35. Tidak Ada yang Kebetulan

185 16 7
                                        

Pontianak, Kalimantan Barat

Dua tahun kemudian ....

Resepsi pernikahan tengah dilangsungkan di sebuah balai riung hotel bintang lima tersebut. Hilir mudik para tamu undangan masih terus berdatangan. Karangan bunga berderet-deret di sepanjang sisi selasar. Berisikan ucapan selamat pernikahan atas nama Alano Lazuardi, laki-laki asal Surabaya yang telah mempersunting gadis bernama Anisah Mahya Aafiyat dari suku Melayu.

Beruntung Askara masih bisa tepat waktu tiba di lokasi acara pernikahan sahabatnya tersebut, kendati jadwal pesawatnya tadi sempat mengalami penundaan jadwal keberangkatan. Di dalam balai riung, Askara melihat Alan beserta sang istri yang mengenakan pakaian adat pernikahan mereka masih sibuk menyalami para tamu undangan. Sembari menunggu antrean lebih lengang, Askara yang tampil menawan melalui perpaduan kaus turtleneck hitam serta blazer carafe itu memutuskan pergi ke buffet minuman terlebih dahulu.

Askara meraih salah satu gelas goblet berisi minuman berwarna merah ketika seseorang tiba-tiba menyenggol bahunya dari samping. Praktis saja minuman itu menumpahi ujung bawah lengan pakaian luarnya. Seorang pemuda yang mengaku kakinya tak sengaja tersandung lipatan karpet mengungkapkan banyak-banyak permintaan maafnya.

"Saya minta maaf, Mas. Aduh, baju Mas jadi basah." Tanpa menunggu aba-aba, si penabrak itu pun berinisiatif mengeluarkan saputangannya guna menyeka bekas tumpahan minuman, meskipun noda yang ditinggalkan tak sepenuhnya bisa hilang.

"Iya, nggak apa-apa. Nanti bisa saya bersihkan sendiri," sahut Askara sopan.

"Lho, kalau nggak salah masnya ini, kan ...." Si pemuda berkacamata yang setia dengan gaya rambut jambulnya itu mulai merasakan sebuah dejavu. "Mas yang di parkiran waktu itu, kan? Itu, lho, yang nggak sengaja juga kita pernah tabrakan. Udah cukup lama, ya, Mas. Tapi, saya masih ingat banget sama Mas. Bisa ketemu lagi kita, Mas."

Ah, ya, Askara ingat pertemuan mereka sebelumnya. Mana mungkin pula ia asing dengan wajah laki-laki yang tengah tertawa riang tersebut. "Senang bertemu kembali." Sekenanya saja Askara membalas.

"Omong-omong, kita belum kenalan. Perkenalkan, nama saya Agus Susanto. Daripada dipanggil pakai nama depan, orang-orang biasa panggil saya Susanto, karena dari papah sampai saudara-saudara saya juga punya nama Agus. Agus Suprapto, nama papah saya. Agus Sugiyanto itu adik pertama saya. Terus kalau adik kedua saya namanya Agus Suryanto. Cuma kadang nama saya ini bikin saya galau juga, sih, Mas. Bayangin, Mas, adik pertama saya bisa disingkat pakai panggilan Sugi. Adik kedua saya disingkat jadi Surya. Lah, masa' saya mesti dipanggil Susan? Untung gedenya saya nggak jadi dokter. Bisa-bisa jadi lagu anak, Susan Susan Susan, besok gede mau jadi apa?"

Sepertinya Askara juga perlu mencatat satu sifat Susanto yang punya mulut super comel padahal tidak ada yang bertanya. Biarpun agak garing, tetapi Askara hampir tidak mencegah senyum gelinya ketika terngiang lagu anak zaman dulu yang terkenal dengan boneka cerewetnya itu.

"Saya Askara," ujar Askara kemudian sembari menyambut jabatan perkenalan mereka.

"Maaf, nih, kalau saya orangnya rada bawel. Yah, biar akrab aja sama banyak orang."

Nyadar juga, batin Askara.

"Tunggu, ini Mas Askara datang sama siapa?" Susanto sok celingak-celinguk mencari orang yang mungkin datang bersama Askara.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 04, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang