MASIH lima belas menit lagi, tetapi Askara sudah tiba di lokasi pertemuannya dengan Topan. Dua minggu lalu sejak Topan meninggalkan kartu namanya, Askara baru memantapkan niat untuk menyetujui wawancara dengan staf redaksi itu.
Coffee shop dekat rumah sakit tempat Askara kembali menjalani jadwal fisioterapinya ditetapkan sebagai tempat pertemuan mereka. Bertepatan hari ini pula Askara menegaskan sekali lagi jawabannya atas permintaan Profesor Lesmono tempo lalu.
Keputusannya tetap sama. Ia tidak bisa ikut Profesor Lesmono tinggal di Jepang. Ia tidak bisa hidup berjauhan dengan Bagas. Katakanlah, ia naif. Namun, pergi juga tidak akan menyelesaikan masalah hubungannya yang renggang dengan Bagas. Pun, setidaknya ia ingin melihat Bagas menikah dengan orang yang dicintainya.
Membahas kembali rencana pernikahan Bagas dan Irena, sampai detik ini Askara masih terngiang dengan pengakuan gadis yang dijodohkan dengan Bagas itu. Mana mungkin Askara sanggup mengatakan pada Bagas bahwa ternyata Irena tidak pernah mencintainya? Hati Bagas pasti akan sangat terpukul, terlebih Askara tidak mau dirinya dianggap sebagai orang ketiga.
Jelas masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Bagaimanapun Askara harus menemui Irena lagi agar menarik kata-katanya itu. Maka, Askara juga akan menganggap kejadian di kamar waktu itu tidak pernah ada.
"Maaf, saya terlambat. Apa Pak Askara sudah menunggu lama?"
Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan wajah datarnya, Askara menyahut, "Tidak, saya memang sengaja tiba lebih awal." Ia lalu mempersilakan Topan duduk serta memberinya kesempatan mengajukan pesanan kepada pramusaji coffee shop.
"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena Pak Askara sudah bersedia menghubungi saya," kata Topan semringah.
"Saya hanya ingin menghargai tamu yang sudah menyempatkan jauh-jauh datang ke Sambara Stable demi menemui saya. Justru saya yang berterima kasih karena hari ini tepat dua minggu berlalu sejak Anda meminta kesediaan saya sebagai narasumber. Saya hampir ragu bahwa tanggal pertemuan ini mungkin sudah kadaluarsa."
"Pak Askara ini bisa bercanda juga rupanya." Topan tak mencegah tawanya membahana. Sadar hanya dirinya yang tertawa sendirian, laki-laki berkaus tudung itu pun segera menata sikap formalnya kembali sambil berdeham untuk menjernihkan suara. "Saya sudah katakan bahwa Pak Askara bisa menghubungi saya kapan pun Pak Askara siap. Artikel mengenai Sambara Stable masih menjadi prioritas dalam perencanaan kami. Kami tidak ingin mengambil informasi secara asal-asalan, kecuali dari pemiliknya secara langsung. Maka, dari itu, entah mau hari ini, bulan depan, bahkan mungkin tahun depan, kami akan bersedia menunggu."
Kedua siku Askara yang sedari tadi disandarkan pada armrest kursi roda berpindah menumpu pada pinggiran permukaan meja. "Baik, sebelum kita mulai, bagaimana kalau kita berbicara secara lebih informal saja? Saya rasa kita seumuran. Jadi, kamu cukup panggil aku Askara."
"Ya, sejujurnya aku juga lebih suka kita berbicara santai. Sepakat, aku panggil kamu Askara. Kamu juga bisa panggil aku Topan," ujar Topan sambil menyugar poni curtain pada gaya rambut yang memadukan potongan shaggy dan mullet-nya.
Selanjutnya sesi tanya jawab berlangsung sebagaimana mestinya. Topan mengajukan beberapa pertanyaan umum terkait lokasi wisata yang sudah dibangun lebih dari satu dekade tersebut. Askara menjawab dengan baik berdasarkan sejarah didirikannya Sambara Stable yang masih berada di bawah naungan Wardaya Corporation.
Pertanyaan bergulir pada pesona beragam karya mural yang berhasil mencatatkan nama Sambara Stable ke dalam urutan pertama hasil penelusuran jagat dunia maya. Salah satu yang paling terkenal adalah mural sayap malaikat.
"Aku pernah baca artikel sebelumnya kalau mural-mural ikonik itu hasil kolaborasi dua orang mahasiswa Seni Rupa Murni asal Indonesia yang pernah kuliah di Universitas Mimar Sinan, Istanbul, Turki. Tapi, ada satu hal yang paling menarik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret
Romance[ON GOING] New Adult | Religi | Romantic Drama Ageng Candramaya, seorang penulis novel platform digital yang karyanya telah dibaca jutaan kali. Kehilangan ide untuk cerita terbaru, membuat Ageng menerima tawaran berlibur dari sepupunya dengan harapa...
