22. Pijar Kecil yang Redup

329 41 12
                                        

SEKARANG Askara tahu alasan perubahan sikap Bagas padanya. Ia juga bisa mengerti kenapa Bagas tidak datang di hari pemakaman ayah dan ibunya. Pasti sangat menyakitkan bagi Bagas melihat mereka, meskipun untuk yang terakhir kali sebelum terkubur dalam tanah.

Dari sisi orang tua Askara sendiri-terutama ibunya- tak pelak juga memikul pukulan berat usai terbongkar fakta takdir putra sulung mereka sudah meninggal. Membayangkan bagaimana ibunya membesarkan anak orang lain yang dikira anaknya sendiri. Mencoba memahami tujuan sang suami yang merahasiakan status Bagas karena mengkhawatirkan kondisi mentalnya.

Kini hanya Askara satu-satunya keturunan ayahnya yang masih hidup. Namun, Bagas sangat membenci keberadaannya. Lantas, jika pada kecelakaan empat tahun lalu itu sekalian saja membuat Askara pindah alam, apakah benar bisa mengobati luka hati Bagas?

"Den Askara, rotinya sudah simbok olesin pakai selai cokelat kesukaan Den Askara. Ayo, dimakan dulu," ujar Mbok Jum menggeser piring kecil di atas meja outdoor dari akar kayu itu.

Askara menuruti untuk mengambil sepotong roti isi selai tersebut dengan garpu kecil dan memakannya pelan. Taman topiari yang dinaungi cuaca cerah di hari bertanggal merah sedang coba dinikmati Askara.

Jujur, ia tidak yakin hatinya yang porak-poranda usai pertengkarannya dengan Bagas akan segera pulih hanya dengan mengikuti bujukan Mbok Jum supaya menghirup udara segar di luar. Namun, Askara tahu keadaannya juga tidak akan lebih baik jika ia masih saja mengunci diri di kamar seperti yang sudah-sudah.

"Mbok Jum nggak ikut makan juga?" tawar balik Askara ketika didapati Mbok Jum terus memerhatikannya.

"Ndak usah. Dimakan buat Den Askara saja." Mbok Jum yang duduk di kursi taman sedikit memaksakan senyum getir.

Mbok Jum sedih melihat wajah pucat yang masih mencetak memar bekas pukulan Bagas, alih-alih bertambahnya jejak baru pada mata sembap dan merah seperti kurang tidur itu pun tidak mampu membohongi penglihatan tua Mbok Jum.

Bersyukur pagi ini Askara mau diajaknya jalan-jalan ke luar. Sarapan roti yang disuguhkannya pun mau disentuh. Mbok Jum hanya takut perlakuan Bagas tempo hari tidak saja berimbas secara fisik, melainkan juga merusak kembali psikologis Askara seperti masa-masa terdahulu yang kerap histeris hingga berhasrat mengakhiri hidupnya sendiri.

"Den Askara harus kuat, ya?" Kalimat yang dicetuskan Mbok Jum lebih terdengar seperti permohonan.

Askara menoleh Mbok Jum yang tengah mengusap lembut bahunya. "Iya, saya kuat, Mbok Jum. Seseorang udah mengajarkan saya caranya tetap kuat." Sudut bibir kiri yang sebelumnya mendapat luka robek tak menghalangi sesuatu bernilai ibadah itu merekah di sana.

"Seseorang? Apa orang itu Nak Ageng?"

Askara tidak menjawab secara eksplisit, tetapi jatuh pandang laki-laki itu yang mengarah pada paviliun ART sudah meyakinkan Mbok Jum bahwa tebakannya benar.

"Den Askara kangen sama Nak Ageng?"

Askara salah tingkah. Mbok Jum tersenyum geli.

"Waktu Den Bagas pulang marah-marah, Nak Ageng sempat cerita ke simbok kalau di hari itu dia sudah dipecat. Simbok juga ndak tahu masalahnya apa sampai Nak Ageng kena imbasnya."

"Tapi, Mas Bagas belum tahu, kan, kalau Ageng itu sebenarnya ... perempuan?"

"Lho, Den Askara bisa tahu dari mana?"

"Saya nggak sengaja dengar pembicaraan Mbok Jum dan Ageng di taman ini."

"Jadi, Den Askara sudah tahu selama ini, tapi Den Askara diam saja?"

"Saya nggak tahu harus gimana, Mbok."

"Apa Den Askara mau bertemu Nak Ageng lagi? Saya dengar dia tinggal bersama sepupu perempuannya. Kebetulan juga sepupu Nak Ageng itu bekerja di W-Mart. Kalau mau, kita bisa tanya Pak Imron di mana mereka tinggal."

SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang