikmati hidangannya, Ara tersedak saat melihat lelaki yang duduk didepannya. Segera ia memberikan segelas air pada Ara.
"Menikmati jalan-jalannya hemm?" Tanyanya lembut namun terasa meremang di telinga Aruna.
"I'm sorry dad. But, lebih baik minta maaf daripada minta ijin. Aku tau mesti Daddy tak mengijinkan aku melakukan ini kan" ujar Aruna sambil menunduk.
"Its okay. Lain kali kalau mau apapun kasih tau Daddy. Tidak perlu sungkan, Daddy hanya memastikan kamu tidak apa-apa" ujarnya sambil mengelus puncak kepala Ara.
"Oke dad. But, i love it. Petualangan yang menyenangkan dan mengenyangkan. Bagaimana Daddy tau aku disini?" ujar Ara sambil tersenyum yang membuat Xavi ikut tersenyum lalu menampakkan raut bingung secara bersamaan
"Daddy hanya lewat dan tak sengaja melihat Ara" ujarnya lembut padahal ia sudah memasang pelacak di ponsel Ara dan bodyguardnya secara diam-diam.
"Besok Daddy libur?" Tanya Ara sambil menyantap makanannya. Sedangkan Xavi menatap putrinya itu lembut.
"Hemm iya sepertinya. Ada apa?" Tanyanya pada Ara.
"Besok pagi bersepeda bersama. Mau? Kalo Daddy sibuk aku bisa mengajak paman untuk menemaniku" Ajak Ara pada ayahnya ragu. Pasalnya, Xavi memang orang yang gila kerja dulunya jadi Ara paham mungkin rutinitas yang dijalani beberapa tahun bisa menjadi sebuah kebiasaan tersendiri.
"Tentu baby" ucapnya menyetujui ajakan Ara sambil mengelap sisa makanan dimulut Ara. Bagaimana bisa ia membiarkan bawahannya menghabiskan lebih banyak waktu dengan putrinya itu.
"Daddy tidak ingin mencoba?" Tanya Ara sambil menyuapkan makanan di depan mulut Xavi.
Dengan sigap ia menerima suapan dari putrinya meskipun baru pertama kali ia mencoba street food semasa hidupnya. Maklum saja ia lahir dari kalangan sendok emas maksudnya keluarga konglomerat kaya raya.
"Not bad" gumamnya saat menikmati suapan dari Ara lagi.
Aruna tersenyum, menyenangkan berwisata kuliner malam hari. Mungkin lain kali ia akan mencobanya sendiri.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION - ARUNA ADHARA
Random"gini nih gue jelasin sini,khusus buat yang diselingkuhin" ucap nana sambil maju menuju papan tulis "ibaratnya gue 80% dan si selingkuhan 20%. Cowok gue udah dapet 80% tapi dia nyari seseorang yang bisa melengkapi kekosongan itu" "berarti bener do...
