Setelah berganti pakaian, Jangmi meringkuk di kamar Deiji sambil masih menangis. Appa masuk menghampirinya. Jangmi tak berbalik. Appa mengelus lembut rambut Jangmi yang masih basah.
"Minumlah, appa buatkan susu coklat hangat" kata Appa pelan. Jangmi tak bereaksi. Ia diam saja "appa tak akan menyalahkanmu jika kau juga menyukainya, Deijiah. Siapa yang sanggup menahan perasaan itu terlalu lama"
"Tapi ia kekasih Jangmi, Appa"
Appa menerawang.
"Appa ingat ketika kami berpisah. Adikmu seharusnya ikut dengan appa, dan kau tinggal bersama ibumu" Jangmi berhenti menangis. Ia tertegun. "Bahkan pengadilan sudah memutuskannya". Appa diam. Jangmi berbalik.
"Appa" kata Jangmi pelan.
"Kau pasti tak mengingatnya" kata Appa tersenyum getir "kau tak sengaja mendengar keputusan itu dan melompat ke arahku. Kau bilang akan mengalah dan membiarkan adikmu tinggal bersama Eomma. Saat itu appa mengatakan bahwa hidupmu dengan appa tak akan pasti di masa depan. Tapi kau berkeras, karena tak mau Jangmi merasakan resiko yang sama. Kau selalu ingin Jangmi hidup dengan baik. Tak peduli pada kehidupanmu sendiri. Kau hidup susah bersama appa"
Air mata Jangmi luruh lagi.
"Sekarang kau akan menyerah lagi padanya, Deiji?"
Jangmi menangis lagi. Ia tak pernah tau soal ini selama bertahun-tahun. Deiji mengorbankan dirinya karena begitu menyayangi Jangmi. Selama ini Jangmi membenci Deiji dan Appa karena membiarkannya hidup bersama Eomma di desa. Eomma begitu protektif dan tak menyukai Jangmi dekat dengan musisi termasuk Hyunsik pada awalnya. Eomma takut hidup Jangmi akan berakhir sama sepertinya kala itu.
Appa mengusap kepalanya pelan.
"Sudah, cobalah untuk tidur" kata Appa meninggalkan Jangmi sendirian.
Tentu saja Jangmi tak bisa tidur dengan cepat. Bahkan Hyunsik tak menghubunginya malam ini.
***
Hyunsik kembali ke dorm dalam kondisi basah kuyup. Ia membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di ranjang tidur. Ia melamun. Tak menghiraukan Ilhoon yang sedang membaca buku disampingnya.
"Kau kenapa?" Tanya Ilhoon. Hyunsik menatap adiknya itu. Ilhoon menutup bukunya.
"Aku mencium Deiji. Aku menyukainya" kata Hyunsik dingin. Ilhoon menghela nafas panjang dan melemparkan buku yang ia baca dengan keras ke arah Hyunsik.
"Kau brengsek, Lim Hyunsik!" Katanya tajam. Hyunsik diam saja. Ilhoon adalah orang terdekatnya yang benar-benar ia sayangi. "Aku berusaha membuatmu jadi orang tak akan pernah bisa menyakiti hati wanita. Mereka bahkan saudari" kata Ilhoon. Hyunsik tau ia sangat bersalah.
"Aku harus bagaimana?"
"Tanya perasaanmu. Mana yang kau cintai, mana yang hanya kau kagumi karena memiliki banyak kesamaan. Apakah dia juga menyukaimu?" Tanya Ilhoon tajam. Hyunsik menggeleng.
"Aku tak tau, aku tak bertanya. Ia menangis".
"Tentu saja, kau membuatnya merasa bersalah pada Jangmi sekarang"
Tepat, semua perkataan Ilhoon tepat. Hyunsik tak bisa tidur. Ia bahkan tak mampu mengucapkan selamat malam pada Jangmi dan merasa sangat bersalah. Bagaimana mungkin ia membohongi dan mengkhianati Jangmi.
***
Keesokan paginya Jangmi bersiap pulang. Ia sengaja berpakaian seperti Deiji. Ia pamit kepada Appanya.
"Kau mau pergi?" Tanya appa
"Oooh, aku harus pergi ke suatu tempat" Jangmi hanya ingin pulang bertemu Eomma. Ia mengirimi Deiji pesan singkat bahwa ia akan pulang pagi itu.
"Deijiah" panggil appa. "Tak membawa gitar barumu?"
Jangmi menatap nanar tas berisi gitar baru untuk Deiji itu. Pemberian kekasihnya. Ia mengangkatnya.
"Tentu saja aku akan membawanya, appa" ia menenteng tas itu dan berpamitan sekali lagi. Pulang naik bis dan menangis sepanjang perjalanan.
