Naomy mengerjapkan matanya perlahan, merasa tubuhnya hangat dalam dekapan seseorang. Dia mendongak, melihat pria tampan yang tertidur pulas, sembari memeluknya erat.
'Apa ini mimpi?' batin Naomy melihat pria yang dihadapannya.
Pria tampan dengan rahang tegas, hidung mancung, disertai bibir tipis, membuat Naomy terpaku menatapnya. Sungguh, ciptaan Tuhan yang sangat sempurna.
Pria ini pernah mengatakan cinta kepadanya. Entah kenapa, Naomy sangat bodoh saat itu, menolaknya begitu saja tanpa berpikir panjang. Andai saja waktu bisa di putar kembali. Ingin rasanya Naomy menikah dengan pria ini.
Naomy yakin ini hanyalah mimpi, mungkin ini efek dari minuman keras itu, dia sampai berhalusinasi Neandro tidur bersamanya. Jika ini mimpi, biarkan Naomy menikmati mimpinya. Meskipun kenyataannya mereka tak bisa bersama lagi.
Naomy kembali memejamkan matanya. Namun kenapa ini seperti nyata? Terdengar deru nafas dari seseorang.
Naomy membelalakkan matanya, 'Apa ini nyata?' Dia mencoba menyentuh wajah pria dihadapannya, dan ternyata benar, Neandro tidur bersamanya.
"AAAAAA!" teriak Naomy keras. Berhasil membuat pria itu terbangun. "Kenapa kau ada disini?!" tanya wanita itu tak percaya.
"Kau-- kau kenapa disini?!" tanya Neandro sama- sama terkejut.
Brak!
Seseorang mendobrak pintu kamar itu.
"Naom..."
Terlihat ayah Naomy, mamanya, dan adiknya Andy terkejut melihat apa yang dilihatnya sekarang. Melihat Naomy tidur seranjang dengan Neandro.
"Apa yang terjadi disini?!" pekik mama Naomy.
"Ma, hiks..hikss..."
Mondy langsung mendekat kearah Naomy, memeluk putrinya erat.
Kini, wanita paruh baya itu menatap Neandro tajam.
"Apa yang kalian lakukan?! Kenapa kau bisa tidur disini hah?!" tanyanya menuntut penjelasan.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya masuk ke kamarku. Dan sangat terkejut melihat Naomy ada disini." sahut Neandro.
"Apa?! Kamarmu?"
"Jelas- jelas Naomy yang menempati kamar ini terlebih dahulu. Putraku menjadi saksinya." jelas mamanya Naomy.
"Benar, aku masih menyimpan kunci kamarnya," sahut Andy. "Ini kuncinya." dia menaruh kunci kamar bernomor 222 itu di hadapan Neandro.
"Kalian tidak percaya kepadaku?" Neandro langsung mengeluarkan kunci kamarnya yang bernomor sama, 222.
"Aku mendapat nomor kamar ini. saudaraku Neandra yang menjadi saksinya." jelas Neandro.
Mereka hanya terdiam, tak percaya jika kunci kamarnya ada dua.
"Kemarin aku sangat mengantuk, aku tidak tahu jika Naomy ada disini. Jika aku tahu, aku tidak sudi tidur dengannya!" Neandro menatap sinis kearah wanita itu.
Sedangkan Naomy hanya terdiam, tak tahu harus mengatakan apapun.
Terlihat orang tua Neandro bersama saudaranya Neandra masuk ke dalam kamar itu. Berita ini sudah merambat, dan sudah diketahui seluruh penghuni hotel.
"Neandro, apa yang terjadi disini?!" tanya mamanya.
"Aku juga tidak tahu, ini bukan kesalahanku. Kunci kamarnya ada dua." jelas Neandro.
Terlihat seorang pria memasuki kamar itu sambil menundukkan wajahnya.
