BERTUKAR

58 9 7
                                        

"Hyunsikah, barang milik Deiji mungkin tertinggal" kata Eunkwang menyerahkan sebuah kalung dengan liontin pemetik gitar bertulisan Oriza Satyva berwarna abu. Hyunsik mengambilnya. Benar, itu milik Deiji.

"Aku akan mengantarkannya nanti malam" kata Hyunsik melanjutkan aktifitasnya.

***

Hari itu Jangmi bergegas ke Kota. Eomma sedang tak ada dirumah dan belum berencana pulang. Daripada ia kesepian bukankah lebih baik ia menghabiskan waktu di kota?.

Jangmi datang ke tempat kerja Deiji siang itu.

"Sedang apa kau disini?" Kata Deiji ketus.

"Aku bosan dirumah" kata Jangmi "Deijiah, bolehkah menjadi dirimu 2 hari ini?" Deiji tak memahaminya.

"Apa maksudmu"

"Aaaah, sudah lama aku tak mendengar cerita appa. Terakhir kali aku menemuinya dia tampak ragu bicara padaku. Aku ingin jadi dirimu. Kau bisa jadi aku dirumah" kata Jangmi.

Deiji terdiam. Sebetulnya ia sangat ingin merasakan hidup seperti Jangmi. Tapi ia tau Eomma akan mengetahuinya segera karena perbedaan sikap mereka yang berbeda.

"Kumohon ..." ratap Jangmi.

"Aku tak bisa, jika kau mau, kau bisa menjadi aku dirumah. Aku takkan pulang ke rumah Eomma. Aku bisa menginap di toserba" kata Deiji.

"Benarkah?" Jangmi terlihat sumringah. Ia sangat ingin jadi anak appa dua hari ini.

"Belikan appa makanan sebelum pulang. Tak perlu memasak, aku tak pandai memasak. Pakai pakaianku di lemari. Jangan menyentuh barang-barang pribadiku selain pakaian" kata Deiji. Jangmi meringis gemas.

"Tentu saja. Terima kasih Deiji"

"Pulanglah, langit gelap. Jangan sampai kehujanan. Sebentar lagi appa pulang. Jika ia bertanya katakan kau libur kerja" kata Deiji sekali lagi memberikan kunci rumah. Jangmi mengangguk pasti dan bergegas.

"Terima kasih Deijiaaaaah"

Jangmi membelikan makanan untuk ia makan berdua dengan appa. Langit mendung, ia membelikan makanan hangat yang bisa dipanaskan dirumah. Sesampainya dirumah ia membereskan rumah dan berganti pakaian milik Deiji. Ia berdiri di depan cermin.

"Apakah aku sudah mirip Deiji?" Gumamnya.

Appa pulang. Hujan rintik-rintik mengguyur kota.

"Appaaaa!!" Jangmi merangsek memeluk appanya.

"Deijiah, kau aneh sekali. Kenapa tiba-tiba memeluk appa?. Kau membelikanku makanan?" Tanya appa mendorong pelan tubuh Jangmi. Jangmi mengangguk.

"Akan kupanaskan" katanya ceria.

"Appa mandi dulu. Kau libur? Kenapa pulang cepat?" Katanya berlalu tanpa mendengar penjelasan Jangmi.

Malam itu senyum Jangmi tak hilang dari wajahnya. Mereka makan berdua dengan gembira. Ia bersyukur masih bisa menikmati harinya bersama appa yang sudah lama dirindukannya.

Selesai makan Jangmi menatap appanya. Dia sudah terlihat tua.

"Appa" katanya pelan, appa menoleh "ceritakan padaku tentang apa saja malam ini"

"Tumben sekali. Kau tak pernah mau mendengarkan cerita appa. Kau mau dengar sesuatu yang bagus? Appa dipromosikan, mungkin kita akan pindah dari sini tak lama lagi. Tunggu, bukankah appa sudah mengatakannya padamu?" Kata Appa. Jangmi mengangguk saja. Ia tak peduli cerita appa. Ia hanya ingin mendengar appanya bercerita malam itu.

***

Malam meninggi, hujan semakin deras. Sewaktu appa menceritakan apa saja. Pintu rumah mereka diketuk. Jangmi bangkit.

