Chapter 24

432 92 15
                                    

Suzy yang masuk kedalam ruangan halmeoni itu berjalan mendekati ranjang halmeoni kemudian duduk disebelahnya. Memijat tangannya dengan lembut sambil sesekali terhanyut dalam pikirannya. Sudah seminggu halmeoni dirawat dan Suzy baru bisa menemuinya kali ini.

"Kau baik-baik saja?." Tanya halmeoni tiba-tiba.

"Halmeoni." Seru Suzy terkejut. Tak sadar jika halmeoni sudah terbangung sejak tadi.

"Aku tanya, apa kau baik-baik saja?." Tanya halmeoni.

"Geuromyeo. Tapi bukankah seharusnya saya yang menanyakan hal itu kepada halmeoni. Saya tidak percaya jika orang bilang bukan saya yang membuat halmeoni seperti ini." Jawab Suzy.

"Heh, lupakan. Aku sudah tua, penyakit bersarang ditubuhku." Elaknya.

"Kau wanita yang baik. Maaf tentang ucapan Myungsoo malam itu." Ucapnya memegang kedua tangan Suzy.

"Anieyo. Saya juga bersalah dalam hal itu." Sergah Suzy.

"Aku tau aku tak berhak mengatakannya, tapi karena aku neneknya aku hanya akan melakukan apa yang membuat cucuku bahagia. Suzy, aku sangat menyukaimu jadi kumohon kalian menyelesaikan masalah kalian dan pilih jalan terbaik untuk kalian." Ucapnya panjang. Memberikan jeda yang cukup lama untuk Suzy membalasnya.
"Aku tak ingin kau lebih terluka." Lanjutnya.

------------|||----------

Siwan yang duduk dimeja kerjanya dengan mata tertutup dan tangan menyatu itu dikejutkan dengan suara pintu ruangannya yang dibuka oleh Myungsoo yang masuk kedalam dengan berkas ditangannya.

"Aku ingin mengingatkan lagi bahwa Tn. Bae akan mulai opname mulai rabu depan." Ucap Myungsoo seakan menghindari percakapan yang tidak perlu.

"GCU." Ucap Siwan singkat. Mengangkat alisnya menunggu jawaban Myungsoo.

"Gwencanhayo. Bukan apa-apa." Jawab Myungsoo berusaha menyembunyikan hasil pemeriksaannya.

"Anda tentu saja tidak bisa membohongiku. Sejak kapan anda tau?." Tanya Siwan sambil memutar layar komputernya kearah Myungsoo. Menunjukkan laporan pemeriksaan Myungsoo yang tentu saja ada ditangannya sebagai penanggung jawabnya.

"Sudah lama." Jawab Myungsoo seadanya.

"Anda yakin akan baik-baik saja selama operasi itu?." Tanya Siwan lagi. Bukan tak percaya dengan Myungsoo. Ia hanya merasa khawatir jika tremor Myungsoo tiba-tiba kembali.

"Anda juga akan ada disana. Anda tak perlu khawatir." Jawab Myungsoo. Benar-benar tak menunjukkan kegelisahan disetiap kata yang ia ucapkan.

"Suzy." Ucap Siwan terputus ketika Myungsoo memajukan tangannya. Menghentikannya melanjutkan kalimatnya.

"Sebaiknya anda tak memberitahunya." Pinta Myungsoo kemudian berbalik dengan cepat. Enggan memulai pembicaraan yang tidak perlu itu.

"Gyusunim." Panggil Siwan ketika Myungsoo hendak menutup pintu.

"Jika solusi anda adalah meninggalkannya, tolong buat dia sangat kesakitan hingga memikirkan anda pun enggan. Lebih baik menyakitinya seperti itu daripada ia merasa menderita mengetahui pria yang dicintainya harus menderita disaat yang sama." Ucap Siwan. Terdengar sangat dingin dan tak berperasaan.

"Memang itu yang ingin saya lakukan. Akan lebih menyakitkan melihatnya harus bersama denganku yang semakin lama akan kehilangan kemampuanku dan merubahnya menjadi wanita yang menderita dan putus asa." Balas Myungsoo tak kalah dingin. Entah bagaimana ia bisa dengan tenang mengatakannya, tapi tidak ada keraguan disana. Merancanakannya seperti ia tak merasa bersalah, padahal ia sangat mengkhawatirkan masa depannya.

A Present From HeavenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang