16. Perasaan Yang Sama

5.9K 607 5
                                        


Azriel sedang berada di toko bangunan. Dia dan yang lain sedang memilih-milih bahan yang bagus untuk pembangunan yang akan mereka laksanakan. Bisnis Azriel berkembang dalam bidang kuliner. Kali ini, Azriel berserta sahabat-sahabatnya sepakat akan berkerja sama dalam pembangunan resto kali ini. Tentu ada Ziya dan Felix di sana.

Azriel tentu saja setuju, hanya saja, saat mengetahui bahwa Ziya juga ikut berpartisipasi, dia jadi bimbang. Dia hanya takut kalau dia kembali jatuh cinta kepada Ziya. Hal ini juga bisa disebabkan karena dia belum bisa mencintai Alexandra sepenuhnya sebagai istrinya. Bagaimana kalau nanti dia jatuh cinta? Lalu, jika dia jatuh cinta, bagaimana nanti dengan Alexandra dan bayinya kelak?

Sebenarnya, dulu Azriel tidak ingin datang ke acara reuni itu. Jika dia datang, maka secara otomatis sahabat-sahabatnya akan mengira bahwa dirinya telah menyetujui kerjasama yang telah disebutkan. Dan ternyata benar, sahabat-sahabatnya mengira bahwa dia sudah setuju. Tentu Azriel akan merasa tidak enak jika harus mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut kerja sama.

Azriel menghela napas panjang. Dia merasa lelah sekarang. Rasanya dia ingin segera tidur.

"Ada apa, El?"

Azriel menoleh ke arah orang yang menanyainya. "Pengen tidur," singkatnya.

"Bentar lagi juga selesai, sabar aja ...."

"Eh, sini ada minuman," ucap seseorang lembut. Siapa lagi kalau bukan Ziya? Hanya dia pemilik suara lembut itu.

Azriel menoleh tanpa sengaja. Percayalah, Azriel sama sekali tidak ingin menoleh, ini hanya gerak refleks. Ahh, Azriel selalu gagal untuk lolos dari pesona seorang Ziya. Azriel menggeleng.
"Astaghfirullah ...," lirihnya. Dia memperingatkan pada dirinya sendiri, dia tidak boleh jatuh ke dalam pesona wanita itu lagi.

"Ini udah selesai. Isi perut, yuk!" ajak seorang teman dari Ziya.

"Iya, ini udah laper."

Dalam pekerjaan kali ini, ada tiga perempuan termasuk Ziya, juga ada lima laki-laki. Mereka akan berpergian dalam mobil terpisah, juga penginapan yang terpisah. Mereka selalu menjaga jarak, tentu karena mereka bukan muhrim.

Sampailah mereka ke tempat yang mereka tuju. Azriel tidak bergeming dari kursi kemudi.
Felix menatapnya bingung. "Nggak turun, El?"

"Aku di sini dulu."

"Ohh, oke. Mau dipesenin?"

"Kayak biasanya."

"Oke, aku duluan, ya?"

"Hmm."

Felix tidak bertanya banyak kepada sahabatnya. Dia sangat mengerti mengapa sahabatnya terlihat seperti memikirkan sesuatu. Karena itu dia lebih memilih diam.

Azriel menjatuhkan punggungnya pada sandaran mobil. Kepalanya terasa berdenyut saat ini. Dia benar-benar tidak ingin jika harus kembali jatuh hati kepada Ziya. Dia juga merasa bersalah karena telah berbohong kepada istrinya. Yeah, dia berbohong tentang perasaannya. Dia terpaksa bohong pada istrinya hanya semata-mata agar istrinya mau percaya pada kesetiaannya. Meskipun, Azriel sendiri belum menyakini pada kesetiaannya. Dia hanya menghindari konflik dalam rumah tangganya, karena itu dia berbohong.

Dia mengaku, dia merasa bahagia saat bisa bersama dengan istrinya. Dia akan tersenyum saat istrinya itu juga tersenyum. Dia akan khawatir saat jauh dari istrinya, apalagi saat istrinya kenapa-kenapa. Dia merasakan semua itu, hanya saja dia ragu. Apakah ini benar-benar cinta? Apakah cinta ini hadir saat dia saja belum bisa melupakan masa lalunya? Akan tetapi, dia juga masih bisa merasa rindu kepada kehadiran Ziya. Dia menginginkan satu hal saat dia melaksanakan ijab qobul dulu, dia ingin, dia bisa mencintai Alexandra sepenuhnya, tentu setelah dia bisa menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya.

Gara-Gara Wasiat [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang