27. Kawan Lama

274 42 17
                                        

ALANO LAZUARDI, menempuh jurusan Seni Rupa Murni di Universitas Mimar Sinan, Turki. Bagi Askara, sosok Alan sudah melekat selayak sahabat baiknya sejak sama-sama kuliah di Turki. Alan jugalah kawan kolaborasinya dalam proyek mural Sambara Stable.

Sebuah pelukan akrab diluapkan Alan kepada sahabat yang baru bisa ditemuinya kembali. Askara pun tak pernah mengira setelah sekian tahun berpisah, Alan bisa berada di hadapannya sebagai pembeli awanama itu.

Mereka duduk berhadapan dengan dipisahkan meja yang di atasnya sudah tersaji dua gelas teh lemon. Di kepala keduanya sudah banyak sekali pertanyaan yang turut mewarnai obrolan mereka.

"Jadi, kamu tahu itu lukisanku?" tanya Askara masih penasaran. Ia hanya merasa pertemuan ini seolah sudah direncanakan Alan.

"Mana mungkin aku nggak mengenali ciri khas melukis sahabatku sendiri. Biarpun kamu nggak mencantumkan namamu di lukisan itu, tapi aku pasti akan menemukan tanda Sirius yang selalu kamu sembunyikan di antara goresan tinta seorang Cahaya Malam." Alan mengerlingkan sebelah mata sembari membuat pose finger gun yang diarahkannya pada Askara.

Askara tersenyum kecil. Benar-benar Alan tidak berubah dari dulu. "Terus makanya itu kamu jauh-jauh datang dari Surabaya?"

Alan menghela napas sejenak. Rautnya berubah serius ketika mencondongkan bahunya ke depan. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi mencari jawab atas tanda tanya besar setelah empat tahun kehilangan sahabatnya itu. "Ra, aku akan jelasin gimana aku bisa ada di sini, tapi sebelum itu ... kamu mesti jawab dulu pertanyaanku. Apa yang terjadi sama kamu selama ini? Kita udah sepakat bakal bikin project baru sehabis wisuda. Tapi, kenapa kamu menghilang gitu aja? Bahkan kamu nggak datang di acara wisudamu sendiri."

Duduk persis berhadap-hadapan dengan Alan, menyadarkan Askara bahwa caranya menjauh pasti sudah menorehkan kekecewaan pada kawan lamanya itu. "Aku benar-benar minta maaf karena nggak bisa nepatin janji kita. Aku nggak tahu mesti cerita dari mana, Lan. Dalam sekejap, kejadian bertubi-tubi itu udah mengubah segalanya."

Sebelah telapak tangan Alan melewati tengah meja demi mendaratkan tepukan menguatkannya pada bahu Askara. "Kamu bisa ceritain pelan-pelan, oke? Aku sahabatmu. Percaya padaku."

Askara membasahi bibirnya yang kering. Dicecar pertanyaan Alan, mungkin sudah saatnya bagi Askara menghentikan pelariannya. "Kamu tahu, kan, kalau sejak awal papaku nggak pernah setuju aku masuk ke jurusan seni? Saat tiba hari kelulusan itu, tadinya aku nggak mau banyak berharap, tapi tetap aja aku nggak bisa bohong. Saat kamu bilang orang tuamu bakalan datang, aku juga mau punya momen bersama papaku di acara penting dalam hidupku itu."

Alan mengangguk-angguk. Tentu saja ia masih ingat seminggu menjelang wisuda, Askara berkemas dari asrama dengan tiket pesawat yang sudah dipesannya. "Ya, itulah kenapa kamu buru-buru balik ke Indonesia buat mohon langsung ke papamu supaya datang mendampingi wisudamu nanti, kan?"

Askara mengiyakan. Alan masih setia menunggu Askara yang tampak membutuhkan waktu untuk melanjutkan ceritanya.

"Masalahnya, aku justru bertengkar sama papaku. Lukisanku berjudul Rahasia yang pernah aku daftarin ternyata berhasil ditayangkan ke ekshibisi dan masuk auction house. Di antara banyak peserta, ada perwakilan dari seorang pengusaha tanpa nama yang menang penawaran tertinggi. Pengusaha itu ... papaku sendiri. Demi membuktikan kalau Cahaya Malam itu aku, papaku sengaja membeli lukisanku. Kupikir aku akan senang, tapi tujuan utama papaku membeli lukisan itu ternyata hanya untuk menghancurkannya. Papaku membakar lukisan yang kubuat dengan sungguh-sungguh itu sampai nggak bersisa. Di situ pula menegaskan kalau sampai kapan pun papaku nggak akan pernah mengakui kemampuanku."

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang