❤️ Menghilang

1.3K 113 10
                                        

Beberapa jam kemudian...

Hari mulai menuju petang. Para tamu undangan mulai berdatangan, tak henti- hentinya senyuman tulus terukir di wajah wanita paruh baya itu. Siapa lagi kalau bukan mamanya Naomy, dia terlihat bahagia menyambut tamu undangan yang hadir.

"Selamat, akhirnya pernikahan putrimu tak hanya wacana ya," ucap seorang wanita paruh baya lainnya, yang tak lain adalah teman arisannya. Biasalah, ibu- ibu sosialita.

"Tentu, mana mungkin aku berbohong, putriku sekarang juga menikah bukan?" sahut Mondy tersenyum puas.

Dulu teman - teman arisannya ini selalu meremehkannya. Mengatakan hal yang tidak- tidak tentang putrinya.

Terlihat Neandro mendekat kearah mereka, kini pria itu sangat tampan mengunakan setelan jas hitam mewah yang pas melekat di tubuhnya.

"Tante, apa Naomy sudah selesai berhias? Acara pernikahannya akan dimulai sebentar lagi."

"Baiklah, aku akan menjemputnya, kau tunggu disini ya menantuku."

Neandro hanya mengangguk menyetujuinya.

Wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya menaiki tangga. Sungguh, dia tak percaya, jika putrinya hari ini menikah juga. Hari yang di tunggu- tunggu melepas anak perempuan yang sangat dia sayangi, berharap Naomy bahagia bersama dengan pria pilihannya.

Tanpa disadari, buliran bening menetes begitu saja. Tentu, siapa juga ibu yang tidak menangis jika berada di posisi ini.

"Kenapa aku menangis? Ini hari bahagia putriku." Mondy langsung menghapus air matanya, mengembangkan senyumnya, mulai membuka pintu kamar itu.

"Naom..." ucapnya memanggil nama putrinya.

"TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN! teriaknya tak percaya.

Para tamu undangan riuh penasaran, mendengar teriakan tadi. Terlihat Neandro langsung naik ke atas melihat apa yang terjadi disana.

"Tante apa yang..."

Pemandangan yang sangat tak diharapkan. Seorang penata rias diikat kuat, gaun pengantinnya berserakan dimana-mana, dan tak ada tanda-tanda Naomy disana.

Neandro segera mendekat, melepaskan penata rias yang terikat itu.

"Dimana Naomy?" tanya Neandro.

Penata rias itu menggeleng, dia tidak ingat apapun yang terjadi.

"Aku tidak mengingat apapun, aku hanya minum ini dan aku tidak mengingat apapun lagi," sahutnya jujur.

Neandro mengedarkan pandangannya, melihat bungkus obat tidur disana. Neandro yakin, ini pasti ulah Naomy. Wanita itu sudah merencanakan ini.

Terlihat Mondy menangis terisak setelah membaca surat yang dibawanya.

"Putriku..,hiks...hiks..." Wanita paruh baya itu menangis terisak. "Maafkan aku nak," ucapnya penuh sesal, tak menyangka Naomy akan nekat seperti ini.

Neandro mengambil surat itu. Dia langsung membaca surat yang Naomy tulis.

Ma, maafkan aku.
Aku harus pergi sekarang, aku tidak ingin pernikahan ini terjadi. Apa kau tahu?Aku menyesal pernah menyukai Neandro. Dia adalah pria terburuk yang pernah aku temui.
Maafkan aku ma, jika aku mengecewakanmu. Setelah ini aku ingin hidup bebas tanpa terikat hubungan dengan pria manapun. Jangan paksakan aku lagi,
mungkin kau tak akan bisa bertemu lagi denganku.

Naomy.

Neandro langsung meremas surat itu hingga tak berbentuk. Dia tak pernah menyangka, jika Naomy akan senekat ini.

NeandroCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang