19: Magic Words

1.4K 200 59
                                        

⚠️ mention of kiss ⚠️

***

Aku mengernyit ketika membaca pesan dari Jayden semalam. "Gue kecewa sama lo." Begitu bunyi pesan yang ia kirimkan kepadaku. Aku mendengus. Dikira aku peduli? Jelas-jelas aku memberikan kesempatan emas bagi Jayden untuk dirawat Edrea.

Dasar tidak tahu diuntung. Jayden tidak tahu saja aku sampai harus mengirim pesan kepada Kak Theo untuk mengizinkan Edrea merawat Jayden. Malu sih, tapi Kak Theo baik kok. Tidak berbeda jauh dengan Kak Doy. They are nice.

Oh jika perihal kejadian itu, wajar kalau ia kecewa. Aku pun kecewa pada diriku sendiri. Aku tidak mengerti kenapa bisa aku melakukan hal seperti itu?

Aku tersenyum menatap Kak Doy yang sudah menungguku di depan ruang kelas. Kemudian menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisikan MoU yang dibutuhkan. "Yang ini lo kasih ke Elang ya. Bagian humas eksternal soalnya. Sisanya gue kasih aja ke yang lain, sekelas sama gue soalnya hari ini," jelas Kak Doy yang membuatku mengangguk paham.

"Okay, Kak. Makasih!" ujarku.

"Gue yang seharusnya berterima kasih. Lo semalem begadang gara-gara ngerjain ini," kata Kak Doy yang membuatku terkekeh. "Thank you ya," ucap Kak Doy dengan tulus sembari mengacak rambutku.

Kalau kalian pikir aku akan meleleh, tentu saja tidak. Pertahanan diriku kuat asal aku tidak dihadapkan dengan lelaki yang kusukai. Itu sih ... kalian sudah lihat sendiri. Ah, aku benci ketika tanpa sengaja mengingat itu.

Setelah pamit, aku masuk ke dalam kelas dan menghampiri Neena dan Winter. Sial, kursi yang tersisa hanya di sebelah Winter di mana Edrea berada di samping kananku, sementara Jayden berada di hadapanku persis. Jujur, aku masih malu dan ... entahlah. Mengingat bahwa Jayden memiliki kekesalan kepadaku karena hubungannya dan Edrea yang gagal disebabkan olehku.

Hanya saja aku tidak punya pilihan lain. Ada sih, di bangku paling belakang bersama dengan kakak-kakak tingkat yang tidak kukenal atau berasa di samping Aan yang memiliki bau badan tidak sedap. Aku lebih baik menahan malu daripada harus menahan mual, jujur.

Baru saja duduk, Edrea dan Jayden langsung menatapku. Aku menatap Winter dan Neena yang juga kini sedang menatapku dengan serius. "Apa?" tanyaku kepada Winter dan Neena.

"Lo satu kepanitiaan sama Elang?" pekik Winter tertahan. Aku hanya mengangguk. Kemudian kedua orang itu heboh. Aku bersyukur hubungan Winter dan Neena kembali membaik. Tidak lagi memikirkan kedua mantan pacar mereka yang tidak tahu diri. Setidaknya, tidak separah dulu.

"Lo pepet aja, Ran. Elang 'kan ganteng banget masya Allah. Pinter lagi!" ucap Neena yang aku hanya angguki saja.

"Gantengan juga gue." Winter dan Neena menolak mentah-mentah. Edrea hanya bisa tertawa saja. Sementara aku memilih untuk pura-pura tidak dengar. "Gantengan gue 'kan, Ran?" tanya lelaki itu kepadaku.

Aku malas sekali menjawab atau menanggapi Jayden. "Gantengan Elang," jawabku. Secara jujur sih memang Elang jauh lebih tampan, namun Elang bukanlah pemeran utama dalam ceritaku. Jadi, untuk apa?

Entah mengapa atmosfer di sekitarku terasa tidak semenyenangkan sebelumnya, aku melirik mereka. Winter, Neena, dan Edrea tengah saling mengirim kode yang terputus karena aku menatap mereka satu per satu. Kemudian netraku bertemu dengan sepasang netra milik Jayden.

Aku menaikkan sebelah alisku. Menatap malas ke arah Jayden yang tengah menatapku dalam. Ah, aku teringat sesuatu. "Eh, baru sadar. Cepet sembuh juga ya lo?" ujarku dengan nada mengejek.

Jayden tersenyum. "Iya dong. Kemarin 'kan habis dicium," kata Jayden dengan tenang.

Aku meneguk ludahku. Aku benar-benar diam seribu bahasa. Hanya bisa menatap Jayden dengan tajam. Sementara mata itu hanya menatapku dengan tenang. Aku merasa kalah. Jayden sialan. Kini ketiga perempuan di sebalahku menatap ke arah kami dengan penasaran.

Shadow of The MoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang