Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

5: Unwanted Attention

1.2K 193 30
                                        

Aku berdecak pelan begitu baru sampai di kampus sudah disuguhkan pemandangan yang membuat mood-ku berantakan. Apa lagi kalau bukan kehadiran Jayden dan Edrea yang sedang tertawa di selasar gedung fakultasku. Tiba-tiba suara tawa kecil terdengar di sebelahku.

"Dia cemburu, hey, cemburu buta," nyanyi Juan dengan wajah sangat meledek. Aku mendelik tajam ke arah lelaki itu. Dia hobi sekali meledekku.

"Diem lo kaum friendzone," balasku dengan sinis. Juan tertawa mengikuti langkahku memasuki gedung fakultas.

"Ah, lo juga nggak ada beda," ledek Juan. Juan berbisik, "cuma dianggap teman."

Aku menyikut Juan sampai lelaki itu mengadu kesakitan. Aku tinggalkan saja dia di sana. Aku sedang tidak mood bercanda. Sedari pagi aku sudah dihadapkan dengan omelan-omelan, kemudian perutku sangat sakit yang kuduga karena memakan ayam geprek semalam, lalu melihat Jayden dan Edrea saling melempar canda tentu membuatku tambah kesal.

Aku sudah sampai di kelas dan tersenyum menyapa Neena. Belum aku mengucap kaya lain selain sapaan, Neena sudah bertanya, "Lo semalem nggak buka grup ya?"

Aku menggeleng saja, kemudian mendudukkan diri di samping Neena tepat di samping dinding. Sengaja agar aku bisa menyender selama pelajaran.

Neena menjentikkan jari di depan mataku. "Edrea cerita, semalam Jay confess."

Aku menahan helaan nafas beratku. Jujur saja, akhir-akhir ini hidupku tidak berjalan dengan mulus. Aku benci melihat mereka bahagia, namun di saat bersamaan aku juga benci diriku sendiri yang tidak bisa turut bahagia ketika temanku berbahagia. Aku tidak suka merasa seperti ini, akan tetapi hatiku benar-benar sakit.

"Jadian mereka?" tanyaku retoris. Ya, pastilah. Pertanyaan itu tercipta hanya untuk menyakiti diri sendiri.

Hanya saja, Neena menggeleng. Aku mengernyit tak paham. Melihat aku kebingungan Neena menjelaskan, "Jay confess bukan untuk jadiin Edrea pacar. Edrea juga belum mau pacaran sama Jay karena masih di tahap nyaman dan belum ada perasaan suka ke Jay. Jay paham, jadi sekarang mereka lebih ke pendekatan biar Edrea bales perasaan Jay."

Aku mengangguk. Entahlah aku merasa sedikit lega mendengar itu. Aku tidak suka kenyataan kalau aku harus menyukai pacar dari sahabatku sendiri. Aku bukan Davina —ah, dia adalah salah satu teman satu SMA-ku yang sangat populer karena sempat berpacaran dengan pacar sahabatnya sendiri. Aku tidak sehebat Davina yang bisa masuk ke celah hubungan orang lain. Aku payah dalam hal percintaan. Aku yakin bila aku menyukai pacar sahabatku sendiri, aku bisa secara impulsif mendaftarkan diri ke universitas lain alias pindah kampus hanya perkara asmara.

Bercanda. Aku tidak secupu itu, tapi mungkin aku akan titip absen selama satu minggu untuk healing hahaha. Maka jangan heran ketika lamunanku tersadar dan aku melihat keberadaan Jayden di depan wajahku, darahku masih terasa berdesir hebat. Aku meneguk salivaku ketika tangan lelaki itu berada di keningku. Apa ini? Kenapa tiba-tiba ia mengukur suhu tubuhku?

"Lo nggak demam, tapi kenapa pucet?" tanya Jayden setelah menurunkan tangan dari keningku. Aku menghela nafas lega secara pelan-pelan. Aku masih ingat keberadaan Neena dan Edrea yang tengah menatap kami. Iya, Jayden masuk kelas bersama Edrea.

"Anjir lo. Gue nggak pake liptint doang ya!" sahutku dengan sinis, sementara Jayden tertawa terbahak-bahak karena bisa membuatku begitu kesal.

"Gue beneran khawatir tau, Ran. Lo 'kan suka banget sakit-sakit ke kampus," ujar Jayden kali ini dengan nada yang serius dan pandangan mata yang menatap lurus ke arah kedua netraku.

Aku benar-benar harus perbanyak ingat Tuhan untuk menghindar dari godaan Jayden. Lagi pula kenapa harus peduli sih? Aku tidak pernah meminta dia untuk peduli. Dasar Jayden Ivander, makhluk aneh.

Shadow of The MoonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang