||CHAPTER 25 JADI, DIA SIAPA?||

50 7 1
                                        

Pandu merebut paksa LKS ditangan Ragil, Ragil tak terima akan hal itu. Cowok tinggi itu mengaduh kesal, dengan keadaan gugup ia membuka LKS Iqbaal dan segera menyalin jawaban.
Sementara Pandu sibuk menyingkirkan tangan Ragil yang berusaha menutupi jawaban milik Iqbaal

Pandu berdecak kesal, cowok itu memilih duduk dan tidak peduli dengan PR nya "bodoamat lah di hukum ya di hukum kaga peduli gue"cerocosnya kesal

Ragil menoleh, lantas tertawa receh melihat dengan jelas raut kesal Pandu
"Makanya di kerjain di rumah, di rumah ngapain aja lo Ndu? Gitaran main game? Ckck"Pandu melotot tak terima

Cowok itu menggulung LKS miliknya dan melemparkanya kearah Ragil. Tepat sekali LKS nya jatuh mengenai kepala Ragil saat itu juga Ragil tertawa terpingkal

"Ngaca ya anjing. Emang lo ngerjain tugasnya?"sambar Pandu kesal bukan main

"Iya deh mas Pandu yang ganteng akumah apaaa"kata Ragil sempat sempatnya bercanda padahal dirinya disibukan dengan catatan yang belum selesai

Bel terdengar nyaring berbunyi, guru bahasa Indonesia masuk tanpa terlambat. Pak Hanafi namanya, beliau terkenal galak dan sangat tegas. Bahkan jarang ada yang membantah ucapan beliau. Semetara Pandu? Ia tidak meneyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan Pak Hanafi.

"Selamat pagi anak anak"

"Pagi pak"

Ragil berbisik pelan "mampus lo anjing"kekehnya meledek

Pandu menimpali dengan santai "di hukum doang kecil"katanya jadi meremehkan

Ragil tak peduli, cowok itu hanya menanggapi dengan senyum singkatnya. Seusai itu, Pak Hanafi menuliskan beberapa rencana yang akan di lakukan hari ini beberapa rencana diantara lain sebagai berikut, yang tentu di tulis di papan tulis oleh pak Hanafi

1. Kumpulkan tugas yang bapak beri minggu lalu di depan

Hanya itu, tetapi yang lain segera berjalan kedepan dan mengumpulkan buku tugas mereka masing-masing. Termasuk Ragil, cowok itu berjalan dengan santai menaruh bukunya di meja depan. Kemudian kembali ke tempat duduk masing-masing. Berbeda dengan Pandu yang malah melipat kedua tanganya di depan dada santai

Setelah di kumpulkan, pak Hanafi mengecek satu persatu untuk memastikan semua mengumpulkan atau tidak. Pria itu menyernyitkan dahi, pandangan matanya fokus mengarah ke Pandu. Pandu kali ini paham dengan maksud tersebut

"Steven kenapa kamu tidak mengumpulkan?"tanya pak Hanafi semua mata mengarah ke Pandu yang masih santai di tempatnya

Pandu menghembuskan nafasnya pelan, mengangkat tangan, meminta izin untuk berbicara "ketinggalan pak"ujarnya beralasan

Pak Hanafi melepaskan kacamata, matanya menatap tajam Pandu.
"Maju kamu!"

Pandu pasrah, kini ia maju pandangan teman temanya tak lepas darinya. Seperti Pandu telah menyuri dan merampok kemudian tertangkap basah, padahal hanya tidak mengerjakan PR saja

"Kenapa sampe ketinggalan?"tanya pak Hanafi dengan suara tegasnya

Pandu yang berdiri kaku di depan papan tulis hanya menunduk kemudian menjawabnya "ya ketinggalan pak namanya juga manusia tempat salah dan do-"

"Saya nggak nyuruh kamu bicara panjang lebar nggak jelas begini. Saya nanya gimana sampe ketinggalan!"suara pak Hanafi yang keras dan tegas seperti orang sedang membentak padahal tidak

TENTANG RINDUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang