[16]

564 119 93
                                    

Pantas saja... Seungbin tidak terlihat terkejut atau kecewa saat Kai mengabarkan tentang partisipasinya dalam seleksi. Mungkin memang berita itu tidak berarti lebih untuk Seungbin, karena laki-laki itu justru telah bertunangan lebih dulu.

Kai menertawakan kebodohannya. Bagaimana mungkin ia lupa tentang kedudukan Seungbin sebagai Putra Mahkota, sementara Soobin hanya Pangeran biasa? Bukankah sebelum mereka melakukan penyeleksian tunangan untuk Pangeran Soobin, Putra Mahkota sudah lebih dulu memiliki pendamping? Di kerajaan mana pun, sudah pasti Putra Mahkota di dahulukan segala kepentingannya dibandingkan pangeran. Kai melupakan satu fakta penting itu sehingga ia berharap lebih.

Ujung jemari Kai bergetar, tapi sebelum siapapun sempat melihatnya Kai mengepalkan tangan. Ia berusaha meredamkan badai di dalam hatinya dan menatap Soobin dan Sungbin secara bergantian, seolah informasi tadi sama sekali tidak menyakitinya.

Kedua orang dengan wajah yang mirip itu saling berhadapan, sementara Kai hanya beberapa langkah dari mereka. Kai tahu Soobin memang berwajah tidak ramah, tapi ia tidak pernah melihat aura gelap seperti sekarang ini di wajah Soobin, seolah-olah ia memang sedang menekan marahnya dalam-dalam.

Kemudian Kai teringat kesalahannya yang menyelinap keluar dari istana Mahkota tanpa izin resmi dari madam Anna. Apakah mungkin Soobin datang untuk menegurnya yang telah melanggar aturan di hari kedua ia tinggal disini?

"Aku hanya mengajaknya jalan-jalan, Soob. Jangan terlalu keras."

Meski Seungbin mengatakannya dengan wajah ceria dan nada yang riang, Soobin masih menatap tajam seorang ia siap untuk berdebat dengan Sungbin saat ini juga. Tapi untung saja aura gelap yang Soobin pancarkan perlahan menghilang seiring dengan hembusan napasnya yang terdengar keras.

Kai semakin tidak tenang di tempatnya berdiri, takut dirinya menjadi penyebab di antara perdebatan dua saudara kembar ini. "Untung saja madam Anna sedang tidak ada. Kalian berdua selamat." Soobin menatap Seungbin dan Kai secara bergantian dengan sedikit pelototan—ternyata kesalnya masih ada di sana.

Seungbin menepukkan tangannya dua kali. "Baiklah kalau begitu. Karena aku sudah mengantar Kai dengan selamat sampai di Istana Mahkota, aku akan pergi sebelum Madam Anna kembali."

Seungbin berbalik, menghampiri Kai dan menyentuh puncak kepalanya lembut. "Aku akan mengunjungimu lain kali."

Ada nada tegas yang terdengar di sana meski ia berucap dengan senyum, seolah memastikan mereka pasti akan bertemu lagi dalam waktu dekat untuk meluruskan kesalahpahaman yang baru saja terjadi. Mungkin, Seungbin memang berhutang penjelasan kepada Kai meski statusnya yang telah bertunangan bukanlah rahasia. Hanya saja, ia tidak mengatakannya pada Kai dan Kai yang tidak mencari tahu.

"Jangan berpikir untuk menemui Kai lagi di Istana Mahkota."

Soobin memperingatkan Seungbin dengan wajah masam, melirik tajam pada tangan Seungbin yang masih mengelus puncak kepala Kai. Ia hanya tidak ingin ada masalah yang melibatkan Kai dan Seungbin di tengah-tengah proses pemilihan tunangannya. Gosip kecil tidak akan menjadi gosip kecil di lingkungan istana. Bahkan justru biasanya gosip kecil akan membawa badai besar yang dibicarakan oleh mulut semua orang. Kalau sudah begitu, akan sulit untuk meredakannya dengan cepat.

Seungbin tertawa, "Baiklah. Aku tidak akan muncul secara diam-diam." Terlihat sedikit kelegaan di wajah Soobin, tapi Seungbin belum menyelesaikan kalimatnya dengan utuh. "Tapi akan muncul sebagai tamu resmi dalam waktu dekat."

Seungbin tertawa, langsung melangkah pergi dengan lambaian tangan sebelum Soobin mengamuk. Ia senang sekali menggoda saudara kembarnya itu sampai ia kesal—meski Seungbin tahu, di balik wajah tak ramah Soobin, ia punya hati yang baik meski sulit untuk melihatnya secara kasat mata.

OLEANDER | SooKaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang