Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

4: Bare Minimum

1.2K 186 15
                                        

"Ran, lo suka sama Juan?" tanya Edrea begitu perempuan berparas cantik itu duduk di sebelahku. Kebetulan kami baru saja menyelesaikan kelas dan langsung menuju kantin untuk membeli makanan sembari menunggu Winter dan Neena.

Aku merengutkan bibirku, lalu bedecak tidak suka. Sudah bisa kutebak Edrea pasti mendengar hal itu dari lelaki yang sedang dekat dengannya, Jayden. "Jangan percaya sama Jayden deh, Re," ujarku.

Tiba-tiba saja suara bariton menyahut, "Ey, emang bener kali? Kemarin gue lihat lo lagi di Starbucks bareng Juan."

Aku mendelik malas. Bagaimana bisa aku melakukan saran Juan kemarin untuk tetap ramah kepada manusia bernama Jayden ini? Lelaki tam— lupakan, maksudku menyebalkan di hadapanku ini tengah memasang wajah meledek. Sementara Edrea tertawa kecil melihat tingkah antara aku dan Jayden.

"Ya emang kenapa kalau nongkrong bareng sih? Nggak ada korelasi sama perasaan, Jay," tampikku.

Jayden masih keukeuh dengan pendiriannya pun kembali mendebatku. "Kalau yang ngomong gitu si Jo sih gue percaya, tapi ini Ranaya yang ngomong."

Aku menghela nafas masih berusaha menahan diri agar tetap menanggapi Jayden baik-baik. Karena kata Juan begini, "Saran gue sih, kalau lo nggak bisa deket sama dia sebagai gebetan, coba dulu deket sebatas temen. Anggap dia temen lo kayak lo anggap gue sama Jo. Siapa tau perasaan lo bisa hilang karena terbiasa menganggap dia temen. Lia sering tuh bilang kalau cewek susah suka sama orang yang udah dianggap temen. Lagi pula, siapa tau lo bisa masuk ke dalam hidup Jayden dengan buat dia nyaman? Pacar bisa putus, kalau temen nggak, Ran.

Menurutku, saran Juan tidak begitu buruk meskipun Jayden sangat menyebalkan karena terlalu bucin kepada Edrea. Oh, tentu saja aku tidak berharap bisa masuk ke dalam celah hubungan Jayden dan Edrea. Aku hanya berharap bisa menganggap Jayden sebagai teman, seperti Jayden yang menganggapku hanya sebatas teman.

"Ya, kalau gue yang ngomong emang kenapa?"

Jayden kini sedang menyuapi tahu walik yang sudah ia belah-belah untuk menghilangkan panas kepada Edrea. Aku bisa melihat wajah Edrea yang tersipu malu hingga wajah gadis itu memerah. Jayden menjawab, "Gue kenal lo dari tahun lalu, tapi nggak pernah tuh jalan bareng berdua doang."

Belum sempat kujawab Edrea sudah menyahut, "Eh, iya. Juan itu cowok pertama yang jalan berdua sama lo tau, Ran. Selama ini banyak cowok deketin lo aja lo nggak pernah mau."

Jayden menjentikkan jari yang menandakan ia juga setuju. Hal itu tentu membuatku terdiam.

"Re, gue nggak mau dideketin cowok-cowok itu karena gue suka sama cowok yang lagi deketin lo. Gue nggak mau jadiin mereka pelampiasan cuma karena gue nggak bisa dapet perhatian dari cowok yang selalu menaruh perhatiannya ke lo. Gue mau jalan sama Juan karena gue tau Juan juga nggak melihat gue sebagai gebetan. Gue tau Juan cuma anggap gue temen, jadi gue nggak perlu takut ada perasaan lain di antara gue dan Juan." Sayang, kalimat-kalimat itu tertelan kembali tanpa berani aku utarakan.

Aku hanya mengendikkan bahu dan berkata, "Yaudah terserah kalian deh."

***

Aku berdecak pelan ketika harus satu kelompok dengan Jayden dan Edrea. Untung saja Jayden mengajak Juan untuk bergabung. Aku tahu niat lelaki itu apa di balik mengajak Juan. Bisa kulihat Jayden sedang mengedipkan sebelah matanya, menggodaku yang bisa satu kelompok dengan Juan. Edrea yang melihat itu pun terkekeh, sementara aku diam-diam meleleh.

Bodoh bukan? Mungkin kalau ada penghargaan sebagai orang terbodoh karena perasaan aku bisa memenangkannya. Aku juga benci kok merasa seperti ini. Padahal Jayden hanya meledekku, tapi bisa-bisanya aku merasa gejolak aneh seperti rasa senang yang membuncah hingga senyumku sulit untuk kutahan.

Shadow of The MoonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang