SEMBILAN BELAS

35 13 1
                                    

Bagi yang belum follow, follow dulu yuk!
aniday_  udah? Tengkiu!
Jangan lupa votenya ya! Makasih!

[Sepertinya, Rindu]

.
.
.

“Punyaku!” seru Callista dengan kencang sehingga satu rumah bisa mendengarkan suaranya. Sementara itu Bian sambil menangis menarik boneka Tata-nya.

“Kak Lista pelit!” tangis Bian sambil mengeraskan suaranya.

Callista tidak peduli dengan tangisan Bian dan mengelus boneka Tata-nya. Boneka pemberian pacarnya jauh lebih penting sekarang daripada tangisan Bian yang menjengkelkan!

Gisel yang sedang mengerjakan tugas mata kuliahnya menutup telinganya karena keributan yang ada karena Callista dan Bian. Apa mereka berdua tidak bisa diam?!

Sementara itu Alvian sedang membaca artikel tentang proyek perusahaannya yang meroket dengan cepat di masyarakat meskipun baru dilaunching.

“Diam, Bian! Astaga! Lo cowok tapi demennya sama boneka. Nih keretaapi lo,” ucap Callista sambil memberikan kereta api mainan milik anak kecil itu.

“Gak suka! Maunya boneka Tata, Kak Lista! Sini!”

“Idih? Maksa lo?”

Gisel menatap Alvian yang tak kunjung mau berbaik hati melerai pertengkaran antara Callista dan Bian. Ia menghembuskan napasnya dan beranjak berdiri untuk menghentikan keributan ini.

Kepalanya sudah mau pecah karena materi di mata kuliahnya, belum lagi pertengkaran adiknya yang selalu terjadi karena hal sepele. Ia bisa gila lama-lama.

“Callista! Lo bisa ngalah ga sih sekali aja sama Bian? Gue capek denger kalian berantem mulu!”

“Sel! Lo ga bakal ngerti sepenting apa Tata ini sama gue. Kalo rusak gimana? Ini dari pacar gue!” kesal Callista lalu meninggalkan Gisel dan Bian tanpa berniat menyambung perdebatan yang membuang-buang waktu dan tenaga.

“Bian gak papa kan?” Laki-laki kecil itu mengangguk. “Nanti kita beli buat Bian, okay? Jangan ribut please,” ucap Gisel memohon.

Bian mengangguk. “Bian gak terlalu suka sama Tata kok. Bian cuma suka bikin Kak Callista kesel aja, hehe,” ucapnya sambil nyengir dengan gaya tidak jelasnya.

What the..., batin Gisel.

“Gisel, kamu ada kelas atau rencana buat Minggu depan?” tanya Alvian tiba-tiba. Gisel menoleh cepat. “Kenapa? Kayaknya sih ada ya.”

“Kamu mau em, ketemuan sama Diana?”

Gisel mengerutkan dahinya bingung, lalu tersadar beberapa detik kemudian. “Aneh. Jangan bilang lo mau pake gue buat jadi alasan Lo buat ketemu sama Kak Diana? Hell no lah!”

Alvian menggaruk tengkuknya asal. Gisel benar dan tepat sasaran. Ia memang ingin menggunakan Gisel sebagai alasan untuk bertemu Diana. Ia tidak mungkin terus-menerus mendekati wanita itu secara terang-terangan.

I have to say sorry ya, Al. Gue gak mau maksain lagi lo sama Kak Diana. Well, kalau jodohnya bukan lo, kita ga bisa apa-apa.”

“....”

“Gue udah liat kalau lo dan Kak Diana itu saling mencintai, tapi gak bisa saling membahagiakan.”

“....”

[Sepertinya, Rindu]

“Semuanya udah selesai, Na. Direksi udah setuju untuk pengunduran diri kamu dan bakal digantikan sama Pak Dika.”

Sepertinya RinduTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang