Nayla Ziya Bahira
Hari ini aku mendapatkan sebuah undangan reuni dari kawan-kawan. Aku tersenyum senang sambil melihat-lihat isi undangan itu. Satu hal yang langsung muncul di benakku, Azriel. Di sana, Azriel pasti akan datang. Tentu, aku langsung mencari-cari pakaian yang bagus untuk kupakai ke sana.
Namaku, Nayla Ziya Bahira. Yeah, aku seorang Ning. Aku putri dari kyai pengasuh salah satu pondok di Tuban. Karena itu aku bisa menyandang julukan Ning. Aku tidak seperti kakak-kakakku yang menjadi orang-orang yang alim. Kakak-kakakku, mereka semua menuntut ilmu agama. Tidak denganku. Setelah aku dipulangkan dari pondoknya pamanku, tepatnya di Magelang Jawa tengah, aku langsung memberikan sebuah permintaan kepada abah. Aku tidak ingin menuntut ilmu agama, tapi, aku ingin menjadi arsitek.
Namun, butuh waktu satu tahun untuk mendapatkan restu itu. Kini, aku sudah menjadi arsitek terkenal. Tampilanku pun sudah tidak seperti putri-putri kyai pada umumnya. Gayaku mengikuti tren fashion terbaru. Mungkin karena itu pula, abah selalu terlihat tidak menyukaiku. Namun, memang inilah aku.
Hari itu tiba. Aku sudah merasa sangat bersemangat untuk bisa bertemu dengan pujaan hatiku, dulu maupun sekarang. Aku melihatnya ada di ambang pintu masuk. Dengan cepat dan mata penuh binar, aku langsung menyapanya. "Eh, Azriel, kamu datang juga ternyata."
Tiba-tiba temanku berkata, "Eh, Zi, ini lho istri Azriel."
Deg!
Jantungku seolah berhenti berdetak. Istri? Jadi, Azriel sudah beristri? Kapan? Mengapa aku tidak tahu?
Dengan kikuk aku berhadapan dengan istrinya. "Kenalin, Nayla Ziya Bahira. Zi, nama panggilan orang-orang untukku."
"Alexandra Angelina Anderson." Sepertinya, dia juga sama sepertiku, sama-sama gugup.
"Salam kenal, ya!"
Setelahnya kami kembali mengobrol dalam satu meja bundar yang sama. Kami sedang merencanakan sebuah kerja sama. Mungkin, kalau saja aku tidak mengetahui bahwa Azriel sudah menikah, aku pasti akan sangat merasa bersemangat. Namun, tidak untuk kali ini.
Kini kulihat Azriel kembali, entah dari mana. Bahkan aku juga tidak tahu kapan dia berdiri untuk meninggalkan meja ini.
"Eh, El, ke mana aja?" tanya salah seorang temanku. Mewakilkan pertanyaanku.
"Mau pulang," jawabnya.
Aku terkejut. Pun, aku langsung menyahut secara refleks. "Loh, kok cepet amat? Acara belum selesai, 'kan?"
"Istri aku lagi nggak enak badan." Wajahnya lempeng. Tidak berekspresi sama sekali.
"Loh, dia sakit?"
Kulihat dia tersenyum, senyum yang selalu ada di sisiku tentunya itu di masa lalu.
"Hal yang wajar, kok."
"Loh, orang sakit kok dibilang wajar, sih?"
"Dia lagi hamil."
Deg!
Ya Allah, bagaimana bisa aku mencintai seseorang yang bahkan sebentar lagi akan memiliki anak. Memang tidak tercetus sekali dalam benakku untuk merebut kembali cintanya. Aku juga sama sekali tidak berpikir untuk menjadi yang kedua, alias menjadi madu. Namun, jika aku terus membiarkan rasa ini tumbuh, maka bukan tidak mungkin jika aku mempunyai hasrat untuk kembali bersamanya. Ya Allah, aku khilaf.
Aku merasa benar-benar tidak berdaya kini. Semua harapanku telah diluluh lantakkan oleh cintaku sendiri. Mungkin, ini adalah karma karena aku yang tidak mau menuruti perintah pamanku. Yeah, dia meminta supaya aku melupakan Azriel. Namun, aku tidak bisa. Justru, aku semakin mencintainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gara-Gara Wasiat [END]
RomanceAlexandra Angelina Anderson. Dia seorang santri blasteran. Dia cantik, pintar, kaya raya, seolah dia tidak memiliki nilai minus. Namun, nyatanya tidak. Dia lahir di keluarga broken home. Dia hidup dengan di bawah kendali wasiat dari mendiang ka...
![Gara-Gara Wasiat [END]](https://img.wattpad.com/cover/280980888-64-k701029.jpg)