❤️ Rasa

1.3K 127 4
                                        

Setelah kejadian itu hubungan mereka semakin hari kian membaik. Bahkan, akhir- akhir ini mereka selalu keluar malam bersama. Neandro tak bisa menyimpan perasaannya lagi. Entah kenapa, semakin hari dia semakin menginginkan Naomy.

Hari ini adalah hari ulang tahun Naomy, ini adalah kesempatan bagus untuk Neandro memberikannya kejutan serta mengatakan perasaannya kepada wanita itu.

Neandro menutup mata Naomy menggunakan sehelai kain hitam.

"Neandro, kau mau membawaku kemana?" tanya Naomy.

"Kau akan tahu nantinya." sahut Neandro menuntun wanita itu.

"Apa yang kau rencanakan? Kau mau mengerjaiku?"

"Kita lihat saja nanti."

Mereka berjalan menaiki sedikit tangga. Tempat apa yang akan ditunjukkan oleh pria itu?

"Kita sudah sampai." ucap Neandro membuka kain penutup mata wanita itu.

"Surprisee!!"

Naomy tak percaya, melihat dekorasi pesta yang sangat indah, disana juga ada sebuah kue ulang tahun dan berisikan lilin sesuai umurnya.

"Neandro ini..."

"Happy birthday to you..., happy birthday to you..., happy birthday..., happy birthday...., happy birthday to you..." pria itu menyanyikan lagu ulang tahun untuk wanita dihadapannya.

"Bukankah sekarang hari ulang tahunmu?"

Naomy mengangguk, tak menyangka pria itu tahu sekarang hari ulang tahunnya.

"Ayo tiup lilinnya. Tapi sebelum itu buatlah sebuah permohonan."

Naomy memejamkan matanya mulai mengharapkan permohonan. Dia langsung meniup lilinnya.

"Yeyyy..." ucap pria itu senang.

"Terimakasih Neandro." Refleks Naomy langsung memeluk pria dihadapannya. "Aku sangat terharu untuk ini." ucapnya meneteskan air mata bahagia.

"Sudahlah, ayo kita potong kuenya."

Naomy mengangguk, mulai memotong sebagian kecil kuenya.

"Potongan yang pertama untukmu." ucap wanita itu memberikan Neandro kue.

"Suapi aku."

"Ishh, kenapa kau manja sekali?" gerutu Naomy. Dia tersenyum menyuapi pria itu sepotong kuenya.

"Aku akan menyuapimu juga." ucap Neandro menyuapi wanita dihadapannya.

Naomy hanya tersenyum, membiarkan pria itu menyuapinya.

"Aku tidak menyangka kau tahu hari ulang tahunku."

"Tentu saja, bahkan aku sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari."

"Benarkah?"

Neandro hanya tersenyum menatap wanita dihadapannya. Dia mengusap lembut bibir wanita itu yang terkena noda kue.

"Ada hal penting yang harus kukatakan padamu."

"Katakan saja, apa itu?" tanya Naomy penasaran.

Perlahan Neandro menggenggam tangan wanita itu erat, menatap lekat wanita dihadapannya.

"Maukah kau menjadi kekasihku?" ucap pria itu serius.

Naomy terpaku, terdiam sesaat.

"Neandro, apa yang kau katakan? Jangan bercanda."

Neandro semakin mendekat kearahnya.

"Aku serius." ucap pria itu.

"Aku menyukaimu Naomy, aku menyukaimu semenjak pertama kali kita bertemu."

"Bukankah kau pernah menanyakan bagaimana wanita idamanku?"

"Tipe idamanku wanita sepertimu. Aku menginginkanmu Naomy. Aku mencintaimu." kata pria itu serius.

Naomy terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa saat ini.

"Itu..."

Neandro semakin mendekat kearahnya, tanpa disadari bibir pria itu bersentuhan dengan bibir Naomy. Pria itu mulai melumat bibir wanita dihadapannya, tangannya menarik tubuh Naomy sehingga tidak ada celah diantara mereka.

Neandro kembali memperdalam ciumannya, sampai- sampai tubuh Naomy menyentuh dinding disana.
Naomy terdiam, membiarkan pria itu melakukannya. Entah kenapa dia tidak ingin memberontak sedikitpun.

Kedua insan tersebut bernapas terengah-engah kehabisan napas. Neandro mengusap anak rambut wanita itu, kembali tersenyum menatap wanita dihadapannya.

"Naomy maukah kau menjadi kekasihku?"

Naomy terdiam menundukkan wajahnya. Namun, Neandro menyentuh dagu wanita itu agar mendongak kearahnya.

"Naomy..."

"Aku kira ini salah Neandro." ucap wanita itu menjauhkan tubuhnya.

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu, kau juga menyukaiku kan?" tanya Neandro.

"Tidak, Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat tidak lebih dari itu. Aku tidak memiliki perasaan apapun untukmu."

Neandro terdiam setelah mendengar jawaban wanita itu. Tanpa disadari kotak beludru merah yang di bawanya jatuh kelantai.

"Maafkan aku, aku tidak ingin melanjutkannya lagi."

"Kita disini hanya sebagai teman, tidak lebih dari itu."

"Kau berbohong kan? Kau menyukaiku juga kan? Kenapa kau selalu mengajakku keluar tiap malamnya?" tanya Neandro menuntut jawaban dari wanita itu.

"Tidak, aku menyukaimu hanya sebagai sahabat dekatku. Aku merasa nyaman denganmu karena pertama kalinya aku mempunyai sahabat pria yang akrab denganku."

"Naomy, jangan berbohong.."

"Jangan paksa aku!" pekik wanita itu.

"Maaf, aku harus pergi sekarang. Terimakasih untuk semuanya." ucap wanita itu meninggalkan Neandro.

"Tunggu!"

Neandro mengambil kotak beludru yang dibawanya.

"Ini ada hadiah untukmu." ucap pria itu pura-pura tegar. "Bolehkah aku mengalungkan ini di lehermu?"

Naomy hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Neandro langsung mengalungkan kalung emas itu di leher Naomy.

"Anggap saja ini hadiah terakhir dariku. Mulai saat ini aku akan menjauh dari hidupmu. Semoga kau juga menemukan pria yang tepat untukmu..."

"Sahabatku." ucap Neandro tersenyum getir.

Naomy berlari keluar dari restoran itu, langsung memasuki taksi yang sudah menunggunya. Tanpa disadari buliran bening membasahi wajahnya.

'Apa ini salah?' batinnya menatap pria yang mulai menjauh darinya.

Bersambung...

NeandroCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang