HAHA KANGEN YA SAMA CIKA? BUSET NI LAMA BANGET ILANG
Pemuda berseragam putih abu-abu itu masih menatap nyalang setumpuk buku dengan perasaan resah, ia sama sekali tak berniat membacanya.
"Heh! Ndu, di baca pea"tegur Ragil menimpuk bahu Pandu dengan lembaran kertas
"Males banget sumpah"ujar Pandu mengusap wajahnya pias
"Ntar kalo disuruh bikin ringkasan, gue nggak ikutan ye, salah sendiri nggak mau dibaca"sinis Ragil kembali fokus dengan tumpukan buku dihadapannya
Pandu menghembuskan nafas gusarnya, bukanya menuruti ucapan Ragil, Pandu malah menidurkan kepalanya diatas meja, menikmati dinginnya AC perpustakaan.
Ingatannya jatuh pada gadis itu, gadis dengan postur tubuh yang lebih kecil darinya. Gadis yang membawa ingatannya pada enam tahun silam.
Jika diingat ingat lagi, Pandu hampir tak menyangka.
Banyak sekali kejutan indah di hidupnya
Ia ingat betul, bagaimana wajah Ririn yang begitu takut menatap Pandu. Bagaimana tatapan teduh gadis itu membawa perasaanya jauh lebih hangat.
Jika boleh, Pandu akan memeluk Ririn tak sedikitpun membiarkan gadis itu lepas dari pelukannya.
Ia begitu merindukan enam tahun silam itu. Enam tahun yang membuat jiwanya mati meradang. Enam tahun yang begitu menyiksa. Boleh kah Pandu egois?
Ia sempat terkejut saat mendengar suara tawa Ririn, bagaimana bisa? Ririn ke perpustakaan
"Lo aja deh yang masuk"kata Ririn mendorong gadis yang ada di depannya
Pandu dengan penuh semangat langsung mengangkat kepalanya, mencari sumber suara.
Ia menangkap gadis dengan rambut di kuncir kuda berdiri di depan pintu perpus. Mata polos gadis itu tak sengaja bertatapan langsung dengannya.
Pandu terkekeh, sampai tak menyadari bahwa Ragil dan Iqbaal sedari tadi melihat gerak geriknya
"Bal liat tuh, temen lo"sindir Ragil
"Bukan temen gue sorry"kilah Iqbaal mendengus kesal
"Gak gentle banget bang, samperin sono"ujar Ragil menyikut lengannya
Pandu menatap Ragil jengkel, ia tidak suka di gerakkan "Diem deh, terserah gue mau samperin apa kagak"
Ragil menghembuskan nafasnya pasrah "Terserah lo Ndu, masalahnya lo tuh bego kalo soal cewek"
Pandu mencibir "Iya dah si paling pro soal cewek mah"
Ragil berdecak jengkel "Satu pondok indah pun tau Pandu kalo lo bego soal beginian"
"Bukan satu pondok indah doang, satu Jakarta tau"tambah Pandu dengan ogah ogahan pemuda itu bangun dari duduknya
Sementara Ragil dan Iqbaal menatap satu sama lain, hingga keduanya menaikkan bahunya sambil geleng geleng kepala, heran sekali.
***
Bima menaikkan lengan kemeja abu-abu miliknya. Dengan senyum jahil, pria itu mencolek lengan Ririn. Hal itu tentu saja membuat Ririn menoleh dengan cepat, menyadari sang kakak akan mengganggunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TENTANG RINDU
Teen FictionHidupnya kelam tak beraturan satu sisi yang menimbulkan kekacauan dan kehancuran. Jatuh, membuat seluruh isi hatinya mati rasa hingga tak ada yang berani hanya untuk sekedar berkunjung. Bahkan ia pun sudah bertekad untuk menutupnya Namun tekadnya hi...
