26. Warisan

9K 642 39
                                        

"MAS VIER ...!" jerit Alexandra sambil ikut menggiring brankar yang tengah mengangkut suaminya.

Kakinya sudah lemah. Dia kesulitan mengambil napas di tengah-tengah isakannya. Matanya memerah karena terlalu lama menangis.

"Mas Vier ... bangun ... kumohon ... hiks ... hiks ...."

Azriel sama sekali tidak bergerak apa lagi merespon teriakan, jeritan, pukulan dan rintihan dari istrinya itu.

"Bu, tolong tunggu di luar, ya ...," pinta suster itu.

Kakinya lemas dia berjalan mundur. Dia tak sanggup lagi berdiri, dia hampir saja terjatuh jika seseorang tidak menangkap tubuhnya. Dia menoleh melihat siapa yang telah menangkap tubuhnya.

Dia tatap tajam pria itu. "Pergi!" bentak Alexandra dengan mendorong tubuh pria itu.

"Nak, jangan begini, ya ...."

"Frank, lebih baik kamu pergi."

Frank sama sekali tidak mendengar ucapan Sarah. Dia justru menatap putrinya sedih. Kini, putrinya benar-benar telah benci kepadanya.

"Pergi, Yah!" teriak Alexandra lagi.

"Nak--"

"Semua ini gara-gara Ayah! Ayah yang udah ajak Valentino sama Veronica ke acara Bunda, seandainya mereka nggak ikut, semua ini nggak bakal terjadi," ucapnya dengan terengah-engah.

"Tapi, Nak--"

"Pergi!"

Tak lama setelah kata-kata itu terucap, dia merasakan sakit di dalam perutnya. Sakit yang amat luar biasa. Dia mencengkram erat perutnya itu.

"Arghh ... sakit ... argh ..., Bun ...."

Sarah yang mendengar rintihan itu segera menoleh ke arah putri semata wayangnya. Matanya melebar saat melihat wajah putrinya yang bercucur keringat dengan raut seperti menahan sakit.

Dia langsung berjalan tergopoh-gopoh menuju anaknya. "Kamu kenapa, Nak?"

"S ... sakit ...."

Kepalanya terasa berdenyut hebat. Perutnya serasa semakin keram. Alexandra tidak bisa menahannya lagi. Pada akhirnya dia harus kehilangan kesadarannya.

                        •♥♥♥•

Alexandra mengkerjap-kerjapkan matanya. Matanya kembali menyipit kala dia merasakan dentuman hebat pada kepalanya. Dia tidak sanggup untuk duduk.

Dia berhenti sejenak. Tunggu, bagaimana keadaan suaminya? Dia harus segera bangun dan pergi kepada suaminya. Kepalanya kembali berdenyut, hal itu sangat menghambat pergerakannya.

"Argh ...," erangnya kesal. Dia bahkan tidak bisa membuka matanya.

Ceklek!

Ada seseorang yang baru membuka pintu.

"Nak, kamu udah bangun?"

Itu suara bundanya.

"Bun ... Mas Vier ...."

"Kamu di sini dulu aja, ya! Kamu belum bisa banyak gerak sekarang. Kepala kamu masih sakit?"

"Nggak, Bun ... Mas Vier ...."

"Tapi, Nak ...."

"Kita pakek kursi roda, ya, Bun!"

Sarah menghembuskan napasnya berat. "Baiklah ...."

Dengan perasaan khawatirnya. Alexandra masuk ke dalam ruangan itu. Dia mendekat ke arah suaminya yang masih terbujur kaku. Tangannya menyentuh tangan dingin itu.

Gara-Gara Wasiat [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang