Xiao Zhan mahasiswa jurusan desain komunikasi visual yang suka ketenangan dan kebersihan merasa risih dengan tetangga yang ada di sebelah kost-nya,
Wang Yibo, mahasiswa jurusan seni tari yang selalu berisik tanpa mengenal waktu.
Banyak kejadian ri...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Wang Yibo, kita sudah tak bisa bersama lagi."
Wang Yibo berdiri mematung. Syok. Wajahnya memucat. "Baby, kau sedang mengandung anak kita ..." Ia mengingatkan. Karena jelas ia tidak bisa menerima perpisahan ini.
"Tidak masalah." Jawab Xiao Zhan cepat sembari mengelus perutnya yang sudah memasuki bulan keempat. "Kita akan berbagi hak pengasuhan anak bersama. Kita akan tetap membesarkannya bersama-sama."
"Tapi sayang, katakan alasannya dengan jelas? Aku tak bisa terima kalau tiba-tiba kau meminta berpisah seperti ini." Yibo maju mendekati istrinya. "Aku masih mencintaimu!" Ia menarik paksa Zhan lalu menciumnya. Tapi Xiao Zhan menolak lalu menampar Yibo.
Yibo memegang pipinya yang kesakitan dengan wajah yang hampir menangis. "Sayang, kenapa kau berubah jadi seperti ini?" suaranya bergetar. "Katakan alasannya? Apa aku selingkuh?"
Xiao Zhan menggeleng. "Justru kau terlalu setia, suamiku."
"Lalu apa masalahnya?" desak Yibo
Xiao Zhan menatap Yibo dengan nanar lalu berkata, "Karena akulah pembunuh ayahmu!"
Mata Yibo melebar karena terkejut. Ia menelan ludah sebelum berkata. "Tapi ayahku masih hidup sehat di kampung."
Seketika Xiao Zhan memutar bola matanya. "Bukaaan itu!" geramnya.
"Maaf, baby. Aku lupa dialognya." Sesal Yibo
Xiao Zhan menepuk keningnya. "Makanya kau harus ikut nonton bersamaku kalau filmnya tayang."
Yibo meringis, "Memangnya kita tidak bisa melakukan hal yang lain, baby? Apakah harus drama Istriku adalah Pembunuh Ayahku ini yang dimainkan? Ganti drama saja ya... judulnya saja sudah membuatku merinding."
"Tidak bisa." Xiao Zhan menggeleng. "Ini keinginan anak kita." Ia mengelus perutnya.
"Ngidam, kok, main drama!" celetuk seseorang di depan pintu. Itu adalah Zuocheng.
"Ini kan bukan keinginanku." Kilah Zhan. "Lagipula sejak kapan kau berdiri di sana?"
"Sejak kau menampar suamimu tercinta. Kupikir kalian bertengkar. Rupanya sedang main drama. Edan!"
Seketika Yibo memegang pipinya yang masih terasa nyut-nyutan. "Tamparanmu sakit sekali, baby." Beritahunya.
"Iyalah, dia tamparnya pake tenaga kebo!" ketus Zuocheng
Zhan mendelik tajam ke arah tetangganya itu. "Apa kau mau merasakan tamparan tenaga kebo itu?" Ia menggulung lengan bajunya seraya mendekati Zuocheng.
Zuocheng melangkah mundur. "Tidak, terima kasih." Lalu mengambil langkah seribu secepat yang ia bisa dan kembali ke apartemennya sendiri.
"Dasar, pengecut!" ejek Zhan. Kemudian, ia mendekati Yibo yang masih mengelus pipinya yang memerah. "Masih sakit, sayang."
Yibo mengangguk, "Baby, belakangan ini kau sangat .... " Ia mencari kata-kata yang tepat. Tapi sebelum bisa menjawab kembali, Xiao Zhan sudah melotot mengerikan kepadanya. Sehingga Yibo membatalkan ucapannya. "Tidak jadi." Ia terkekeh. Belakangan ini istriku jadi lebih menakutkan.