Suzy yang berhasil pergi dari hadapan Myungsoo itu berhenti di atap. Menjatuhkan tubuhnya bersandar di dinding ujung atap kemudian meringkuk. Nafasnya terasa tersengal dengan mata yang mulai memerah.
"Kenapa aku menangis?." Tanyanya pada dirinya sendiri. Mencoba mencegah tangisannya.
"Aku mencintainya, tapi ada apa dengan perasaan ini." Ucapnya lagi semakin terisak.
"Aku tak ingin dia pergi lagi." Isak Suzy memeluk lututnya dengan tubuh yang bergetar itu.
Siwan yang sudah ada disana sebelum Suzy datang dan tak menyadarinya itu menatapnya dalam. menjatuhkan puntung rokoknya dengan lemas tak kuat melihat wanita yang sangat ia sayangi itu terlihat menyedihkan. untuk pertama kalinya terlihat sangat menyedihkan dimatanya.
-----------|||-----------
Myungsoo yang telah ada diruangannya itu menghela nafasnya dengan berat. Menjatuhkan tubuhnya di kursinya itu kemudian memejamkan matanya dengan kepala menengadah. Nafasnya terdengar tak beraturan.
"Aniya." Ucapnya membuka matanya yang mulai berair itu. Menghela nafasnya panjang menenangkan jantungnya yang berdetak tak beraturan itu.
"Aku memang harus menyakitinya atau dia akan lebih kesakitan jika mengetahui kebenarannya." Ucapnya penuh tekad.
Menegakkan tubuhnya dan membuka dokumen rekam medis appa Suzy lagi. Memfokuskan dirinya semampunya.
Krek...
Myungsoo yang tersentak mendengar suara pintu ruangannya terbuka itu dengan reflek mematikan komputernya. Sungjae yang ternyata membuka ruangannya itu menatapnya dengan heran. Begitu pula dengan Myungsoo yang tak mengira orang yang masuk itu adalah Sungjae.
"Oh, Sungjae. Apa kau memerlukan sesuatu?." Tanya Myungsoo sesantai mungkin.
"AH, sebenarnya." Ucapnya terbata setelah mengetahui kebenarannya sementara Myungsoo menunggunya melanjutkan kalimatnya.
"Aniyo. Gwencanhayo. Jalbutakdeurimnida." Ucapnya kemudian menaruh cokelat dengan merk yang cukup mahal itu di meja Myungsoo dengan senyum kikuk.
"Untuk apa?." Tanya Myungsoo heran.
"Aniyo, jalbutakdeurimnida." Jawab Sungjae kemudian menutup pintu ruangan Myungsoo dengan cepat. Meninggalkan Myungsoo yang masih dengan wajah penuh tanyanya.
Sungjae yang masih berada diluar itu memegangi dadanya yang entah kenapa berdetak cukup kencang. Ia mengatur nafasnya agar detak jantungnya melambat itu mengerutkan keningnya ketika melihat Jieun yang berjalan kearahnya dengan bingkisan ditangannya. Dengan cepat ia bersembunyi dan menganga melihat Jieun masuk ke ruangan Myungsoo.
"Ternyata bukan aku saja." Tawanya hambar.
"Tentu saja mereka ingin berbuat baik pada calon suami sahabatnya. lagi pula mereka kaya, apa yang bisa kami berikan pada konglomerat seperti mereka." Dumel Sungjae sambil berjalan menjauh.
--------------|||-------------
Berhari-hari telah berlalu dan Suzy tetap konsisten menghindari Myungsoo. Berpura-pura tak menyadari keberadaan Myungsoo dan berpegang pada tekadnya yang tak akan memaafkan Myungsoo jika ia tak maaf dengan tulus.
"Hey, gwencanha?." Tanya Jieun yang sudah tau kebenaran itu. Bingung dengan gelagat keduanya.
"Eung." Jawab Suzy singkat mengaduk makannya tak selera.
"Wae?. Nafsu makanmu menurun akhir-akhir ini." Tanya Jieun yang sadar dengan pola makan Suzy belakangan ini.
"Keunyang." Jawab Suzy seadanya lagi.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Present From Heaven
RomanceCerita tentang cinta yang terpisahkan karena sebuah ego dan kesalahpahaman. Perjuangan Seorang dokter menemukan jati dirinya dan cintanya.