11. Manja

9.5K 839 7
                                        


Alexandra kini tengah berdiri dengan bersedekap dada, wajahnya muram dan bibirnya cemberut. Dia menatap tidak suka kepada suaminya.

Azriel yang melihatnya justru menghembuskan napas panjang. "Aku pergi cuman sebentar. Nggak usah sedih gitu." Azriel membelai rambut Alexandra lembut.

"Cuman sebentar-cuman sebentar," ucap Alexandra dengan memanyunkan bibirnya, "Kemaren pergi sampek seminggu gitu, kok."

Azriel tersenyum tipis menanggapinya. "Kali ini cuma tiga hari, aku janji."

Alexandra malah semakin memanyunkan bibirnya. "Itu lama banget, Mas. Terus nanti aku sama siapa?"

"Nanti ada bibi," ucap Azriel.

"Bibi siapa?"

"Dia bakal nemenin kamu, dia juga bakal bantuin kamu beresin rumah."

Mendengar hal itu, Alexandra tetap memanyunkan bibirnya.
"Nanti aku bawain oleh-oleh," tawar Azriel.

Mata Alexandra langsung berbinar. Dia langsung mendekat ke arah Azriel, dia menjinjitkan kakinya, mencoba menyamakan tingginya dengan tinggi Azriel. Wajahnya mendekat ke arah wajah suaminya. "Beneran, Mas?" Alexandra menatap kedua mata Azriel.

Azriel tiba-tiba merasa gugup saat ditatap demikian. Akhirnya, Azriel hanya tersenyum tipis untuk menetralkan kegugupannya. "Iya. Aku berangkat, ya."

Alexandra menjauhkan tubuhnya. Dia tersenyum lebar. Rasanya cukup berat harus melepaskan suaminya pergi. "Hati-hati, Mas."

"Iya." Azriel memasuki mobilnya. Setelah pintu tertutup, kaca mobil ia turunkan. "Aku berangkat. Assalamu'alaikum ...."

Alexandra tersenyum. "Wa'alaikumsam ...."

Alexandra menghembuskan napas panjang. "Ngejomblo lagi," keluhnya.

                         •♥♥♥•

"Hoek ... hoek ...."

"Non, kamu baik-baik saja, 'kan?" ucap seseorang  paruh baya dari luar kamar mandi.

Dengan lemas, Alexandra bangun dan duduk  di atas toiletnya. Lagi-lagi dia muntah di pagi hari. Alexandra mencoba untuk menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. "Huft ...." Alexandra meringis saat merasakan rasa pahit di lidahnya.

"Non? Non Lexa baik-baik aja, 'kan?"

Alexandra yang baru sadar dipanggil pun menoleh ke arah pintu. "Oh, iya ... saya baik kok, Bik."

"Saya bikinin teh jahe, ya?"

"Emm, boleh deh, Bik."

"Kalau gitu saya pergi dulu."

"Iya, Bik."

Alexandra menyandarkan punggungnya. Kepalanya terasa berdenyut, dan perasaan ingin muntah masih ada padanya. Dia harus segera mandi, dia harus sekolah sekarang. Apalagi, dia ketua tadris sekarang, dia tidak bisa membiarkan timnya tanpa pengawasan.

                        •♥♥♥•

Saat ini Alexandra tengah mengawasi Salma yang sedang duduk di bangku guru. Dia dengan lugas menjelaskan tentang keburukan sombong.

"Jadilah seperti padi. Semakin berisi, maka dia akan semakin menunduk. Kita juga harus seperti itu, semakin kita pandai, semakin kita rendah hati. Jangan seperti pohon kapas, entah itu ada isinya apa nggak, pas dimasukin air, pasti tetep ngambang, nggak mau tenggelem. Iya, 'kan? Pernah lihat nggak kalian?" tanyanya.

Alexandra tersenyum menanggapi, ini adalah nasihat dari gurunya. Dan sekarang, nasihat ini telah diturunkan ke adik-adik kelasnya. Dengan begini dia merasa menjadi wanita yang bermanfaat.

Gara-Gara Wasiat [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang