Suasana angin malam mendesir dingin, serasa menusuk tulang setiap insan yang berada di luar ruangan. Tak heran, banyak orang menggunakan jaket tebal melapisi tubuh mereka agar tidak kedinginan.
Tetapi, entah kenapa itu tidak berpengaruh kepada seseorang. Terlihat seorang wanita dengan balutan dress hitam, berdiri di tepian balkon hotel menatap seorang pria dari kejauhan, sembari meneguk gelas wine yang ada ditangannya. Dia kembali menuangkan segelas wine, mengisi gelas yang kosong. Menurutnya ini adalah cara efektif untuk melupakan pria itu.
"Mama mencarimu kemana- mana, ternyata kau ada disini?" Suara wanita paruh baya, Naomy hanya menatapnya sekilas.
Prang!
Mamanya langsung melempar gelas yang di bawa Naomy. Dari raut wajahnya terlihat sangat marah, tak menyangka Naomy bertindak rendahan seperti ini.
"Kau meminumnya? Sejak kapan kau berani minum minuman ini?"
"Aku minum sedikit untuk melupakan masalahku."
"Mama tidak akan membiarkanmu. Minuman ini tidak boleh kau minum, apa kau tidak tahu bahayanya?" Mondy langsung mengambil minuman itu dari putrinya.
"Kenapa mama mengangguku? Ayo cepat berikan. Cepat berikan ma, aku tak ingin tersiksa terus mengingatnya." pinta Naomy.
"Siapa yang membuatmu seperti ini hah?! Cepat katakan!" pekik mamanya.
"Hiks...hiks...ini kesalahanku, seharusnya aku tidak menolak cintanya. Dia menjauhiku sekarang." ucap Naomy menangis terisak.
Mondy hanya tak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya itu. Jadi, Naomy sudah pernah memiliki kekasih?
"Siapa pria itu? Kenapa kau tidak menceritakannya kepada mama?" tanya ibunya itu mulai memelankan suaranya.
"Neandro," ujar Naomy.
"Apa?!"
"Aku bersalah ma, hiks...hiks..." isak Naomy penuh penyesalan. "aku telah menyakiti hati pria itu."
"Dia berubah, dia menjauhiku, aku ingin dia kembali, aku..."
"Argh!" Naomy langsung berjongkok, merasa kepalanya sangat sakit.
"Kau tidak papa sayang?"
"Aku merasa sangat pusing." ucap Naomy dengan kesadaran setengah- setengah.
"Andy, tolong bantu kakakmu!" teriak mamanya.
Andy, adik wanita itu membantu kakaknya berdiri. Mengendong wanita itu ala bridal style. Mereka segera mengarah ke arah reception untuk memesan kamar. Memang, hari sudah larut. Jadi, mereka memutuskan untuk menginap di hotel ini.
"Berikan kami tiga kamar."
"Baik nyonya." reception itu memberikannya tiga kunci kamar.
"Terimakasih."
Andy masih menggendong kakaknya, mereka segera menuju kamar yang di dapatkannya. Terlihat mereka mendapatkan nomor kamar yang berurutan, dari 220, 221, 222. Tanpa pikir panjang, Mondy membukakan kamar nomor 222 untuk putrinya.
"Baringkan saja kakakmu disini."
Andy membaringkan kakaknya hati- hati, di sisi bagian kiri ranjang. Sedangkan mamanya langsung menyelimutinya.
"Aku tak menyangka putriku akan seperti ini." ucap mamanya mengelus rambut putrinya itu.
"Aku sudah menduganya dari awal, mereka tidak mungkin hanya berteman saja. Pasti memiliki perasaan lebih dari itu."
"Benar, mama juga sudah menduganya. Besok mama akan mencoba berbicara kepada Neandro. Semoga saja dia bisa memaafkan Naomy."
Wanita paruh baya itu kembali menarik selimut agar putrinya tak kedinginan. Terlihat Naomy sudah tertidur pulas.
"Ayo kita keluar, biarkan dia beristirahat."
Mondy mematikan lampu kamar hotel. Memang, dia sangat tahu, jika putrinya itu tidak bisa tidur dengan keadaan lampu yang menyala. Mereka langsung keluar dari kamar itu.
Tak lupa juga, ibunya itu langsung mengunci kamarnya. Dia tidak ingin putrinya keluar dengan keadaan mabuk. Bagaimana jika terjadi apa- apa nantinya?
"Andy, kau saja yang membawa kuncinya. Kalo ada apa- apa kabari mama."
"Iya ma."
Mereka mulai memasuki kamarnya masing-masing.
****
Disisi lain, terlihat dua pria tampan lengkap dengan setelan jas mewahnya mengembangkan senyumnya. Karena berhasil membuat kedua orangtuanya bangga, perayaan acara aniversary ini berlangsung sangat mewah dan meriah.
"Terimakasih kedua putraku, acaranya sangat sukses. Kami bangga kepada kalian." ucap mamanya senang.
"Ayo istirahatlah, ini sudah malam."
"Iya ma," sahut keduanya bersamaan.
Terlihat Neandra mengantarkan saudara kembarnya kearah meja reception.
"Tolong berikan satu kamar untuk saudaraku Neandro."
Reception itu mengangguk, langsung mengambil sebuah kunci kamar memberikan kepada Neandra.
"Ini tuan," ucapnya.
"Terimakasih." sahut Neandra. Dia langsung mengarah ke arah Neandro yang sedang menunggu di sana.
"Nomor 222?" guman Neandra. "Lihatlah, kau mendapatkan nomor cantik. Ini angka keberuntungan." ucap Neandra antusias.
Neandro langsung merebut kuncinya dari saudaranya.
"Ckck, kau masih percaya begituan? Sudahlah, aku sangat mengantuk. Aku akan mencari kamarku sendiri." kata Neandro mulai beranjak pergi.
Pria itu berjalan berkeliling mencari kamarnya, akhirnya dia menemukan kamar bernomor 222.
Neandro memasukkan kuncinya, dan akhirnya kamar itu terbuka. Terlihat kamarnya sangat gelap. Namun, Neandro tak peduli, dia juga tidak menyalakan lampunya, langsung berjalan kearah ranjang karena rasa kantuknya mengebu- gebu.
Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di sisi ranjang bagian kanan.
"Huh, akhirnya aku bisa tidur malam ini." ucapnya menghela napasnya.
Neandro mulai memejamkan matanya, beberapa menit kemudian, tanpa disadari dia sudah tertidur pulas. Bahkan, sama sekali tak menyadari, jika ada seseorang yang tidur bersamanya sekarang.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Neandro
Romance[Completed] Sebuah kejadian tidak terduga di New York, membuat seorang wanita mencintai pria yang salah. "Lepaskan istriku!" kata pria itu, memukul semua preman yang menyentuh Naomy. Wanita itu terdiam mendengar hal itu, seorang pria tidak dikenaln...
