12. Berubah

8.5K 756 18
                                        

Alexandra mengkerjap-kerjapkan matanya. Tidurnya terganggu karena suara bising di sekitarnya. Dia membuka matanya dengan sempurna. Dia melihat, ternyata ruangannya telah penuh dengan kawan-kawan sekelasnya. Alisnya bertaut, ada apa ini?

"Eh, Lex, kamu udah bangun?"

Dia menoleh ke arah Emma dan Salma. "Sal, Ma, kok kalian bisa ke sini? Sama mereka lagi, kok bisa?" tanya Alexandra beruntun.

"Iya. Tadi Katherine yang minta izin langsung ke suami kamu, lewat telepon kantor," ucap Emma.

Alexandra malah menatap sinis ke arah Katherine. "Tu ulet bulu pasti seneng banget bisa nelepon laki gue. Sialan lu, Kath!" batin Alexandra.

"Lex, kok ngelamun sih?" tanya Salma.

Lamunan Alexandra buyar berkat pertanyaan Salma. "Eh, nggak kok. Terus, ke sininya pakek apa?"

"Pak El kirimin mobil pribadi," ucap Emma cengengesan.

Mata Alexandra membulat. "Kalian dijemput pakek mobil pribadi?!" pekik Alexandra.

Emma dan Salma hanya menganggukkan kepalanya polos.

"Ya Allah ... kalian jadi murid sukanya ngerepotin guru, ya, dasar murid minim akhlak!" ucap Alexandra kesal.

"Nggak usah marah." Suara dingin itu seketika membuat suasana menjadi hening.

Alexandra hanya diam tanpa bisa meredakan emosinya. Alexandra hanya kesal, suaminya itu pasti lelah, dan murid-muridnya justru merepotkannya. Sampai-sampai Alexandra bisa merasakan tangan dingin yang dengan lembut membelai kepalanya.

Azriel memberikan kecupan di kening Alexandra. Bibirnya mendekati ke arah telinga Alexandra. "Jangan marah-marah, kamu makin imut kalo marah-marah."

"Terus kenapa kalo aku marah-marah?" tanya Alexandra kesal.

Azriel malah tersenyum misterius. "Kalo kamu marah-marah, aku makin gemes sama kamu. Kamu mau, saya cium di sini gara-gara itu?" ucap Azriel spontan tanpa di saring terlebih dahulu.

Sontak hal itu menimbulkan semburat di pipi Alexandra. Bahkan teman-temannya sudah bersorak karena tersanjung dengan pertunjukan di hadapan mereka. Wajar saja, mereka anak pondok sangat jarang melihat adegan romantis.

Azriel yang tidak mendapatkan jawaban lantas mendekatkan wajahnya pada wajah Alexandra. "Kok nggak dijawab? Mau dicium kamu?"

Ingin rasanya Alexandra mengatakan iya, akan tetapi dia sungguh malu jika harus di depan teman-temannya. Karena jujur saja, Alexandra sangat merindukan suaminya ini.

"Lexa?"

Alexandra yang merasa terpanggil dari alam khayalannya pun menoleh ke arah suaminya. Matanya membulat kala dia mendapati wajah suaminya tepat berada di depannya. Hidungnya bahkan sudah bertubrukan. Jantung Alexandra berdegup kencang saat itu.

Azriel yang juga terbawa suasana pun malah memejamkan matanya. Demikian pula yang dilakukan oleh Alexandra.
Katherine kebakaran jenggot saat melihatnya. "Awas kau, Alexandra," batinnya.

"Aduh, Pak ... melting kita!" teriak salah seorang teman Alexandra.

Sontak Alexandra langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Azriel. Dia sangat gugup karena terus dicie-cie oleh teman-temannya.

Azriel tetap bersikap tenang dan berwibawa. Dia menatap ke arah murid-muridnya. "Terimakasih sudah mau datang."

"Sama-sama, Pak!" sorak semua orang.

"Lexa sakit apa, Pak?" tanya Emma.

Azriel tersenyum tipis menanggapinya. "Alhamdulillah, Alexandra sedang hamil sekarang."

Gara-Gara Wasiat [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang