[1]

1.5K 205 87
                                        

Dua tahun sudah Kai menghirup udara di atas tanah yang bukan tanah lahirnya. Meski ada banyak malam yang ia lalui dengan rasa marah dan kecewa yang menumpuk di dalam dada, pada akhirnya yang bisa Kai lakukan hanya pasrah dan menanti dengan sabar.

Di kerajaan Arakesh ini Kai telah menghabiskan dua tahun hidupnya jauh dari keluarga—ia bahkan ragu masih bisa menyebut mereka keluarga.

Hanya dua tahun, Kai. Ayah mohon, bersabarlah.

Marseil—kerajaan tempat Kai berasal—hanyalah kerajaan kecil yang diapit oleh banyak sekali kerajaan besar. Meski kerajaan mereka hidup dalam damai dan berusaha menjauhi konflik bentuk apapun dari kerajaan lain, tetap saja akan terjadi suatu keributan.

Dan benar adanya. Ada kerajaan—Kai masih tidak sudi menyebut namanya—yang berusaha untuk merebut lahan subur yang dimiliki Marseil tepat di perbatasan kerajaan. Perang kecil pun pecah. Namun karena militer Marseil tak sekuat kerajaan tamak itu, pada akhirnya mau tidak mau Marseil meminta bantuan militer pada kerajaan tetangga, Kerajaan Arakesh.

Meminta bantuan militer artinya siap untuk "diperah" sebagai ganti bantuan. Raja Marseil—ayah Kai—tidak punya pilihan lain, atau tanah terbaik kerajaan akan direbut paksa. Maka dengan sebuah perjanjian hitam di atas putih, Arakesh bersedia memberikan bantuan militer dan memukul mundur pasukan tamak yang hendak merebut tanah Marseil.

Lalu jika kalian penasaran apa yang tertulis hitam di atas putih tadi adalah Arakesh meminta hak mengelola seperempat lahan subur Marseil dan penawanan anak laki-laki Raja Marseil selama dua tahun untuk menjaga kepercayaan antar kerajaan.

"Aku tidak mau pergi, Ayahanda!"

"Lalu kalau bukan dirimu, siapa lagi yang harus pergi? Kakakmu akan meneruskan kerajaan dan mustahil dia yang pergi. Karena itu, ayah mohon bersabarlah, Kai. Hanya dua tahun. Setelah itu aku sendiri yang akan menjemputmu."

Minggu kedua setelah perang kecil itu berakhir, Kai dikirim pergi ke Arakesh yang sama sekali asing baginya. Ia ditawan bak tahanan perang untuk kurun waktu dua tahun—agar Marseil tak berbuat macam-macam. Lalu nanti, setelah dua tahun berlalu, Kai akan dipulangkan kembali ke tanah kelahirannya.

Kedengaran sederhana, namun sejujurnya rumit. Hidup di kerajaan asing artinya siap diperlakukan semena-mena tanpa ada orang yang akan sudi membantu. Namun dugaan Kai sedikit meleset. Alih-alih hidup penuh semena-mena, ia justru ditempatkan di sebuah menara tinggi tanpa ada banyak orang di sekeliling. Hidup di salah satu menara istana yang terbuang—para penjaga menyebutnya begitu karena letak menara tempat tinggal Kai cukup jauh dari bangunan utama istana—ternyata tidak sesulit yang Kai bayangkan. Lebih baik diabaikan daripada disiksa.

Raja pun sepertinya lupa pernah menawan pangeran dari kerajaan lain hingga Kai memang benar-benar tak pernah bertemu muka dengan salah satu anggota kerajaan. Hidupnya terpenuhi, makan tiga kali sehari, dan bebas berkeliaran di sekitar menara namun tak diizinkan melangkah melewati batas pagar menara.

Nah, kalau begitu, bagaimana bisa Kai bepergian ke panti asuhan dan bermain dengan anak-anak di sana?

Adalah Yoo Sang, pria paruh baya penjaga menara tempat Kai tinggal yang terlihat terlalu malas-malasan untuk bekerja dengan semestinya. Ia berkata, "aku tidak akan menjagamu seperti pencuri di dalam penjara. Sejujurnya aku juga tidak peduli apa yang ingin kau lakukan selama itu tidak merugikanku."

Dan dengan kesempatan itulah mereka sepakat, Yoo Sang bisa bebas tugas namun tetap dibayar oleh istana seperti semestinya, sementara Kai mendapatkan kebebasan secara sembunyi-sembunyi. Selama mereka tidak ketahuan, semuanya aman. Lagi pula menara tempat Kai 'dikurung' benar-benar berada jauh dari bangunan utama istana, menara yang tak dipedulikan.

OLEANDER | SooKaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang