Part 12. Yes or No

483 66 134
                                    

Hai hai hai! 👋

Kalian pasti tau dong kalo saat ini Sam lagi ada proyek di Cina selama sebulan? Dan ... Sam pergi tanpa laoponya 🥺

Gw mau bayangin dulu gimana cara mereka kangen-kangenan?! Apakah layar Hp akan menjadi korban karena dicium terus ketika mereka video call-an? 😂 Jarak tentu bukan masalah untuk SamYu 🤭

Ah, sudahlah. Gw sebagai shipper sejatinya SamYu akan selalu doakan yang terbaik untuk SamYu 🙏

Cut!

Selamat membaca bagi para pecinta "SamYu"

😍

..................................................................

Suasana di apartemen Yu mulai sepi. Seharusnya ada sarapan yang tersaji. Paling tidak segelas susu atau jus. Namun, tak seperti diharapkan. Terlalu sepi sehingga suara tetesan air dari kran wastafel pun bisa didengar.

Ibu Yu duduk di tepi ranjang sambil memikirkan tentang kenyataan yang baru saja disaksikannya. Ia masih belum percaya kalau putra tunggalnya adalah penyuka sesama jenis. Air matanya terus menetes, tidak mau menerima kenyataan.

Ini bukan hanya soal nama baik keluarga atau apa kata orang nantinya, tapi ini soal didikannya. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ibu. Memang ia pernah mendengar tentang pasangan gay, malah ada pasangan yang ia ketahui telah tinggal beberapa bulan lalu di sekitar daerah tempat tinggalnya di Tokyo. Namun, ia tidak menginginkan anaknya seperti mereka. Ia masih menginginkan menantu wanita. Ia memimpikan punya cucu kandung. Rasanya ia ingin membenturkan kepala ke dinding agar bisa melupakan semua yang telah terjadi.

Sementara itu, Yu hanya bisa terdiam di depan meja makan sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Sesekali ia memandang ke arah pintu kamar dimana ibunya sedang merenung di dalamnya.

Ketika sedang melamun, tiba-tiba ada telepon dari manager Yu. Namun, Yu tidak mau menjawab karena sedang tidak ingin diganggu oleh pekerjaan. Ia masih memerlukan waktu untuk menenangkan pikirannya. Percuma jika ia bekerja dalam keadaan tidak stabil seperti itu karena hanya akan merugikan diri sendiri.

Yu memilih untuk mengirim pesan teks untuk sang manager, memberi alasan kalau ia ingin istirahat saja di rumah tanpa ada gangguan. Beruntungnya sang manager bisa memahaminya sehingga menunda semua pekerjaan di hari itu.

Seperti halnya Yu, Sam juga melakukan hal yang sama. Setelah mengabari sang manager, ia pun menonaktifkan Hpnya agar tidak diganggu oleh siapapun.

.
.
.
.
.
.

Sam menghampiri Yu dengan segelas air. "Minum dulu!" ucapnya sembari duduk pada kursi di sebelah kanan Yu.

Yu mengambil dan meneguknya sedikit. "Terima kasih." Lalu menatap kosong pada gelas di tangan kanannya.

Sam menghela napas berat. "Aku pernah bilang ... jika ada masalah, kita akan menyelesaikannya secara bersama-sama. Meyakinkan ibumu adalah salah satu masalah yang harus kita selesaikan secara bersama-sama. Yu ...!" Sam menyentuh tangan kiri Yu. "Jangan takut karena aku ada di sini bersamamu!"

Yu mengangguk pelan tanpa suara.

Sam memang terlihat tegar di luar, tapi di dalam hatinya ada sebuah kekhawatiran. "Beri ibumu sedikit waktu untuk menenangkan hatinya. Setelah itu, kita akan menemuinya."

2 Hearts (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang