[7]

1K 145 138
                                        

"Baiklah. Kita bertemu di sana saja. Aku akan menunggumu di tepi hutan seperti biasa. Bagaimana?"

Kalimat Seungbin menggema di telinga Kai saat ia mendarat dengan sempurna dari balik tembok belakang istana. Dengan senyum yang tak dapat ia tahan, Kai memasuki hutan dan berbelok di beberapa pohon—berasumsi mungkin Seungbin lebih dulu sudah ada di sana, seperti biasa.

Namun alih-alih menemukan Seungbin, Kai menghentikan langkah dan menghilangkan senyum di wajah saat sosok yang melipat tangan di depan sana bukan Seungbin, melainkan Soobin. Ia memang baru dua kali bertemu dengan Soobin—di gang sempit dan di taman Rosalia—tapi sekali lihat pun ia tahu yang ada di depan sana Soobin.

Seolah menyadari kehadiran Kai, Soobin membuka kelopak mata yang sedari tadi tertutup, lalu mengangkat kepalanya.

Kai nyaris menahan napas saat mata keduanya bertatapan. Aura ceria yang Kai bawa sejak ia meninggalkan menara tadi lenyap entah kemana. Bertatapan dengan Soobin seperti ini nyaris membuatnya tak berani mengeluarkan suara, entah kenapa.

Lagi pula pertanyaan terbesar saat ini adalah, di mana Sungbin dan kenapa Soobin yang menggantikannya?

"Ada pertemuan penting di istana. Seungbin menyuruhku untuk menggantikannya ke panti."

Singkat, padat, dan tak ramah.

Kai tidak tahu harus senang karena tak perlu bertanya, atau sedih karena artinya nyaris sepekan ia tidak bertemu dengan Seungbin. Kehidupan seorang Putra Mahkota ternyata sesibuk itu.

Kai menatap penampilan Soobin dari atas hingga bawah. Masih sama mengintimidasi dengan warna gelap yang menempel di tubuh, rambut disibak ke atas dan wajah tanpa senyuman.

"A-ah, begitu." Kai menunduk lagi, melipat bibir ke dalam, bingung harus menanggapi seperti apa. "Terima kasih telah memberitahu, Yang Mulia Pangeran." Untuk sesaat, Kai bingung harus memanggilnya seperti apa. Menyebut nama langsung sementara ada tegangan canggung di antara mereka berdua bukanlah pilihan bagus. Kai tidak ingin Soobin semakin tidak suka padanya karena dirasa tidak sopan. Karena itu ia memilih sebutan formal.

"K-kalau begitu... Anda bisa kembali, Yang M—"

"Seungbin menyuruhku menggantikannya, bukan untuk memberikan informasi kepadamu."

"Ya?"

Kali ini Kai mengangkat kepalanya, melebarkan mata terkejut karena rasa panik yang tiba-tiba menyerang. Ia berpikir cepat untuk memaknai kalimat singkat Soobin. Dan saat sadar bahwa itu artinya dirinya dan Soobin akan ke panti bersama, Soobin lebih dulu berbalik, berjalan lebih dulu.

"Ayo, cepat."

Ah.

Mati aku.

_____

Seperti yang Kai duga, Madam Ran mengenali Soobin dengan cepat. Ia bahkan tidak bertanya ini itu dan langsung menyebutnya "Soobin, anakku" dan memeluk Soobin erat sama seperti saat Seungbin datang pertama kali.

Intuisi ibu asuh memang sangat kuat.

Tapi bagi Kai pribadi, membedakan mereka berdua memang tidak butuh usaha banyak. Nyaris selain wajah, sifat dan raut wajah keduanya sangat bertolak belakang. Bahkan untuk Kai yang baru bertemu Soobin dua kali, ia langsung bisa membedakan Seungbin dan Soobin dengan cepat.

Kalau itu Seungbin, dia pasti akan tersenyum ramah padaku.

Kai menggelengkan kepalanya cepat. Pipinya terasa hangat hanya dengan mengingat Seungbin. Sayang sekali mereka tidak bisa menghabiskan waktu bersama di panti setelah beberapa minggu terlewat.

OLEANDER | SooKaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang