Alexandra sedang merasa suntuk sekarang. Sejak dua jam yang lalu, suaminya sama sekali tidak ada kabar. Sampai sekarang pun dia belum juga muncul di balik pintu. Berbagai prasangka muncul di pikirannya. Namun, sebisa mungkin dia singkirkan. Meskipun, nyatanya dia tidak bisa. Dia benar-benar berharap ada suara salam yang menggema di teras rumahnya, dan kemudian dia segera menyambut kedatangan pemilik suara itu.
Ting!
Alexandra lekas melihat chat yang masuk pada ponsel genggamnya. perasaan semangat dan gembira menguap dalam sesaat. Hilang seketika kala ia tahu itu bukan chat dari suaminya. Suaminya yang kini sedang dia rindukan.
Terlihat di sana nama Luqman yang baru saja mengirimi pesan padanya. Meski kecewa, dia tetap melihat pesan itu. Ternyata, Luqman baru saja memberi informasi bahwa seragam haflah sudah siap di tempat penjahitnya. Dia juga meminta Alexandra sendiri untuk mengambil baju itu.
Sementara di sisi lain, Azriel baru saja memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Setelahnya, dia langsung bergegas ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum ...."
Tak ada sahutan.
Azriel akhirnya memilih langsung masuk ke dalam rumah yang ternyata tidak dikunci pintunya. Kepalanya celingukan mencari istrinya. Apa mungkin istrinya sudah tidur?
Seutas senyum terbit di wajah cerahnya. Ternyata istrinya memang sudah tidur. Dia berjalan pelan dengan penuh hati-hati. Dia tidak ingin ada suara yang timbul dari ketukan sepatunya. Dia duduk, membelai pipi istrinya. Rasa hangat menjalar di hatinya. Perasaan apa ini? Merasa penasaran, dia pun mencium kening istrinya lama. Jantungnya berdegup dengan kencang. "Apa ini perasaan rindu?" tanyanya dalam hati.
Azriel kembali menatap wajah yang sudah tertidur pulas itu. "Perasaan apa yang mulai aku alami? Apa itu perasaan mahabbah?" Dia kembali tersenyum. Tak masalah jika perasaan itu muncul, 'kan? Lebih cepat lebih baik bukan?
"Loh, Mas, udah sampek?"
Suara serak itu menyadarkan Azriel dari lamunannya. Dia terlalu hanyut pada pikirannya.
"Mas, mau makan dulu?"
"Emang kamu udah masak?"
"Udah, tapi kayaknya udah basi."
"Ya udah, ini udah malem, kita langsung tidur aja."
"Ohh, iya, Mas."
Azriel langsung bangkit untuk segera naik ke lantai atas. Namun, Alexandra justru hanya diam di sofa yang sedang dia duduki. Azriel berbalik untuk melihat istrinya.
"Kenapa diem?"
Alexandra hanya diam sembari melihat ke arah anakan tangga, sepertinya akan melelahkan jika harus menuju ke lantai dua. Mungkin efek kehamilan yang membuatnya jadi pribadi yang lebih malas.
Alexandra terkejut saat tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melayang. Dia menoleh, ternyata itu adalah suaminya yang telah menggendongnya.
"Kelamaan kamu."
Alexandra merasa gugup saat berada sedekat ini dengan suaminya. Meskipun demikian, dia hanya diam, dan menuruti apa pun yang diinginkan suaminya.
•♥♥♥•
"Mas, nggak turun?"
"Nggak, nanti kamu nggak usah angkat-angkat barang, minta orang yang ada di sana aja buat angkatin. Aku masih capek, Dek."
"Ohh, oke, Mas, aku turun, ya?"
Azriel mengangguk sebagai jawaban. Sementara Alexandra langsung turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gara-Gara Wasiat [END]
Storie d'AmoreAlexandra Angelina Anderson. Dia seorang santri blasteran. Dia cantik, pintar, kaya raya, seolah dia tidak memiliki nilai minus. Namun, nyatanya tidak. Dia lahir di keluarga broken home. Dia hidup dengan di bawah kendali wasiat dari mendiang ka...
![Gara-Gara Wasiat [END]](https://img.wattpad.com/cover/280980888-64-k701029.jpg)