Beberapa hari kemudian...
Neandro memutuskan untuk mengajak Naomy tinggal di apartemennya. Memang, apartemen ini milik keluarganya, waktu dia kuliah disini Neandro juga tinggal di apartemen ini. Mereka memutuskan pulang ke Indonesia beberapa hari lagi, agar keadaan Neandro bisa pulih kembali.
"Kita akan tinggal disini sementara," kata pria itu.
Naomy hanya mengangguk menyetujuinya.
"Ayo kita masuk," ajak Neandro.
Mereka memasuki apartemen itu, Naomy kagum, mengedarkan pandangannya melihat apartemennya sangatlah mewah dan luas. Terlihat seorang maid yang berusia paruh baya segera menyambut mereka.
"Selamat datang tuan muda."
"Selamat datang nona," ucapnya ramah kepada Naomy.
Naomy tersenyum, menyapanya kembali.
"Dia bi wati, beliaulah yang selalu menjagaku disini, dia tinggal disini bersama anaknya dan suaminya mengurus apartemen ini. Namun, suaminya sudah meninggal gara-gara kecelakaan," jelas Neandro mengenalkan maid itu.
Naomy hanya mengangguk mendengar penjelasan Neandro.
"Dimana putrimu? Apa dia sudah belajar dengan benar?"
"Berkat dukunganmu tuan muda, dia bisa kuliah kedokteran sekarang. Aku tak menyangka anak seorang pembantu sepertiku bisa berpendidikan tinggi."
Neandro tersenyum mendengarnya. "Tidak ada yang tidak mungkin bi, dia sangat pintar, dan pantas mendapatkannya."
Maid itu hanya tersenyum mendengarnya, sungguh sangat beruntung menjadi bagaian dari keluarga Alanda, bayangkan mereka tidak segan-segan menyekolahkan anak pembantu dengan pendidikan setinggi- tingginya, dan kemungkinan jika anda menjadi menantu di keluarga itu hidup anda auto menjadi ratu.
"Baiklah, kami ke kamar dulu," pamit Neandro. "Ayo Naomy ikut denganku," ajaknya.
Naomy mengangguk, mengekori pria itu memasuki sebuah kamar.
"Ini kamarmu, kau bisa tidur disini,"
Naomy menatap lekat pria dihadapannya.
"Kita tidak sekamar?"
"Sekamar? Apa maksudmu?"
"Aku masih trauma tidur sendirian, aku selalu terbayang kejadian itu tiap malamnya. Aku sangat takut."
"Jadi, kau ingin tidur denganku?"
Naomy tersenyum lalu menundukkan wajahnya, seolah terlihat malu.
"Baiklah, kau akan tidur di kamarku."
Tanpa disadari, sebuah lengkungan tipis menghiasi bibir Naomy. Mereka beranjak kearah kamar Neandro.
"Ini kamarku, malam ini kau tidur di ranjang saja. Aku akan tidur di sofa."
"Kita pisah ranjang?"
"Kita belum menikah Naomy, bukankah itu tidak..."
"Tapi kau masih sakit, kenapa jika kita belum menikah? Apa salahnya jika kita tidur seranjang? Bukankah kita pernah tidur seranjang sebelumnya?"
"Tapi itu tidak sengaja Naomy, dan sekarang berbeda."
"Tapi aku menginginkannya sekarang. Malam ini aku ingin tidur seranjang denganmu lagi."
"Naomy...,"
"Jangan menolaknya!"
"Ayo kita makan malam sekarang, aku sudah lapar Neandro," kata wanita itu tersenyum, mulai keluar dari ruangan itu.
Terlihat di meja makan bi Wati sudah menyiapkan makanannya. Memang, hanya ada bubur saja untuk Neandro.
"Bi, ikut saja makan dengan kami,"
"Tidak tuan muda, bibi sudah makan tadi, silahkan di nikmati, bibi tidak ingin menganggu kalian."
"Tapi bi..."
Bi Wati hanya tersenyum, tentu siapa juga yang mau menjadi nyamuk disana, mengangguk kemesraan dua insan yang sedang kasmaran itu.
Terlihat bi Wati memasuki kamarnya, hanya menyisakan mereka berdua.
"Suapi aku," pinta Neandro.
"Ckck, manja sekali pria ini."
"Kau akan menolakku?"
Naomy menggeleng, "Mana mungkin aku bisa menolak pria tampan dihadapanku ini."
Mereka mulai makan malam dengan romantis.
❤️❤️❤️
Malam semakin larut, terlihat Naomy sudah berada di sisi kiri ranjang, menyisakan sebagian luas di bagian kanan ranjang untuk Neandro, dan Neandro masih berada di sofa membaca sesuatu.
"Apa kau tidak ingin tidur? Jangan begadang Neandro."
"Tidur saja duluan," ucap Neandro melirik wanita itu sekilas.
Tentu saja, Neandro tidak ingin seranjang dengan wanita itu, meskipun Naomy memaksa. Mereka juga belum menikah, apa kata dunia nantinya?
"Aku tidak bisa tidur, jika tidak memeluk sesuatu. Disini hanya ada bantal, tidak ada guling."
"Naomy... jangan manja, cepat tidurlah."
"Aku ingin tidur denganmu."
Berulang kali Neandro mendengar ucapan yang sama yang terlontar dari bibir wanita itu.
"Aku tidak akan tidur, jika kau tidak tidur di sampingku."
"Naomy..."
"Ayo tidurlah di ranjang."
Pria itu menghela napasnya. Akhirnya Neandro merebahkan tubuhnya di bagian kanan ranjang. Sedangkan Naomy hanya tersenyum menatap pria itu berada di sisinya.
Neandro memberi batas antara mereka menggunakan bantal yang ada disana.
"Aku tidak ingin terlalu jauh nantinya."
Naomy hanya mengangguk, tersenyum perlahan mulai memejamkan matanya. Entah kenapa perasaannya sangat senang hari ini. Semoga saja hari ini tak cepat berlalu.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Neandro
Romansa[Completed] Sebuah kejadian tidak terduga di New York, membuat seorang wanita mencintai pria yang salah. "Lepaskan istriku!" kata pria itu, memukul semua preman yang menyentuh Naomy. Wanita itu terdiam mendengar hal itu, seorang pria tidak dikenaln...
