19. Abbi Ummi

6.8K 633 13
                                        


Azriel masih berdiam di kursi itu. Belum ada niatan pada dirinya untuk segera pulang. Dia masih dengan santainya menikmati seputung rokok ditangannya.

Hembusan asap menguar dari celah bibirnya. Dia merasa tidak menyangka, berpisah dari Ziya bisa sedamai ini. Dia tidak percaya, bahwa ternyata melepaskan Ziya justru membuatnya merasa tidak punya beban. Dia merasa senang, bahwa akhirnya dia bisa benar-benar lepas dari pesona seorang Ziya. Dan setelah ini, dia akan fokus kepada istrinya. Dia akan kembali menumbuhkan rasa mahabbahnya pada istrinya, yang sejatinya, rasa tersebut sudah mulai tumbuh. Hanya saja, perasaan ragunya itulah yang membuatnya selalu sulit mencinta istrinya.

Dia tersenyum. Tiba-tiba dia merasa rindu dengan istrinya. Apa kabar dengan istrinya? Dia cek ponselnya yang telah ia silent. Dia tautkan kedua alisnya, tidak ada chat apapun dari istrinya. Istrinya itu pasti akan menanyakan kabarnya, atau sebagainya. Namun, ini tidak. Ada apa?

Alexandra memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Dia menaiki tangga dengan cepat tanpa memikirkan keselamatannya. Tubuhnya langsung terhempas ke atas kasur sesaat setelah dia melesat memasuki kamarnya. Dia menangis. Dia menangis dengan hebat.

Pikirannya melayang di mana hari saat Azriel dengan lugas mengatakan bahwa dia telah mencintai dirinya. Namun, perasaannya serasa dihempaskan begitu saja oleh suaminya sendiri. Mengapa dia harus bohong? Mengapa dia menipu istrinya yang bahkan sedang hamil? Bila memang dia ingin menyenangkan hati istrinya, bukan seperti ini caranya. Dia mencengkram dadanya erat, rasanya sangat sakit saat lagi-lagi dia mengingat bahwa dia telah ditipu oleh suaminya sendiri. Dia merasa menyesal karena telah mulai tertarik pada pria brengsek seperti Azriel.

Ceklek!

Dia sempat terkejut saat mendengar ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah suaminya. Pura-pura tidur adalah pilihannya untuk menghindari perdebatan pada malam hari ini. Dia sudah lelah, dia ingin tidur dan beristirahat. Dia tidak ingin diganggu.

Azriel dengan semangat memasuki rumahnya. Dia membuka pintu dengan cepat, hingga mungkin penghuni kamar itu akan terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

Semangatnya hilang dan harus tergantikan oleh rasa kecewa. Ternyata istrinya sudah tertidur. Apa dia telat pulang? Sepertinya tidak. Lalu, kenapa istrinya sudah tertidur? Apa mungkin dia kelelahan dengan aktivitasnya sebagai panitia haflah? Mungkin demikian.

Setelah mandi Azriel tidur di samping istrinya itu. Dia ingin memandang wajah istrinya, namun, istrinya justru tidur memunggunginya. Perlahan, Azriel membalikkan tubuh Alexandra untuk mengahadapnya. Azriel terdiam saat melihat wajah itu. Tangannya tergerak untuk menyentuh pipi istrinya. Dingin, basah.

"Apa dia habis menangis?" tanyanya dalam hati, "Tapi, kenapa dia nangis?"

Seandainya saja istrinya tidak sedang kelelahan, dia pasti sudah membangunkannya untuk menanyai istrinya itu berbagai hal. Namun, dia tidak bisa. Dia lebih memilih untuk bertanya esok hari.

                          •♥♥♥•

Hening ....

Azriel merasa tidak tahan dengan keadaan seperti itu. Hal ini juga dipicu karena dia yang sama sekali tidak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Karena hal itu pula, dia bisa menerka-nerka, keterdiaman istrinya itu disebabkan olehnya. Namun, apa yang  telah dia lakukan?

"Ekhem," dehemnya yang berusaha untuk menenangkan degup jantungnya. Namun, saat dia lihat, istrinya sama sekali tidak menanggapi.

"Dek Lin," panggilnya lembut.

"Dalem." Alexandra menyahut, namun, arah matanya tidak menatap ke arah Azriel.

Azriel menghembuskan napasnya berat. Sudah bisa diduga, istrinya pasti sedang sakit hati karenanya. "Ada apa?"

Gara-Gara Wasiat [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang