Hidupnya kelam tak beraturan satu sisi yang menimbulkan kekacauan dan kehancuran. Jatuh, membuat seluruh isi hatinya mati rasa hingga tak ada yang berani hanya untuk sekedar berkunjung. Bahkan ia pun sudah bertekad untuk menutupnya
Namun tekadnya hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mau ngucapin makasih aja yang udah baca cerita gue hehe semoga bahagia.
Ude bersyukur belom? Gaboleh insecure:)
Pandu melepaskan tas membuka pintu dan menemukan Ragil yang asik dengan kegiatanya bermain ponsel. Pemuda itu menghembuskan nafas pelan,mencoba sabar. Di lepaskanya jaket denim itu membuangnya asal.
"Kamu ini berdosa banget"sahut Ragil ketika jaket Pandu mengenai wajahnya
Pandu hanya menatapnya malas. Pemuda itu tak banyak bicara, mengusap wajahnya gusar merebahkan tubuh lelahnya di samping Ragil. Ragil yang cepat tanggap hanya menangkap sebagian apa yang Pandu rasakan, singkatnya Ragil mengambil keputusan sendiri.
"Napa lu?"tanya Ragil yang tak henti
"Bangsat kan"umpat Pandu mengacak rambutnya
"Napa sih?"
"Gue pulang sama Sela tadi"Ragil yang semula hanya diam kini bangun dari rebahanya. Menatap Pandu bingung
Pandu yang mengerti maksud tatapan itu mengangguk mantap. Pandu mengehembuskan nafasnya pelan mencoba mengatur diri agar tidak berbuat lebih di hadapan Ragil. "Harus banget ya Gil? hidup gue kaya gini?"tanyanya lirih
"Lo yang bego Ndu"kata Ragil sangkin gemasnya menggeram pelan
"Lo nyalain gue? Gue udah ngehindar tapi gue nggak bisa"ujar Pandu dengan raut wajah jujurnya
"Dahlah bego sih lo"ujar Ragil kesal mendangkan kaki
Pandu mengumpat tanpa suara. Menelan salivanya Ragil yang dengan tak sadar memasuki kamar mandi. Menyalakan kran.
Pandu menerawang lurus, tanganya ia tempelkan pada dada sangkin memburu nafasnya dadanya pun jadi sesak, apalagi detak jantungnya yang tak terkendali, keringat dingin yang menetes berkali kali, membuat Pandu takut sendiri. Pandu mencoba duduk. Menyenderkan punggung tegapnya ke dingding
"Gue kenapa ya?"tanyanya bingung ••••
Ririn menoleh ketika Arif menepuk bahunya walau pelan tetap saja baginya tepukan itu adalah pertanda bahwa Arif tak ingin basa basi. Ririn mengangkat alis tinggi "kenapa sih?"
"Mely suka sama gue"jawab Arif spontan
Ririn membola menelan susah payah salivanya, "Serius lo?? Terus gue? Gue salah dong sama dia!"katanya dengan mimik wajah paniknya