"Maaf, tuan, nyonya. Maafkan kelalaian kami, ini terjadi karena kesalahan kami. Dulu, kunci kamar ini pernah hilang, dan kami membuat kunci cadangan untuk menggantinya. Kami tidak tahu, jika kunci kamar ini di temukan lagi. Tolong maafkan kami, kejadian ini terjadi karena kelalaian kami." ucap manager hotel itu meminta maaf.
Neandra langsung menghajar manager hotel tersebut.
"Kau tahu? Karena kesalahan itu saudaraku dalam masalah, nama baik keluargaku menjadi tercemar!" pekik Neandra marah.
"Kami memohon maaf sebesar-besarnya. Tolong maafkan kami tuan."
Terlihat Neandra ingin menghajarnya lagi. Tapi, di cegah oleh mamanya.
"Cukup Neandra! Jangan menambah masalah lagi."
"Apa kalian bisa keluar dari ruangan ini?" pinta wanita paruh baya itu sopan, menyuruh manager hotel itu keluar.
Mereka keluar, kini menyisakan keluarga Naomy dan keluarga Neandro. Terlihat Naomy masih menangis terisak memeluk ibunya.
"Neandro akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Kalian harus menikah." ucap Naira mamanya Neandro.
"Apa?!"
"Kenapa aku harus bertanggung jawab? Apa aku menghamilinya? Aku juga tidak tahu jika wanita itu tidur bersamaku!" pekik Neandro tak terima.
"Tapi Neandro, berita ini sudah menyebar luas. Jika kalian tidak menikah, itu akan mempermalukan nama baik keluarga kita." jelas ayahnya.
"Aku tidak peduli." sahut Neandro ketus.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Terlihat Neandro bungkam setelah di tampar mamanya.
"Aku tidak menyangka jika putraku seperti ini!"
"Pernikahan ini akan tetap terjadi. Kami akan menikahkan kalian minggu depan!"
"Tidak, aku..."
"Jika kau berani membantahku, aku akan menikahkanmu sekarang juga!" pekik mamanya.
Neandro mengepalkan kedua tangannya, menatap sinis kearah semua orang. Dia langsung bergegas keluar dari kamar itu.
"Neandra, susul saudaramu. Beri dia pengertian." ucap Naira, dia tahu jika putranya itu sangat marah sekarang.
"Baik ma." sahut Neandra menyusul saudaranya.
Kini mereka beralih menatap Naomy yang menangis terisak memeluk ibunya. Wanita malang itu tidak tahu jika nasibnya seperti ini.
"Naomy, maafkan kami nak. Ini kesalahan kami..." ucap Naira, ibunya Neandro.
"Tidak, ini kesalahanku, andai saja kemarin aku tidak memilih kamar ini untuk putriku, mungkin tidak akan seperti ini." sahut mama Naomy bersalah.
"Aku mohon, kalian jangan saling menyalahkan. ini semua kesalahanku, seharusnya tidak mabuk dan sadar jika ada orang tidur di sampingku. Hiks...hiks.." ucap Naomy kembali menangis sesenggukan.
"Kami harap kau mau menikah dengan Neandro. Kami akan memberikannya pengertian."
Naomy hanya diam, memeluk ibunya erat. Entah bagaimana hidupnya kedepannya dia tidak tahu.
Bersambung...
Kasian sekali hidupnya Naomy 🙄
Tapi akoh senang, wkwk 🤭
Akhirnya pernikahan mereka nggak hanya wacana. Tapi, apakah babang Neandro mau memaafkan wanita itu?
Mo lanjut tida??
Btw, untuk cerita saudara kembarnya babang Neandro bisa di baca terpisah. Cek aja di profilku, judulnya Neandra.
Thankyou udh baca...❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Neandro
Roman d'amour[Completed] Sebuah kejadian tidak terduga di New York, membuat seorang wanita mencintai pria yang salah. "Lepaskan istriku!" kata pria itu, memukul semua preman yang menyentuh Naomy. Wanita itu terdiam mendengar hal itu, seorang pria tidak dikenaln...
