❤️Kembali

1.4K 116 11
                                        

Terlihat seorang pria tampan mulai mengerjapkan matanya, dia melihat seorang wanita yng tertidur dengan posisi menyamping senantiasa menunggunya. Dengan tangan yang terpasang infus, pria itu mengelus lembut rambut wanita dihadapannya.

"Kau sangat cantik Naomy," gumamnya menyentuh wajah wanita yang tertidur pulas itu.

Tanpa disadari, hal itu menyebabkan Naomy tersadar terbangun dari tidurnya.

"Neandro, kau sudah sadar?" ucapnya tak percaya.

Neandro hanya menyunggingkan senyumannya.

"Aku akan segera memanggil dokter." Wanita itu antusias berlari keluar ruangan memanggil dokter. Neandro hanya tersenyum melihatnya.

Beberapa menit kemudian terlihat seorang dokter memeriksa Neandro.

"Keadaan kekasih anda sudah semakin membaik, kami akan memberikan obatnya sekarang."

Naomy hanya mengangguk tersenyum. "Terimakasih dokter," ucapnya senang.

Dokter itu keluar dari ruangan itu, yang kini hanya menyisakan mereka berdua.

Naomy tersenyum menatap pria tampan dihadapannya, sungguh dia sangat senang Neandro pulih kembali. Tentu, mana mungkin Naomy tidak senang, dia telah menunggu lama agar Neandro tersadar kembali. Jika sampai terjadi apapun dengan pria itu, Naomy tidak akan pernah memaafkan dirinya.

"Apa kau tidak merindukanku? Tega sekali kau membuatku menderita seperti ini," papar Naomy kepada pria dihadapannya.

"Tidak," balas Neandro singkat. "Kenapa juga aku merindukan wanita yang kabur dihari pernikahannya sendiri? ckck, memang wanita tidak tahu diri." Terlihat Neandro merajuk melipat kedua tangannya, tentu saja siapa yang tidak kesal dengan kejadian itu.

"Neandro, maafkan aku," lirih Naomy. "Maafkan aku hiks...hiks..." Air matanya mulai membasahi pipinya. Jika Naomy tidak kabur, mungkin semua ini tidak akan terjadi.

"Naomy," panggil Neandro lembut, tangan kekar yang terpasang infus itu, perlahan menghapus air mata di wajah Naomy.

"Aku bersalah, aku sangat bodoh, seharusnya ini semua tidak akan pernah terjadi," ucap Naomy penuh penyesalan.

"Hiks..hiks.."

Terlihat wanita itu terus menangis, padahal tadi Neandro hanya ingin bercanda dengannya.

"Lihat aku, aku tidak papa kan? Jangan menyalahkan dirimu Naomy."

"Tapi itu..."

"Aku sudah memaafkanmu, lupakan masalah ini ya," kata Neandro tersenyum kepada wanita dihadapannya.

Terlihat seorang suster yang memasuki ruangan tersebut, membawa semangkuk bubur untuk pasiennya. Naomy segera menghapus air matanya.

"Ini untuk anda tuan."

"Terimakasih, taruh saja disana," balas Neandro sambil tersenyum.

Suster itu keluar kembali menyisakan mereka berdua.

"Kau tidak ingin memakannya?"

"Suapi aku," pinta Neandro dengan wajah memelas.

"Ckckck, manja sekali pria ini," ucap Naomy sambil tersenyum. Tentu saja dia tidak bisa menolak permintaan Neandro. Naomy mulai menyuapi pria itu perlahan.

"Bagaimana rasanya enak bukan?"

"Hmm, biasa saja, tapi karena kau yang menyuapinya jadinya sangatlah enak."

"Yayaya, kau tidak pandai merayuku."

Neandro hanya tersenyum menatap wanita dihadapannya. Kini dia fokus kearah rambut Naomy, meskipun rambut wanita itu pendek, tetapi dia masih tetap terlihat cantik dan elegan.

"Kau cantik dengan rambut pendek ini, mengingatkanku kepada seorang wanita yang pernah ku temui di New York."

"Seorang wanita?" tanya Naomy penasaran. Entah kenapa Naomy merasa Neandro kebanyakan dekat dengan wanita.

"Iya, wanita karier yang sangat cantik dan mandiri, bahkan aku tidak bisa melupakannya saat ini. Aku jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengannya."

Naomy langsung memasang wajah masam, seolah-olah tak suka dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Tentu saja, mana ada wanita yang tidak cemburu mendengar kekasihnya memuji wanita lain.

"Andai saja saat itu dia tidak kembali ke Indonesia, mungkin kita sudah menikah sekarang."

"Yasudah, menikah saja dengannya! Kenapa kau selalu membuatku cemburu?"

"Jika perlu batalkan per..."

"Hust!" Neandro langsung membungkam bibir wanita itu menggunakan jarinya.

"Jangan mengatakan itu Naomy, aku hanya..."

"Nyenyenye, aku tidak percaya, lebih baik aku keluar dari sini."

Neandro langsung menarik Naomy, dan refleks wanita itu jatuh di dada bidang pria dihadapannya. Naomy langsung menjauhkan tubuhnya.

"Maaf, maafkan aku..."

Namun, pria itu kembali menarik Naomy, sehingga kini pandangan itu saling beradu satu sama lain.

"Kau tidak percaya kepadaku?"

"Tentu mana mungkin aku..."

Cup.

Satu kecupan singkat mendarat di bibir Naomy.

"Aku mencintaimu Naomy."

Bersambung...

NeandroCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang