[23]

553 92 36
                                    

Taehyun menemukan Kai di ruang baca Istana Mahkota. Meski tidak sebesar perpustakaan pribadi Soobin atau bahkan perpustakaan utama Istana yang sangat besar, tapi ruang baca itu cukup nyaman ditempati. Para pelayan juga telah menyediakan berbagai macam buku budaya dari kerajaan-kerajaan yang akan menjadi tamu para kandidat.

Yuna dan Karina memborong buku yang mereka perlukan ke dalam kamar dan tidak keluar dari sana selain saat tiba waktu makan. Sedangkan Kai, ia lebih memilih untuk tetap berada di ruang baca. Karena hanya ada dirinya sendiri di ruang baca, Kai merasa tidak perlu repot untuk membawa buku-buku ini ke kamarnya.

Kai menyadari ada orang yang mengetuk pintu ruang baca dengan sopan. Menolehkan perhatian dari buku yang terbuka di depan wajah, Kai menyapa Taehyun dengan hangat.

"Oh, Taehyun. Lama tidak bertemu."

Beberapa hari belakangan Taehyun memang jarang muncul di sekitar Kai karena selain ada pekerjaan lain yang harus Taehyun urus, Kai juga tidak keluar dari Istana Mahkota yang penjagaannya sangat ketat.

"Yap. Sekarang aku kembali ditugaskan lagi karena tamu-tamu itu akan tiba besok. Hanya antisipasi kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."

Kai tersenyum tipis, mengerti apa yang Taehyun maksudkan. Kedatangan banyak tamu artinya akan ada banyak orang-orang baru di lingkungan istana yang tidak dikenali tujuannya apa. Bukan hanya Kai, tapi Yuna dan Karina juga mendapatkan penjagaan ekstra dan diperbolehkan untuk membawa kesatria pribadi dari keluarga masing-masing. Karena Kai datang ke Arakesh seorang diri, maka Soobin menempatkan Taehyun sebagai kesatria pribadinya.

"Apa yang terjadi pada rahangmu?"

Kai memicingkan mata, menemukan gores kemerahan dan lebam di bagian bawah rahang Taehyun yang terlihat kontras dengan warna kulit.

"Ah, ini?" Taehyun menunjuk bagian rahang yang Kai maksud.

"Ada seseorang yang melampiaskan marahnya padaku."

Mengerutkan dahi, Kai terlihat penasaran tapi tidak ingin bertanya lebih lanjut karena ia menghormati privasi Taehyun. Taehyun pun tidak berencana mengatakan pada Kai bahwa ini adalah hasil duel mereka kemarin, dimana gagang pedang Soobin—yang mungkin secara tidak sengaja—menghantam rahang Taehyun dan mengakhiri duel itu dengan kemenangan Soobin.

Walau itu bukan pukulan yang serius, tetap saja rasanya sangat menyakitkan. Meski Soobin membawanya ke ruang pengobatan istana, tetap saja bekas merah dan lebam itu tetap terlihat jelas.

Dasar benteng gila. Seharusnya ia menahan kekuatannya saat akan menyerangku.

Taehyun menurunkan tangannya dan melirik buku yang sedang Kai pegang. Buku itu tidak dibuka secara sempurna sehingga Taehyun bisa mengintip sampulnya yang berwarna coklat tua. Sejarah dan budaya Estanra.

Taehyun melirik wajah Kai yang sendu, tidak seceria biasanya meski ia masih sempat mengkhawatirkan rahangnya. Sendu di wajah itu pasti disebabkan oleh tamu yang akan dia jamu nanti, musuh dari negaranya sendiri. Taehyun tidak ingin membuka percakapan ke arah sana karena pasti akan terdengar canggung, dan dia berencana untuk meninggalkan Kai agar bisa berkonsentrasi menentukan jenis jamuan yang akan ia gelar.

"Ah, Taehyun, kau akan pergi?"

Taehyun masih di tempatnya berdiri, namun gelagatnya jelas seperti akan pergi. Mau tak mau, Taehyun mengangguk kecil. "Kupikir kau butuh waktu sendiri untuk membaca banyak hal."

Kai menggeleng kecil, ini menutup buku itu dengan sempurna. "Sebenarnya aku sudah membacanya beberapa kali."

Taehyun yakin Kai pasti sudah tahu seluk beluk kerajaan yang menjadi musuh negaranya. Karena itu mungkin saja ia memegang buku itu sebagai bentuk formalitas semata. Melihat Kai yang berdiri kikuk, seperti tidak ingin ditinggal sendiri namun juga bingung hendak melakukan apa, Taehyun menyarankannya untuk keluar.

OLEANDER | SooKaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang