3: Obviously Hiding

1.2K 211 32
                                        

Mengapa menyingkirkan seseorang dari benak kita terasa begitu sulit? Semakin kita mencoba untuk melupakan, semakin pula ingatan kita memutar kembali ingatan tentang dia. Tentang hal yang kita sukai darinya hingga hal yang paling ia cintai di dunia. Hal-hal aneh yang ia pernah ia lakukan dan semakin aneh lagi ketika hal tersebut membuat kita semakin jatuh dalam pesona yang ia miliki.

Jikalau bisa aku memilih, aku tidak ingin merasakan jatuh cinta kepada Jayden.

Aku ingin jatuh kepada orang yang mau dan bersedia untuk menangkapku. Aku ingin orang itu merasa enggan untuk membiarkanku terluka. Namun lagi-lagi aku jatuh pada ia yang hanya bisa kulihat lekat-lekat bayangnya dan dalam diam kusyukuri hadirnya. Lagi-lagi, aku jatuh pada orang yang tidak bisa kugapai.

Aku mendengus ketika melihat layar laptop di hadapanku. Bodoh sekali, aku sampai salah menulis kata "judicial" menjadi "Jayden". Aku menghapus kata itu dengan segera. Kemudian menutup laptopku dengan kesal, namun tetap pelan. Ah, harga laptop itu mahal dan aku tidak memiliki uang untuk service. Tentu aku tidak akan membiarkan hidupku jadi semakin kacau hanya karena satu lelaki.

Hanya saja aku benci situasi seperti ini. Aku ingin bercerita, namun tidak tahu harus bercerita pada siapa. Memang aku memiliki banyak teman di luar lingkar pertemananku dengan Edrea, Winter, dan Neena, tetapi aku tetap saja bingung harus memulai dari mana. Aku terbiasa menahan semua perasaan sendiri sehingga sulit untukku terbuka dengan orang lain.

Aku mengetuk-ngetukkan kepalaku ke meja dengan pelan. Aku tidak peduli pengunjung kafe lain menganggapku aneh. Toh, mereka tidak ada yang mengenalku. Lagi pula kafe ini sedang sepi pengunjung. Tidak apalah, setidaknya nama lelaki itu bisa keluar dan bisa membuatku fokus dengan tugasku.

Tunggu sebentar. Kenapa tiba-tiba aku merasa meja ini melunak? Aku menoleh dan menemukan sebuah telapak tangan yang menahan kepalaku. Aku mendongak dan menemukan kehadiran Juan yang sedang menyengir. Lalu, aku menoleh ke samping Juan. Aku menemukan Jonathan juga ada di sana.

Duh, untung saja tidak ada Jayden. Aku benar-benar sangat malas dengan dia. Maksudku bagaimana bisa ia berpikir bahwa aku menyukai Juan? Ugh.

"Boleh gabung?" tanya Juan dengan senyum lebar. Huh, manis sekali, akan tetapi tidak semanis kedua lesung pipi yang seolah membingkai senyum Jayden. Ah, aku apa-apaan sih.

***

Aku terdiam. Aku benar-benar tidak percaya. Maksudku, bagaimana bisa Juan dan Jonathan menyadari perasaanku pada Jayden? Aku merasa tidak pernah menunjukkan gelagat menyukai lelaki bernama Jayden itu secara terang-terangan. Aku selalu bersembunyi di balik topeng jutek yang bahkan Jayden pun menganggap aku menyukai Juan karena aku ramah pada Juan, sementara tidak padanya. Lalu, teman-temanku yang lain pun tidak menyadari perihal perasaanku.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali setelah Juan dengan santai berkata, "Kita tau kok lo suka sama Jay."

"Kok bisa?" Bukan elakkan, aku malah mempertanyakan itu. Ya, tentu saja membuat aku secara tidak langsung mengiyakan hal tersebut.

"Isn't it obvious, Ran?" tanya Jonathan. "I think it shows from the way you treat him, the way you talk to him, even the way you look at him," jelas Jonathan yang lagi-lagi membuatku menganga.

Kemudian aku melihat ke arah Juan. Kulihat lelaki itu mengangguk setuju. "Lo ramah ke kita, tapi nggak ke Jay. Setiap Jay puji hasil kerja lo, lo pasti senyum kalau Jay udah nggak ada," ujar Juan.

Lalu Jonathan menambahkan, "Kejadian yang buat gue sadar adalah tiap kali Jay titip sesuatu buat Edrea, raut wajah lo bukan cuma kesel, tapi juga ada sedih dan kecewa."

Aku benar-benar terkejut. Kalau orang yang tidak begitu dekat denganku menyadari itu, apakah teman-teman dekatku seperti Winter, Neena, dan Edrea sadar? Akan tetapi jika aku melihat tingkah mereka yang terus mendorong Edrea untuk peka kepada Jayden, sepertinya tidak mungkin mereka mengetahui perasaanku.

Shadow of The MoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang