Kai merasa dirinya sedang terjun di dalam mimpi, namun mimpi itu berjalan cepat dan acak. Kilas balik masa kecilnya tumpah tindih, diikuti dengan rasa sakit yang tak tertahankan di sekujur tubuh. Ia menggapai-gapai pada ruang gelap tanpa ujung, namun tak menemukan siapapun.
Di dalam mimpi itu ia berteriak, namun suaranya tercekat. Kai tahu ia sedang bermimpi panjang, namun tak bisa terbangun. Sekali waktu saat kesadarannya sedikit pulih, yang ia rasakan hanyalah panas membakar oleh jarum yang menusuk di sekujur tubuh. Lehernya seperti tercekik kuat dan lelehan air mata tak berhenti turun. Sebelum ia bisa membuka kelopak matanya yang berat, kesadarannya kembali jatuh.
Ruang gelap yang kosong itu kembali hadir, kali ini jauh lebih menakutkan dari pada sebelumnya. Di dalam mimpi itu ia meringkuk dengan keadaan yang menyedihkan. Seluruh tubuhnya seolah dipelintir dengan luar biasa menyakitkan, menangis pun tak ada lagi air mata yang bisa keluar.
Kesadaran Kai timbul dan hilang. Hanya orang-orang yang berjaga di samping ranjangnya yang menyadari terkadang Kai mengeluarkan suara lirih yang kemudian menghilang. Kadang ia bergerak gelisah, dan air mata kembali turun membasahi bantal. Hari berganti, namun Kai tak kunjung sadar secara utuh. Hanya igauan samar yang terdengar, dan gerakan lemah di ujung jari yang ringkih.
Soobin terlihat ragu, namun perlahan menggenggam tangan Kai yang bergerak pelan. Ia tidak memberikan tekanan yang banyak, takut akan menyakiti Kai. Ia menangkup dengan lembut dan menyadari bahwa tangan Kai tenggelam dengan sempurna di bawah kungkungan tangannya. Betapa kecilnya, betapa rapuhnya.
"Kumohon, bangunlah."
Suara pelan yang terdengar nyaris seperti bisikan itu keluar dari bibir Soobin yang sedari tadi terkatup rapat. Hanya melihat Kai terbaring lemah dengan air mata yang tak berhenti turun sudah cukup untuk membuat badai besar di dalam hatinya. Soobin menatap wajah Kai. Wajah yang sebelumnya terlihat segar itu langsung terlihat cekung dengan kulit wajah yang kusam dan menggelap di beberapa bagian. Bibir yang biasanya terlihat berkilau dan merona itu kini terlihat pecah dengan menyedihkan dan rona ungu menyebar dari bagian dalam bibir.
Soobin mengangkat tangannya dan mengelap sudut mata Kai yang kembali basah. Laki-laki yang terbaring ini sangat menderita, namun tak bisa menyuarakannya. Kesadaran yang timbul tenggelam membuatnya semakin lemah, nyaris tak bisa mempertahankan kesadaran walau hanya lima menit yang singkat. Ia hanya terus melenguh pelan, menangis, dan mengucapkan kalimat yang tak utuh dengan suara yang serak dan tertahan.
Meski dokter mengatakan bahwa Kai sudah melewati masa kritis yang genting, tapi Soobin masih memasang wajah dan aura yang tak sedap dipandang dan itu menekan semua orang yang merawat Kai untuk melakukan yang terbaik. Kapanpun ia punya waktu luang meski hanya sebentar, ia pasti akan mendatangi ruang rawat Kai dan menunggunya sadar.
Namun Kai tak kunjung sadar.
Soobin menoleh ke arah pintu yang terbuka pelan, menampilkan Taehyun yang menunduk hormat sebelum melangkah masuk. Taehyun melirik sekilas pada Kai yang masih terbaring lalu membungkuk untuk berbisik pelan kepada Soobin.
"Sudah tiga hari sejak kau mengurung tamu dari Estanra. Kalau bukti yang mengarah ke mereka tidak segera kita temukan, mereka bisa saja menganggap ini tuduhan sepihak. Kita tidak bisa menahan mereka lebih lama, Pangeran."
Soobin mengeratkan rahang dengan aura mencekam. Sejak Kai pingsan sampai hari ini, Soobin tentu tidak menyia-nyiakan waktu dan memerintahkan penggeledahan di setiap sudut istana untuk menemukan pelaku yang meracuni Kai. Penggeledahan yang dilakukan pada Estanra tentu saja menjadi yang paling utama dan ketat, namun tak satu pun bukti mengarah pada mereka.
Soobin pun tahu, sebodoh-bodohnya Estanra, tidak mungkin mereka berani meracuni Kai tepat di bawah pengawasan ketat dan di dalam agenda penting penyeleksian kerajaan. Walau Soobin tak menghilangkan kecurigaannya pada tamu Estanra, tapi pemikiran bahwa ada pihak lain yang ikut campur di dalam kasus ini membuat ia tidak bisa menurunkan kewaspadaan.

KAMU SEDANG MEMBACA
OLEANDER | SooKai
Fanfiction"Di ujung jalan ini, akankah aku menemukan kebebasan? Atau malah rantai lain yang semakin mengekang?"