||CHAPTER 12 LUKA LAMA||

86 17 7
                                        

Putar Sing My Song-Koo Keon Byul


Pandu mengangkat kepalanya terkejut, melihat Ririn berdiri dengan tangan membawa plastik putih berisi belanjaan gadis itu tadi, Ririn mengerjap pelan. Sedari tadi tidak ada yang membuka suara kecuali bunyi rusuh kendaraan karena mereka sedang berada di pinggir jalan.

"Kenapa?"tanya Pandu memecah keheningan

"Makasih"ujarnya tersenyum

"For?"tanya Pandu sengaja

"Udah di bayarin"Ririn mengusap tengkuk nya pelan

"Iya"ujar Pandu.

Pemuda itu berjalan meninggalkan Ririn yang sempat ingin bertanya lebih jelas. Dia pergi melangkah begitu saja menuju mobil.

Ririn yang melihat itu tertohok begitu saja. Harapan untuk mengenal lebih jauh Pandu, kembali ia urungkan. Tujuan Ririn ingin mengenal lebih dalam pemuda itu karena menurutnya sifat nya aneh perilaku sorot mata ucapanya itu seperti adegan ralat hanya drama

Mengapa disaat saat seperti ini Ririn membutuhkan Pandu, dia ingin bertanya mengapa kenal Bima? Mengapa kenal Arif. Tapi jika pemuda itu merasa tidak nyaman baiklah, Ririn mengalah. Bukankah Ririn yang menginginkan pemuda itu menjauhinya? Ah, Ririn sampai lupa akan hal itu. Dia bodoh dalam mengambil tindakan

"Gue pengin nanya nanya masa lalu lo, bukan kah lo orang yang sama? Yang dengan berani ninggalin sahabat gue di taman sendirian?"batin Ririn lirih

Pemuda berjaket denim itu melangkah memasuki mobil, keadaan ibunya bagaimana?
Dari pada berlama lama. Akhirnya Pandu memanaskan mesin mobil dan selanjutnya mobil fortuner milik pemuda itu membelah jalan raya.

Dia meninggalkan Ririn sendirian bukan tanpa alasan melainkan ada alasan yang tidak bisa di gugat oleh siapapun.

Sedangkan Ririn sekarang berdiri dengan tangan membawa belanjaan banyak.

"Arif lo ngeselin banget sumpah!"umpatnya mengeluarkan unek unek

"Aduh gimana sih, mana nggak ada angkot lagi"ujarnya sembari menengok ke kanan dan ke kiri berharap ada kendaraan umum melintas

Gadis itu putus asa, hingga pada akhirnya sebuah mobil fortuner berhenti di depanya, rasa penasanya mulai menggebu gebu, namun ia kembali mengurungkan rasa penasaranya di karenakan orang tersebut keluar dari mobil fortuner itu. Dia bukan Pandu, benar dia menag bukan Pandu. Namun dia adalah Iqbaal.

Alis Iqbaal tertaut melihat Ririn yang tanpa dosa menatap polos ke arahnya.

"Lo?!"tanya seorang membuat Ririn mengandarkan pandanganya

"Eh kak Disa"sapa nya ramah

"Lo ngapain di sini?"tanya Disa langsung pada intinya

Iqbaal yang melihat itu memilih menghembuskan nafas

"Dis. Diem dulu aku mau bicara"pinta Iqbaal tatalan matanya tak main main

"Iya iya"ujar Disa mengalah

"Lo yang rumahnya deket Bima?"rasa penasaran Iqbaal mulai membara

"Hah?"tanya Ririn cengo

"Ck. Lo rumahnya deket Bima kan?"Iqbaal berdecak

"Bima kakak gue!"bela Ririn melotot

"Aksara Bima Sakti?"Iqbaal menatapnya tak percaya

"Lo adeknya bang Bima?"tanya Disa sama tak percaya nya

"Iya kak"Ririn menghembuskan nafas mencoba sabar

"Kak Iqbaal juga temenya kak Bima?"Ririn penasaran

TENTANG RINDUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang