Title : A Present From Heaven
Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy.
Genre : Romance.
Author : Monita a.ka Kim98happyend
A/N : All cast is important FF ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tokoh, tempat, kejadian, dan isi cerita itu hanya kebetulan Semata.
Disclaimer : Cast bukan milik author. Disini author hanya meminjam nama mereka untuk keperluan cerita semata. FF ini Pure dari Imajinasi Author. Siapapun yang baca ff ini harus dan wajib meninggalkan jejak, jangan jadi pembaca gelap atau pembaca misterius. Typo harap dimaklumi. Jika ada data Pribadi Cast yang dirubah, harap dimaklumi. It's FF right !!!
No Bash
No Copas
No Silent
Happy Reading !!!Suzy berjalan sambil sesekali menganggukkan kepalanya pada orang yang menyapanya. Ia telah menguatkan hatinya dan meyakinkan dirinya sendiri hingga akhirnya ia merasa sangat berbeda belakangan ini
Drrrt.....
Suzy merogoh sakunya dan mengambil ponselnya yang bergetar. Membaca pesan masuk itu.
"Selamat pagi. Aku sudah minum susuku. Terima kasih. Semoga harimu menyenangkan. Aku mencintaimu." Tulis Myungsoo disana membuat Suzy tersenyum kecil.
"Setelah sengaja melakukan hal seperti itu kepadaku." Gumam Suzy masih sambil tersenyum kemudian menggerakkan jemarinya dengan lincah diatas layar ponselnya.
"cham na, terlalu cheesy." Balas Suzy. ia tersenyum seperti anak sma yang kasmaran dan kembali melangkahkan kakinya dengan ringan.
Tanpa ia sadari Siwan yang tadi hendak menyapanya dan melihat semuanya menghela nafasnya panjang. Melihat perubahan Suzy yang semakin terlihat itu.
"Orang itu pasti sudah banyak memperbaiki hubungan mereka hingga bisa membuat Suzy membuka pintunya lebih lebar lagi untuknya." Ucap Siwan yang entah kenapa terdengar sangat miris.
———————-||||————————-
Jieun memasang wajah ngerinya sambil mengunyah makanannya dengan kasar, Juhwan yang tampak tak peduli tampak menonjol diantara kerumunan fellow rumah sakit ini.
"Kenapa aku merasa kesal sekali dengan dokter pshyco itu." Ucap Jieun nyaris mengumpat.
"Nugu pshyco?." Tanya Juhwan.
"Bae Suzy." Jawab Jieun terus terang.
"Waeirae?. Terjadi sesuatu?." Tanya Juhwan kemudian.
"Apa kau tidak menyadari perubahannya?. Wah, dia benar-benar menjengkelkan. Akhir-akhir ini ia seperti bukan dirinya. Dokter yang bahkan melakukan tugas yang seharusnya dilakukan asisten bedahnya kini membiarkan asistennya melakukan semua persiapannya. Dokter yang selalu menggunakan kata-kata yang tajam pada pasiennya kini berbicara dengan lembut seperti berbicara dengan mertuanya. Apa kau tak sadar itu?." Cerocos Jieun murka.
"Aa, kau ada ." Jawab Juhwan super singkat.
"Hanya itu?. Reaksimu benar-benar mengecewakan." Ucap Jieun kesal.
—————-.
"gibun eotteosaeyeo?." Tanya Suzy.
"Tentu saja tidak enak. Aku baru saja kecelakaan." Jawab pasien yang berbaring dengan perban di kepala dan gips ditangannya itu."
"Anda perengek ya setelah mengalami kecelakaan tunggal seperti itu." Komentar Suzy.
"Saya tidak yakin anda seorang dokter dengan cara anda berbicara seperti itu." Balasnya.
"Aigo, tidak menyangka setelah hampir membuat kepala anda remuk anda masih bisa merengek seperti itu. Membuatku terbawa suasana." Senyum Suzy.
"Sungjae, periksa vitalnya. Jika sudah normal ajukan surat pemindahan." Ucap Suzy pada Sungjae yang sejak tadi bersamanya.
"Ne, algeuseumnida." Balas Sungjae mengerti.
"Saya pergi dulu. Selamat beristirahat." Ucap Suzy sambil tersenyum manis.
"Gumapseumnida." Ucap Pasien itu.
"Anieyo, ini sudah tanggung jawabku." Ucap Suzy dengan bijak dan senyum lembut dibibirnya. Tidak seperti biasanya. Membuat Sungjae merinding mendengarnya.
"Oh ya Sungjae, bisa kau hubungi bagian orthopedi. Tadi asisten Prof. Kim mengabari bahwa mereka akan melakukan check up terakhir mereka siang ini." Pinta Suzy selaku penanggungjawab Myungsoo. Seperti yang diperintahkan untuknya.
"Ah, majayo, ini sudah 3 minggu setelah Prof. Kim keluar dari rumah sakit. Sepertinya ia akan segera kembali kesini." Gumam Sungjae.
"Kau merindukannya?. Kau bahkan tak dekat dengannya." Komentar Suzy.
"Ini karena Grup Chatku tidak seramai biasanya." Ucap Sungjae lesu. Miris sekali melihat namja yang gemar bergosip sepertinya.
