||CHAPTER 10 TAK BERATURAN||

80 20 26
                                        

Baca nya jangan buru buru Mbak sis!

Silimit mimbici

Diamnya tak membisu, langkahnya sering terburu buru ya dia seperti kupu dan dia tak lain dan tak bukan adalah Pandu. Pandu menegakan tubuh menyugar rambut nya serta merapikan. Pandu memang pemuda yang terbilang cukup unik, nyata dia memang aneh, perihal tentang cinta pertamanya menjadikan Pandu menjadi pribadi yang begitu bertekad untuk tidak membuka hatinya untuk siapapun. Bukan tanpa alasan namun entahlah belum ada yang pas dengan kepribadianya.

Pandu melihat seksama wajahnya di kaca spion motornya. Tampan dia memang tampan, akhir akhir ini Pandu sering memakai kacamata, tapi bukan kaca mata untuk pengobatan melainkan hanya kacamata untuk gaya gaya saja. Semenjak perkara yang terjadi di kantin pada kemarin hari, dirinya tidak dapat berfikir lebih jauh mengenai sebab akibat terjadinya sebuah perkelahian.

Pandu melangkah gontai menuju teras rumahnya. Melihat Tiara sedang tersenyum menyambut kehadiranya justru dia bukanya senang tapi yang ada malah dia merasa heran. Bukan hanya Tiara sang ibunda yang kini menyambut kehadiranya. Rizal pun sama. Pria itu hanya duduk di teras dengan secangkir kopi dan matanya fokus membaca majalah. Setiap kali teringat bagaimana Tiara yang dulu, membuat niat matang Pandu ragu begitu saja. Dia takut akan terjadi apa lagi nanti.

"Ndu kamu sudah pulang?"tanya Tiara tersenyum

"Udah"jawab nya pendek langsung melangkah tanpa berniat berhenti

"Pah! Pandu udah pulang!"Tiara memperingatkan Rizal. Rizal tersentak kaget begitu melihat Pandu berjalan melewatinya tanpa menyapanya terlebih dahulu

"Pandu masuk"izinya terdengar malas

"Papah mau ngomong sama kamu Ndu.."suara rendah

"Apa?"sahutnya malas menolehkan kepala

"Sini!"Tiara menyuruhnya untuk mendekat. Pandu pasrah entah mengapa

"Kamu sekarang gitu sama Papah? Motor kamu yang merah kemana?"Rizal bertanya lebih lanjut.

"Jual"jawab Pandu singkat

"Buat apa? Apa uang kiriman Papah perbulan kurang banyak? Atau kamu nggak di kasih uang sama Mamah?"tanya Rizal penasaran dengan nada cukup sinis

"Aku ngasih uang 10 juta perbulan Mas!"bela Tiara merasa dirinya di tuduh secara tidak langsung

"Lalu kenapa motor kamu di jual?"Rizal mengangkat kedua alisnya tinggi tinggi

"Pandu butuh uang"jawab Pandu terlalu santai

"Papah tanya sekali lagi. Apa uang 20 juta kurang banyak?!"tanya Rizal suaranya lepas kontrol

Pandu menghela nafasnya perlahan batinya sudah mengatakan dia akan menemukan keluarga yang dapat di sebuh kelaurga. Namun realitanya tidak. Bukan arti keluarga yang dia peroleh namun masalah dana saja ribut. Apalagi melihat seorang Ayah kandung nya sendiri membentak ups maaf bukan membentak lebih tepatnya berbicara dengan suara lantang dan keras. Rasanya Pandu ingin mengeluarkan semua unek unek nya, menceritakan semua kejadian yang menimpanya kepada orang lain sayangnya hanya sahabat sahabatnya yang tau akan hal itu.

"Banyak, tapi masih kurang"Pandu berkata dengan mudahnya

"Maksud kamu?"tanya Tiara tidak mengerti

"Apa Mamah Papah tau? Kehidupan pertemanan Pandu enggak kan? makanya nggak usah marah marah. Selagi itu nggak nguras banyak uang Mamah Papah kenapa harus di permasalahin?"Pandu mengatakanya dengan hati yang tentu saja terasa nyeri.

TENTANG RINDUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang