20. Murang yang Tersulut

269 39 10
                                        

KESUNGGUHAN Askara mengikuti serangkaian metode terapinya dalam tiga bulan terakhir ini ditunjukkan melalui prognosis yang cukup signifikan. Semua itu pun didukung oleh semangat Askara yang bertekad kuat agar bisa berjalan kembali.

Askara dapat merasakan manfaat terapi robotik lokomat yang menempatkan penggunanya seperti berjalan di atas treadmill beserta bantuan penyangga. Hasilnya dalam sepekan ini, ia sudah mulai belajar menggunakan walker.

Tidak hanya mengandalkan terapi di tempat rehabilitasi, Askara yang sedang semangat-semangatnya ingin segera sembuh itu pula harus menjajal berlatih mandiri di rumah. Kendati masih harus jatuh bangun, setidaknya Askara tahu dirinya yang sekarang sudah memiliki tujuan baru. Ya, sesuai janjinya untuk melindungi Ageng.

Askara mulai menapakkan salah satu kakinya diikuti kaki lainnya. Bertumpu pada armrest kursi roda, perlahan Askara mulai mengangkat tubuhhya dari dudukan. Namun, tidak lebih dari sedetik, tubuh yang sempat gagal ditopang oleh kedua kakinya itu nyaris goyah ke samping.

Tidak! Askara harus bisa. Sesulit apa pun, jangan sampai ada kata menyerah. Tangannya menggerapai lemari di dekatnya yang ia jadikan pegangan. Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima. Askara mampu menahan tubuhnya tetap berdiri hingga lima detik.

Tahap berikutnya, ia harus mencoba melangkah. Kurang dari dua meter di depannya, menanti Raki yang tengah duduk tegak sambil mengibas-ngibaskan ekor panjangnya. Raki mengeong seolah mengerti untuk tetap di tempat dan menunggu tuannya berjalan tanpa kursi roda.

Askara tahu bahwa untuk menyeret satu kakinya saja rasanya seperti ada rantai berat yang membelenggunya. Sempat beberapa kali nyaris terjatuh, tetapi setapak demi setapak diselesaikan Askara hingga semakin mendekati Raki.

Nyaris saja Askara akan kembali jatuh ketika tangannya sudah lebih dulu mencapai permukaan meja konsol. Upaya berjalan yang bahkan tidak sampai dua meter itu saja sudah sebegitu menguras tenaganya. Namun, Askara sangat puas ketika berhasil sampai dalam target finisnya. Raki yang kembali mengeong pun seolah ikut senang sampai melakukan aksi berguling-gulingnya di bawah kaki Askara.

Tepat di atas meja konsol, pandangan Askara tertumbuk pada pigura kayu yang memuat foto keluarga kecilnya. Askara meraih pigura itu. Terfokus hanya meraba potret ayah dan ibunya yang terabadikan sewaktu mereka menggelar acara barbeku di belakang rumah.

"Pa ... Ma ... Aska udah bisa jalan," gumamnya, seolah tengah mengajak bicara kedua orang tuanya yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Andai ayah dan ibunya juga bisa melihat, pasti mereka akan ikut senang.

Askara meletakkan pigura itu di tempat semula. Sebaiknya sekarang Askara harus kembali ke kursi roda sebelum ada orang yang melihatnya sudah mulai bisa berjalan. Untuk saat ini, Askara hanya tidak mau gegabah mengungkap tahap fisioterapinya hingga ia benar-benar yakin dengan hasil yang diinginkannya.

Bagas selesai dari kantornya lebih cepat. Tinjauan ke cabang Ungaran pun sampai rela dibatalkan. Mengingat sopir yang baru bekerja seumur jagung itu sudah dipecatnya, Bagas mengalihkan perintahnya pada Alfin supaya mengantar pulang ke rumah.

Bagas keluar dari mobil tanpa menunggu Alfin membukakan pintunya. Laki-laki dengan wajah merah padam itu melangkah tak sabaran ke dalam rumah. Kedua tangan yang senantiasa terkepal seperti bisa menghancurkan apa-apa saja yang menghalangi jalannya.

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang