Myungsoo masuk rumah neneknya dan mendapati ayahnya yang sedang bergurau dengan nenek dan ibunya sambil merapikan bonsainya. Ia tersenyum kecil kemudian berjalan ketaman. Mereka tersenyum melihat Myungsoo yang bersandar pada pintu dengan tangan yang dilipat didada.
"Kalian terlihat bahagia." Ucap Myungsoo dengan tersenyum lebar.
"Anakku kemarilah. Bukankah bonsaiku ini sangat indah?." Panggil appanya.
"Eum, sepertinya ada dua bunga yang lebih indah disini. Dua nyonya kim-ku ini menyilaukan mataku." Ucapnya sambil memeluk nenek dan ibunya.
"Tentu saja, bonsaiku tidak ada apa-apanya dibanding mereka." Timpal appanya sambil melepaskan sarung tangannya.
"Bagaimana keadaan tn. Bae?." Tanya appanya sambil duduk di meja taman kecil itu.
"Beliau sudah sadar kemarin. Aku belum mengabari kalian, karena aku pikir belum saatnya kalian menjenguknya." Jawab Myungsoo sambil menerima cup teh yang dituangkan oleh ibunya.
Mereka terdiam cukup lama kemudian ayahnya menaruh cup ditangannya dan menyatukan kedua tangannya. Menggenggamnya dengan erat.
"Suzy, aku harap kau belum memberitahunya. Ini pasti berat untuknya." Ucap Appanya. Myungsoo menunduk dan tersenyum kecil.
"Aku tau appa." Jawab Myungsoo. Ia menghela nafasnya kemudian menengadah. Menutup matanya membiarkan matahari mencium kulit wajahnya.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana patahnya dia mendengar kabarku yang sakit disaat hatinya yang rapuh karena ayahnya. Parkinson bukan penyakit main-main yang bisa disembuhkan. Sama saja aku memintanya masuk kedalam sangkar buaya didalam kantong kanggurunya." Lanjut Myungsoo.
"Myungsoo." Ucap ibunya serak.
"Aku tau ibu. Aku tidak harus berpikiran senegatif ini. Tapi ini kenyataannya. Mau bagaimana." Balas Myungsoo.
"Aku istirahat dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit siang ini." ujar myungsoo langsung bergegas masuk kedalam rumah.
--------|||------
Jieun yang melihat Suzy masuk ke rumah sakit dengan tergesa-gesa dengan segera menghampirinya.
"Hey, gwencana?" tanya Jieun menghentikan Suzy.
"Ah, gwencanha. Aku hanya lelah." Balas Suzy.
"Kau dari luar?." Tanya Jieun.
"Aku kembali ke rumah untuk mengambil baju ganti." Jawab Suzy sambil menyibakkan rambutnya.
"Kau tidak benar-benar baik-baik saja kan?." Tanya Jieun lagi sambil berhenti. Suzy ikut berhenti. Berbalik menatap Jieun kemudian tersenyum masam.
"Bagaimana bisa aku baik-baik saja. bukankah kondisiku ini wajar mendapat belas kasihan." Jawab Suzy.
Suzy menghela nafas. Berjalan mendekati Jieun kemudian memegang kedua bahu Jieun. Mengelusnya pelan.
"Aku mengatakan aku baik-baik saja karena aku ingin orang lain berpikir seperti itu tentang kondisiku. Jadi anggap saja seperti itu."
------------|||------------
Myungsoo menghidupkan lampu kamar dan mendapati Suzy yang sudah berbaring di tempat tidur. Meringkuk membelakanginya, tertidur. Ia menatapnya lama kemudian membersihkan tubuhnya. Menaruh baju kotornya di keranjang kemudian ikut berbaring disebelah Suzy.
"Pasienmu banyak hari ini?." Tanya Suzy.
Myungsoo memiringkan badannya. Menatap punggung Suzy diam. Suzy yang tak mendengar suara Myungsoo dengan segara berbalik. Menatap Myungsoo yang tampak lelah.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Present From Heaven
RomanceCerita tentang cinta yang terpisahkan karena sebuah ego dan kesalahpahaman. Perjuangan Seorang dokter menemukan jati dirinya dan cintanya.