"Ameutdeun, jalbutakhae." Ucap Suzy.
"N..nde. algeuseumnida." Balas Sungjae tersentak dengan kata pendek yang terdengar sangat manis itu keluar dari mulut Suzy.
————-.
kembali pada Juhwan dan Jieun. Sungjae berjalan cepat kemudian mendudukkan tubuhnya disamping Juhwan. Menyerobot pembicaraan mereka.
"Majayo. Aku juga merasa seperti itu." Ucap Sungjae dengan tatapan setujunya.
"Wae wae wae?." Tanya Jieun penasaran.
"Beberapa minggu ini aku memang jarang mendengar teriakan dan bentakan darinya, UGD terasa begitu tenang. bahkan para anak magang terlihat sangat santai dengannya." Jawab Sungjae bergidik. Kontras dengan kata-katanya.
"Lihatkan, aku benar-benar penasaran dengan Suzy kali ini." Ucap Jieun.
"Ya Tuhan, kau teman dekatnya tapi kau seperti tak mempercayainya. Jika ia sudah siap memberitahumu nanti dia juga akan memberitahumu." Ucap Juhwan bijak.
"Sunbae, jangan berbohong. Aku tahu anda penasaran." Ucap Jieun dengan formal. Juhwan berdeham pelan kemudian memajukan tubuhnya.
"Sebenarnya aku melihat pria mencurigakan yang sering menjemput Suzy akhir-akhir ini." Bisik Juhwan.
"Mwo?." Seru Jieun dan Sungjae kaget. Juhwan kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang ia ambil. Terdapat Suzy dan seorang namja dengan tubuh gempal yang tidak lain adalah Kibang. Tentu saja mereka lagi-lagi salah paham
"Aku seperti pernah melihatnya." Gumam Sungjae samar.
"Ey, solma. Ini tak mungkin tunangannya." Ucap Jieun tak percaya.
"Mungkin ini alasan kenapa Suzy tidak memberitahumu tentang tunangannya." Timpal Juhwan.
"Ey." Desis Jieun tak percaya. Mereka saling bertukar pandang dan berharap apa yang mereka lihat adalah ilusi semata.
———————-|||——————-
Suzy duduk di kursi taman rumah sakit sambil menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam. Meregangkan ototnya yang mulai kaku karena terlalu banyak bekerja.
"Neo yeoggine." Ucap Myungsoo sambil berjalan kearah Suzy yang membuka matanya dan tersenyum padanya.
"Check Upnya sudah selesai?." Tanya Suzy perhatian.
"Eoh, mereka bilang aku sudah baik-baik saja." Jawab Myungsoo.
"Syukurlah." Seru Suzy lega.
"Bagaimana perasaanmu. Kau akan sering melihatku lagi sekarang." Goda Myungsoo.
"Eum, johayo." Senyum Suzy dengan lembut.
"Kupikir kau akan sering pulang karena aku sakit. Tapi itu tidak berlaku sama sekali." Ucap Myungsoo lesu.
"Mianhae, kau tahu bagaimana repotnya dan tak mau susahnya aku. Ini bukan karena aku menghindarimu atau aku tak memiliki waktu. Ini karena kebiasaanku." Balas Suzy menyesal.
"Gwencana, aku tahu kau lebih nyaman berada di rumah sakit. Kita selalu bertemu saat aku check up dan saat kau pulang untuk mengambil baju gantu. Kau lebih sering menelponku sejak hari itu. Lebih lembut kepadaku dan sedikit berubah. Aku menyukainya." Ucap Myungsoo
"Karena aku tak ingin kau pergi dariku." Ucap Suzy terus terang.
"Oh, kau jarang mengatakan hal cheesy seperti ini. Aku nyaris dibuat meleleh olehmu." Goda Myungsoo tersenyum lebar.
"dwaesseo. Pulanglah, aku akan kedalam dan beristirahat. Jangan terlalu sering menggerakkan lenganmu dan banyak istirahat." Ucap Suzy menatapnya penuh sayang.
"Geokjeongma. Aku tak akan membuatmu memiliki banyak beban pikiran." Ucap Myungsoo mengelus kepala Suzy.
"Hey." Seru Suzy menurunkan tangan Myungsoo dari kepalanya.
"Bagaimana jika ada yang melihat?." Lanjut Suzy dengan was-was.
"Aku tak peduli." Balas Myungsoo malah memeluk Suzy dengan erat.
"Ah, Jangan terlalu memaksakan dirimu dengan pekerjaanmu. Sebentar lagi aku sudah kembali bekerja, jadi kau harus banyak istirahat." Ucap Myungsoo.
"Arrasseo." Balas Suzy melepas plukan Myungsoo. Takut jika ada yang melihat mereka.
"Telpon aku jika kau merindukanku." Goda Myungsoo.
"Ck, yang benar saja. Pulang sana." Desis Suzy kemudian berlalu pergi. Membuat Myungsoo tak bisa menahan tawanya.
"Hey, bukannya kau yang memintaku untuk menemuimu disini. Dasar yeoja itu." Kekeh Myungsoo.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Present From Heaven
RomanceCerita tentang cinta yang terpisahkan karena sebuah ego dan kesalahpahaman. Perjuangan Seorang dokter menemukan jati dirinya dan cintanya.