"Biar aku yg membukanya, appa" katanya bergegas.

Jangmi membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang datang.

"Deiji" Suara berat itu memanggil namanya.

"Siapa itu, Deiji?" Tanya appa menghampirinya "aaah, Hyunsikah. Masuklah. Diluar hujan"

Jantung Jangmi berdegup kencang. Kekasihnya ada disini untuk menemui wanita lain.

"Aku datang kesini hanya sebentar ingin menemui Deiji" kata Hyunsik menatap Jangmi dengan segaris senyum.

"Ah, baiklah. Kutinggalkan kalian berdua" appa berlalu masuk ke ruangannya. Hyunsik menatap Deiji dan mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.

Pik gitar berwarna silver dalam bentuk kalung. Hyunsik menyerahkannya pada Deiji.

"Maafkan aku tiba-tiba datang kesini malam-malam. Barangmu tertinggal saat menginap di dorm" katanya tersenyum. Jangmi mengambilnya dan mencoba tersenyum.

"Terima kasih, oppa" mereka bertatapan.

"Mianhae" katanya "terakhir kali aku memelukmu tanpa mengatakan apapun. Selamat ulang tahun, Deiji" kata Hyunsik. Ia menyerahkan sebuah gitar untuk Jangmi. Gitar baru dalam sebuah tas gitar berwarna hitam.

Hati Jangmi terasa perih. Hyunsik tak pernah mengatakan apapun. Ia berbohong soal menemui Deiji. Deiji menginap di tempatnya dan pelukan?, mereka berpelukan?. Jangmi sangat salah paham sekarang.

"Oppa, bagaimana jika ..." Jangmi menatap Hyunsik dingin " ... Jangmi tau?"

Hyunsik menghela nafas panjang. Ia sendiri bingung.

"Tidurlah, Deiji. Aku berjanji hanya datang sebentar katanya" Hyunsik menatap ke luar jendela. Hujan semakin deras. Hyunsik berpamitan tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Jangmi yang disangkanya adalah Deiji. Baru 10 langkah ia menyongsong hujan. Jangmi memanggilnya. Hyunsik yang basah kehujanan menoleh dan melihat Jangmi menubruk tubuhnya. Jangmi memeluk tubuh Hyunsik dari belakang. Hyunsik diam saja. Hujan mengguyur tubuh mereka berdua.

"Oppa, aku harus memastikan" kata Jangmi. Air matanya meleleh "kau menyukaiku?" Hyunsik diam saja. Seharusnya ia menolaknya bukan?. Ia tak mau menyakiti hati Jangmi. Tapi ia tak bisa menahannya lagi kali ini. Ia berbalik. Menatap dalam mata Jangmi dibawah cahaya remang dan air hujan.

"Ya, ya Deiji. Aku menyukaimu" kata Hyunsik. Ia menarik wajah Jangmi dengan cepat dan mencium hangat bibirnya dibawah guyuran hujan. Air mata Jangmi meleleh. Hati terluka. Sangat terluka.

Laki-laki yang sangat ia cintai itu menyukai saudarinya sendiri dan menciumnya dengan mesra. Jangmi hancur. Ia hancur!.

Jangmi mendorong tubuh Hyunsik dan menjauhkannya.

"Bukankah seharusnya kau tak boleh menyakiti Jangmi?" Kata Jangmi.

"Deiji ..." Jangmi tak mengatakan apa-apa lagi. Ia berbalik meninggalkan Hyunsik yang masih mematung. Masuk ke dalam rumah dan menangis kencang. Appa mendekatinya.

"Deijiaaaah" appa memeluknya dengan hangat.

"Appaaaaa" ratapnya. Jangmi memeluk appanya.

"Kau sangat menyukainya?" Tanya appa. Jangmi menangis semakin kencang. Appa menghapus air matanya "selama belasan tahun kau sudah mengalah untuk Jangmi. Apakah kali ini juga kau akan mengalah dan membunuh perasaanmu padanya?"

Jangmi menangis keras dan menggeleng tak percaya. Ia tak mengerti maksud appanya mengatakan hal itu. Ia semakin hancur.

***

BETWEENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang