Kini, Alexandra berada di kamar tamu. Dia ingin menjauh dari suaminya selama waktu yang tidak bisa diprediksi. Tangannya terangkat dengan ponselnya di genggamannya.
"Assalamu'alaikum, Pak Mujin." Suaranya begitu lemah. Dia terlalu lelah, bahkan hanya untuk bernapas saja, dia akan lebih memilih menyerah.
"Wa'alaikumsalam, Nduk Lexa."
"Bisa jemput saya, Pak? Saya lagi kangen sama bunda, suami saya nggak bisa anterin saya. Bisa, Pak?"
"Malem-malem gini, Nduk Lexa?"
"Iya, Pak."
"Kalau begitu, dua puluh menit lagi saya sampai, Nduk Lexa."
Alexandra tersenyum meski Pak Mujin tidak bisa melihat senyum itu. "Maaf ganggu waktunya, ya, Pak!"
"Tentu, nggak masalah, kok, Nduk."
"Terimakasih, Pak ...."
Alexandra menyeka air matanya kasar. Dia langsung menuju ke lantai bawah dengan kopernya. Yeah, dia sudah punya rencana ingin pulang ke rumah sejak awal dia tahu soal masalah Luqman.
Sementara itu, Azriel masih di tempat yang sama. Dia bingung harus lakukan apa terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah ini.
"Jika aku salah, maafkan aku, Dek Lin ...."
Dia pejamkan matanya erat. Namun, dia tetap tidak bisa membendung air mata itu. Dia kembali membuka kelopak matanya saat telinganya mendengar ada suara mobil yang memasuki rumahnya. Dia sipitkan matanya. Siapakah itu? Siapa yang datang di malam larut ini?
Tak lama netranya mendapati seseorang dengan mantel berwarna putih keluar dengan koper besar. Tubuhya rubuh saat mengetahui bahwa itu adalah istrinya. Dia tidak punya daya untuk mencegah kepergiannya. Dia yang salah di sini. Dia harus membiarkan istrinya itu pergi untuk menenangkan diri sejenak, dan setelah itu dia akan menjemput istrinya. Pasti, dia akan menjemputnya, itu adalah janjinya.
Dia menuju ke arah lemari. Dia buka almari itu. Kosong, tak ada apa-apa di sana. Itu berarti istrinya sudah berencana pergi sejak awal, karena setelah pertengkaran tadi, istrinya sama sekali tidak kembali ke kamar.
"Aku bakal tebus semua kesalahanku, Dek Lin ... pasti, aku janji sama kamu. Aku bakal pertahanin rumah tangga kita," tekat Azriel berucap lirih.
•♥♥♥•
Kini, Azriel tengah duduk di ruangannya. Dia tatap lelaki itu.
"Bisa aku lihat tulisan Arab tangan kamu?"
Luqman tersenyum. "Tentu, Pak El."
Lelaki itu mengambil pulpen dan mencoretkan tinta itu ke atas selembaran kertas. Tak lama setelah itu, kertas tadi ia serahkan kepada Azriel.
Azriel melihat kertas itu dengan seksama. Dia bandingkan tulisan itu dengan tulisan yang ada di kertas berwarna merah muda yang kemarin dia terima. Berbeda, sangat berbeda. Tulisan tangan Luqman cenderung kecil dan dan garis yang tidak terlalu tegas. Sementara tulisan yang lain justru sebaliknya. Apa Luqman memalsukan tulisannya?
"Astaghfirullah ...."
Azriel menggelengkan kepalanya samar. Dia tidak boleh seudzon. Mungkin saja tulisan di surat itu memang bukan tulisan milik Luqman. Dia kembali berpikir, dia seperti mengenal tulisan ini, tapi di mana? Dia tidak ingat.
"Ada apa, Pak El?" tanya Felix
"Ini tulisan mbak-mbak santriwati," ucapnya tiba-tiba.
"Hah!?" pekik Luqman dan Felix.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gara-Gara Wasiat [END]
RomanceAlexandra Angelina Anderson. Dia seorang santri blasteran. Dia cantik, pintar, kaya raya, seolah dia tidak memiliki nilai minus. Namun, nyatanya tidak. Dia lahir di keluarga broken home. Dia hidup dengan di bawah kendali wasiat dari mendiang ka...
![Gara-Gara Wasiat [END]](https://img.wattpad.com/cover/280980888-64-k701029.jpg)