Kai terbangun dengan tubuh segar karena kasur empuk yang sangat nyaman. Setelah puas merenggangkan tubuhnya seperti seekor kucing, ia beranjak turun dan suara ketukan halus terdengar dari arah pintu.
"Tuan Kai? Apakah Anda sudah bangun?"
Itu jelas bukan suara Soobin. Kai melangkahkan kakinya mendekati pintu dan membukanya. Ternyata pelayan yang kemarin membantu membawakan koper berdiri di depan pintu dengan tangan terangkat—bersiap untuk kembali mengetuk.
Pelayan itu berucap dengan sopan, "Tuan Soobin berpesan agar Anda bersiap dan turun untuk sarapan pagi."
Kai mengangguk kecil dan menggumamkan terima kasih. Ia melirik ke arah jendela yang dari balik gorden meneriakkan bahwa matahari sudah lama muncul.
Apa aku bangun kesiangan?
Pelayan tadi masih berdiri di depan pintu dengan senyum sopan, tidak langsung pergi setelah menyampaikan pesan.
"...Ya?"
"Saya akan menyiapkan air hangat untuk Anda, segera."
Kai membuka mulutnya, berucap "aah" tanpa suara lalu menggaruk belakang daun telinganya canggung dan melangkah mundur. Mendapatkan pelayanan seperti ini ternyata sedikit membuatnya canggung setelah dua tahun tidak mendapatkannya sama sekali.
Kai membuat catatan kecil di dalam kepalanya untuk berterima kasih pada Soobin dan juga menanyakan tentang Seungbin yang lupa ia utarakan tadi malam.
___
Saat ia masuk ke ruang makan, tak ada Soobin di sana. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang menyiapkan makanan di atas meja dan mundur teratur setelah melihat Kai tiba. Kai berdiri dengan canggung, dan bertanya dengan nada bingung.
"Soo—maksudku, dimana Pangeran Soobin?"
Salah satu pelayan perempuan menjawab, "Pangeran Soobin biasanya meninggalkan mansion pagi-pagi sekali, Tuan Kai. beliau memerintahkan kami untuk menyiapkan sarapan Anda seorang."
Kai melipat bibirnya ke dalam, menahan rasa malu yang muncul ke permukaan. Apa itu artinya ia seperti hewan peliharaan yang bisa bangun telat sesuka hati? Apa ia baru saja menunjukkan bahwa ia adalah seorang Pangeran Marseil yang pemalas?
Kai mengutuk dirinya sendiri dan berjanji akan bangun lebih awal besok dan sarapan di waktu yang sama dengan Soobin untuk mempertahankan harga dirinya.
___
Lalu sekarang apa?
Kai duduk di dekat jendela kamar barunya selama sepuluh menit dan merasa luar biasa bosan. Hari-harinya sebelum ini memang tak jauh beda membosankan tapi setidaknya ia punya beberapa buku yang bisa ia baca dan bisa menyelinap keluar istana.
Sekarang? Ia tidak punya buku dan tidak berani melangkahkan kaki keluar dari pagar tanaman rambat. Hanya bisa memandang keluar jendela menatap pancuran air monoton yang tidak lagi menghibur baginya.
Setelah beberapa saat yang meragukan, Kai keluar dari kamar dan bertanya pada pelayan yang ia jumpai saat menuruni lantai.
"Permisi." Suara Kai terdengar ragu-ragu. Pelayan wanita yang dipanggil menoleh dan membelalakkan mata untuk sesaat. Ia langsung membungkuk hormat dan mendekati Kai dengan ragu-ragu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pangeran?"
Kai mengerjap, pipinya merona untuk sesaat karena sudah lama ada orang yang memanggilnya dengan sebutan Pangeran di tanah Arakesh—padahal itu panggilan sehari-harinya selama masih di Marseil.
Kai bertanya, "Apakah di bangunan ini ada semacam ruangan perpustakaan?"
Pelayan itu mengerjap bingung, lalu mengangguk kelewat antusias. "Perpustakaan? Tentu saja ada. Ada, Pangeran!"

KAMU SEDANG MEMBACA
OLEANDER | SooKai
Fanfiction"Di ujung jalan ini, akankah aku menemukan kebebasan? Atau malah rantai lain yang semakin mengekang?"