***
Sudah berhari-hari Jangmi sulit Hyunsik hubungi, sekalinya bisa dihubungi ia akan bilang kalo ia sibuk. Hyunsik resah.
"Sebaiknya kau temui Jangmi. Aku khawatir dia kenapa-kenapa" kata Eunkwang. Changsub mengangguk setuju.
Hyunsik hanya sedang tak punya muka untuk menemui Jangmi. Sejak kejadian dengan orang yang disangkanya Deiji beberapa hari lalu, entah kenapa ia takut dan malu menemui Jangmi. Bagaimana jika ia menatap matanya yang berbinar-binar itu?, senyumnya yang ceria dan pelukan manjanya yang hangat?. Hyunsik malu.
"Aku mau ke suatu tempat" kata Hyunsik bangkit dari duduknya.
Hyunsik mengemudikan mobil Eunkwang dengan santai. Hari ini ia ingin menyetir sendiri. Entah kenapa perasaannya benar-benar tak enak. Ia menghentikan mobil itu tak jauh dari toserba. Ia diam dan menatap Deiji dari dalam mobil.
"Aku juga akan menyakitimu pada akhirnya" katanya pelan. Ia kenakan kacamata hitamnya dan berjalan ke arah toserba. Deiji tersenyum dingin saat melihat Hyunsik datang.
Hyunsik membeli minuman kaleng dan duduk di luar toserba menunggu Deiji menghampirinya. Ia sedang melayani beberapa tamu yang datang.
Deiji menghampirinya dan duduk berhadapan.
"Kenapa kau datang kesini? Aku sedang bekerja" kata Deiji.
"Aaaah, aku datang untuk mengatakan banyak hal" Hyunsik menghela nafas. Deiji diam saja. Membuang pandangannya ke tempat lain.
"Deijiyah ... " Hyunsik memulainya "... lihat aku" Hyunsik melepaskan kacamata hitamnya dan mereka bertatapan dalam "kau menyukaiku?" Tanya Hyunsik. Deiji mengerutkan kening dengan bingung. Ia membuang lagi pandangannya dari lelaki itu.
"Kalaupun aku menyukaimu, aku tak bisa berbuat apa-apa, kan?. Aku tak mau menyakiti adikku" katanya pada Hyunsik.
Ada keheningan lama disana membuat rongga antara Hyunsik dan Deiji.
"Ya, oppa. Aku menyukaimu" kata Deiji singkat "tapi tak bisa apa-apa, bukan? Kau begitu mencintai Jangmi" Deiji menatapnya dengan lembut.
"Lalu kenapa menangis kemarin?" Tanya Hyunsik "kau menyukai gitar pemberianku?" Tanya Hyunsik. Deiji semakin bingung.
"Apa maksudmu?" Tanya Deiji. Hyunsik mendelik tajam.
"Kau lupa? Aku membawakanmu hadiah ulang tahun dan kau tiba-tiba menangis memelukku. Bertanya apakah aku menyukaimu atau tidak" Hyunsik merasa aneh kenapa Deiji mudah sekali lupa.
"Lalu ..." degup jantung Deiji mengencang.
"Aku menyukaimu, kita saling menyukai dan sekarang apa yang harus kita lakukan, Deiji?" Hyunsik merendahkan duduknya. "Dan maaf soal ciuman itu. Aku benar-benar tak tahan lagi"
Deiji diam. Pandangannya mengabur.
"Kapan kau bertemu denganku? Dimana?"
"Hentikan Deiji!!. Kenapa kau pelupa sekali. 2 hari setelah ulang tahunmu. Aku datang kerumah mengembalikan kalungmu yang tertinggal di dorm dan menyerahkan gitar itu" Hyunsik belum menyadarinya. Deiji bangkit. Ia cemas dan tak tau harus bagaimana.
"Kau menciumku?"
"Bibirmu. Ada apa denganmu?"
Mata Deiji berkaca-kaca. Tiba-tiba kepalanya seperti mau pecah. Air matanya jatuh. Ia menatap Hyunsik.
"Oppa ..."
"Deijiah, ada apa?" Hyunsik bangkit memegangi tangan Deiji.
"Kami bertukar" kata Deiji singkat.
"Apa maksudmu?"
"Oppa ..." isakan Deiji semakin kencang "itu Jangmi"
"Apa??!!" Hyunsik tersentak kaget
"Orang yang kau temui bukan aku, itu ... itu Jangmi"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
BETWEEN
Fanfiction"Aku salah, tapi cintaku tidak" Hyunsik menggenggam tangan kurus itu dan mencium bibir wanita itu dengan hangat. Ia sudah memastikan, dan memutuskan ...
